TOKYO - Pasar saham Tokyo mengalami tekanan kuat pada perdagangan Rabu (2/9). Indeks acuan Nikkei sempat melemah lebih dari 3 persen di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta kenaikan berkelanjutan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang. Pada penutupan perdagangan, indeks Nikkei Stock Average yang terdiri atas 225 saham terkoreksi 1.889,70 poin atau 2,85 persen dibandingkan posisi Selasa (1/9), sehingga berakhir di level 64.325,64. Sementara itu, indeks Topix yang mencerminkan pergerakan pasar yang lebih luas juga melemah 100,26 poin atau 2,40 persen menjadi 4.081,60. Di Prime Market, yang merupakan papan utama Bursa Tokyo, penurunan paling signifikan terjadi pada saham-saham sektor logam nonbesi, jasa, serta produk kaca dan keramik. Sentimen negatif turut dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun yang menjadi acuan. Imbal hasil tersebut sempat menyentuh 3,015 persen setelah sehari sebelumnya menembus level 3 persen, sekaligus menjadi posisi tertinggi sejak September 1996. Kenaikan imbal hasil obligasi tersebut memicu kekhawatiran investor dan mendorong tekanan jual di seluruh sektor yang tercatat di pasar saham Tokyo. Menurut para analis, pasar juga dibebani oleh memanasnya situasi di Timur Tengah. Kondisi tersebut mendorong harga kontrak berjangka minyak mentah acuan West Texas Intermediate (WTI) menembus level 90 dolar AS per barel (1 dolar AS = Rp17.727), sehingga menambah tekanan terhadap sentimen investor.