JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kinerja sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia mengalami perlambatan signifikan sepanjang tahun 2024. Berdasarkan laporan terbaru Bank Rakyat Indonesia (BRI), yang dihimpun dari survei terhadap 7.079 debitur UMKM di 33 provinsi, Indeks Bisnis UMKM pada kuartal IV-2024 tercatat di angka 102,1. Meskipun masih berada di atas level netral 100, posisi ini menjadi yang terendah dalam lima kuartal terakhir, menandakan ekspansi yang semakin melambat. Penurunan juga terjadi pada indeks ekspektasi bisnis UMKM tiga bulan mendatang, yang merosot dari 128,7 pada Q4-2023 menjadi 120,4 di Q4-2024. Ini menunjukkan pelaku UMKM semakin berhati-hati dalam memproyeksikan pertumbuhan bisnis ke depan. Penyebab utama dari tren perlambatan ini adalah melemahnya volume produksi dan penjualan. Indeks produksi/penjualan pada Q4-2024 berada di angka 95,7, sedikit membaik dari kuartal sebelumnya namun masih berada di zona kontraksi. Sektor makanan dan minuman (mamin), perdagangan eceran, serta industri kreatif disebut sebagai sektor yang paling terdampak akibat menurunnya daya beli konsumen dan naiknya harga bahan baku. Kondisi ini semakin menekan profitabilitas usaha. Indeks rentabilitas UMKM tercatat turun ke level 99,6, menandakan lemahnya omzet dan tekanan biaya operasional yang meningkat. Sementara itu, indeks likuiditas juga menurun ke angka 102,3, level terendah sejak awal pandemi di Q1-2020. Menghadapi tahun 2025, UMKM dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Namun, peluang tetap terbuka lebar bagi pelaku usaha yang mampu beradaptasi dan menerapkan strategi efisiensi. Beberapa langkah strategis yang dapat diambil pelaku UMKM antara lain: Meninjau ulang rantai pasokan untuk memperoleh bahan baku dengan harga lebih kompetitif. Mengoptimalkan kanal digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas dengan biaya lebih efisien. Diversifikasi produk dan layanan agar lebih tahan terhadap fluktuasi permintaan pasar. Dukungan dari pemerintah dan lembaga keuangan juga diharapkan terus hadir, baik dalam bentuk pembiayaan yang terjangkau maupun pendampingan bisnis. Dengan strategi yang tepat dan kolaborasi yang kuat, UMKM berpotensi bangkit dan kembali menjadi tulang punggung pemulihan ekonomi nasional pada 2025.