JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Nilai tukar rupiah menguat dan pengeluaran wisatawan asing meningkat pada Senin sebagai sinyal membaiknya kondisi ekonomi Indonesia. Rupiah ditutup menguat 25 poin atau 0,14% ke level Rp17.997 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp18.022, didorong meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menekan harga minyak dunia, serta membaiknya data manufaktur dan inflasi domestik. Di saat yang sama, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara pada kuartal II 2026 naik 7,2% secara tahunan menjadi US$1.285 per kunjungan meski lama tinggal mereka lebih singkat. Penguatan rupiah terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membatalkan rencana serangan militer skala besar terhadap Iran sehingga ketegangan di kawasan Timur Tengah mereda. Kondisi tersebut mendorong harga minyak global turun dan meningkatkan optimisme pasar. Di dalam negeri, sektor manufaktur Indonesia kembali berekspansi pada Juli setelah sempat mengalami kontraksi, sementara Indonesia mencatat deflasi bulanan sebesar 0,14% dengan inflasi tahunan berada di level 2,88%. Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan investor kini mengalihkan perhatian pada arah kebijakan Federal Reserve AS dan serangkaian data ketenagakerjaan Amerika Serikat, seperti JOLTS, ADP, klaim pengangguran mingguan, hingga laporan nonfarm payroll, yang dinilai akan menjadi petunjuk kebijakan suku bunga berikutnya. Sementara itu, BPS mencatat Indonesia menerima 1,39 juta kunjungan wisatawan asing pada Juni 2026 atau naik 0,32% dibanding Mei. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, jumlah kunjungan mencapai 7,45 juta atau meningkat 5,71% dibanding periode yang sama tahun lalu. Meski rata-rata lama menginap turun menjadi 10,30 malam, wisatawan justru mengeluarkan lebih banyak uang untuk akomodasi, makanan dan minuman, belanja suvenir, rekreasi, penyewaan kendaraan, serta penerbangan domestik. Malaysia masih menjadi penyumbang wisatawan asing terbesar, disusul Singapura dan Australia. Kombinasi penguatan rupiah, pulihnya sektor manufaktur, inflasi yang terkendali, serta meningkatnya belanja wisatawan asing menunjukkan kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia terus membaik, meski pelaku pasar masih mencermati perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat dan kondisi ekonomi global.