JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Harga minyak dunia kembali mengalami penurunan tajam pada perdagangan Rabu (5/11/2025) waktu setempat. Aksi jual panik yang melanda pasar uang global menyeret harga minyak mentah ke level terendah dalam dua bulan terakhir. Tekanan tersebut muncul seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi global dan penguatan dolar Amerika Serikat. Kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi, diperburuk oleh penguatan dolar AS serta laporan kenaikan persediaan minyak mentah di Amerika Serikat (AS), turut menekan harga. Melansir Reuters, harga minyak kontrak berjangka Brent turun 36 sen atau 0,56 persen ke level US$64,08 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot 40 sen atau 0,66 persen menjadi US$60,16 per barel. Kedua acuan harga itu memperpanjang tren penurunan dari perdagangan hari sebelumnya. Penurunan harga minyak terjadi seiring kejatuhan pasar saham global. Pasar saham Asia terbakar, menyusul penurunan tajam di Wall Street akibat kekhawatiran valuasi saham teknologi, terutama perusahaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI), dinilai terlalu tinggi. Sikap investor yang menghindari risiko (risk-off) mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang lainnya. "Minyak mentah diperdagangkan lebih rendah karena sentimen risiko berubah tajam negatif, mendorong dolar AS sebagai aset aman, dan keduanya membebani harga minyak," kata analis pasar IG, Tony Sycamore, dalam catatan riset. Selain itu, laporan American Petroleum Institute (API) turut memperparah tekanan harga. Menurut sumber pasar yang mengutip data API, stok minyak mentah AS naik 6,52 juta barel pada pekan terakhir bulan lalu. Kenaikan stok tersebut menandakan potensi melemahnya permintaan di konsumen terbesar dunia. Data perdagangan menunjukkan, harga minyak mentah Brent untuk kontrak Januari 2026 turun 2,3 persen menjadi sekitar 79,85 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) anjlok ke kisaran 75,40 dolar AS per barel. Ini merupakan level terendah sejak awal September lalu. Analis pasar energi menyebutkan, penurunan ini dipicu oleh aksi jual besar-besaran di pasar saham dan obligasi global, di mana investor beralih ke aset yang lebih aman seperti dolar AS dan emas. Penguatan dolar secara otomatis membuat harga minyak menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga menekan permintaan. Di sisi pasokan, faktor fundamental masih menjadi perhatian. Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya atau OPEC+ pada Minggu (2/11) lalu sepakat menaikkan produksi sebesar 137 ribu barel per hari mulai Desember. Aliansi produsen minyak itu juga memutuskan untuk menghentikan rencana peningkatan pasokan lebih lanjut pada kuartal I-2026. Namun, analis LSEG menilai jeda tersebut kecil kemungkinan dapat memberikan dukungan berarti bagi pergerakan harga pada November dan Desember. Meski begitu, kenaikan produksi OPEC bulan Oktober terlihat terbatas. Organisasi itu hanya menambah sekitar 30 ribu barel per hari dibanding bulan sebelumnya, karena penurunan output di Nigeria, Libya, dan Venezuela menahan kenaikan yang sebelumnya direncanakan dalam kesepakatan OPEC+. Selain faktor mata uang, kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi di Tiongkok dan Eropa turut membebani harga minyak. Data terbaru menunjukkan penurunan aktivitas manufaktur di kedua kawasan tersebut, yang memperkuat sentimen bahwa permintaan energi global akan melemah dalam waktu dekat. “Pasar saat ini tengah diguncang oleh kekhawatiran resesi global. Investor bereaksi dengan cepat untuk melepas aset berisiko, termasuk komoditas energi,” ujar analis senior Global Insight, Michael Carter, dikutip dari Reuters. Sementara itu, negara-negara anggota OPEC+ dikabarkan masih berkomitmen mempertahankan kebijakan produksi yang ada. Meski beberapa negara seperti Arab Saudi sempat mengisyaratkan kemungkinan pemangkasan produksi tambahan, hingga kini belum ada keputusan resmi. Ketidakpastian ini menambah tekanan terhadap harga minyak di pasar global. Menurut laporan bulanan OPEC, produksi minyak global pada Oktober 2025 mencapai 28,3 juta barel per hari. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, menandakan pasokan masih relatif melimpah dibanding permintaan yang stagnan. Beberapa analis memperkirakan harga minyak masih berpotensi melemah dalam jangka pendek, terutama jika kondisi pasar keuangan global belum stabil. Namun, jika OPEC+ mengambil langkah nyata untuk memangkas produksi, harga bisa kembali naik ke kisaran 85 dolar AS per barel. “Pasar saat ini sensitif terhadap sentimen makroekonomi. Setiap indikasi pemulihan permintaan atau langkah stabilisasi dari produsen besar bisa mengubah arah harga dengan cepat,” ungkap Carter. Dengan dinamika tersebut, pelaku pasar diimbau untuk tetap berhati-hati menghadapi fluktuasi harga minyak yang diprediksi masih akan berlanjut hingga akhir tahun. (Sumber : Disarikan dari berbagai sumber)