BEIJING - Tata kelola global saat ini menghadapi persoalan yang semakin kompleks. Meningkatnya proteksionisme, unilateralisme, dan politik kekuasaan turut menghambat upaya membangun kerja sama internasional yang diperlukan untuk menghadapi beragam tantangan dunia. Dalam kondisi tersebut, Presiden Tiongkok Xi Jinping mengajukan Inisiatif Tata Kelola Global (Global Governance Initiative/GGI) pada Pertemuan "Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Cooperation Organization/SCO) Plus" tahun lalu. Inisiatif itu menyerukan terciptanya sistem tata kelola global yang lebih adil dan setara. Pengalaman Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) dinilai dapat menjadi salah satu contoh penerapan kerja sama tersebut. Selama 25 tahun, SCO membuktikan bahwa negara-negara dengan sistem politik, jalur pembangunan, dan latar peradaban yang berbeda tetap dapat membangun kerja sama. Kerja sama tersebut berlandaskan "Semangat Shanghai", yang mengutamakan saling percaya, keuntungan bersama, kesetaraan, musyawarah, penghormatan terhadap keberagaman peradaban, serta upaya mencapai pembangunan bersama. Pengalaman SCO selama seperempat abad itu juga mencerminkan lima prinsip GGI, yaitu menghormati kesetaraan kedaulatan, menaati supremasi hukum internasional, menjalankan multilateralisme, mengutamakan kepentingan rakyat, serta menitikberatkan pelaksanaan tindakan nyata. Penerapan prinsip tersebut terlihat dari kerja sama SCO yang semakin berkembang dan terlembaga dalam berbagai bidang. Sejak awal, keamanan dan stabilitas kawasan menjadi bagian utama misi organisasi. Negara-negara anggota juga berkomitmen membangun hubungan bertetangga yang baik dan berkelanjutan, persahabatan, serta kerja sama berdasarkan kesetaraan, musyawarah, dan penghormatan terhadap keberagaman. Komitmen terhadap tindakan nyata dalam kerja sama multilateral turut ditunjukkan melalui pembentukan empat pusat baru yang bergerak di bidang keamanan. Dalam 25 tahun terakhir, kolaborasi negara-negara anggota SCO disebut telah membantu menggagalkan lebih dari 1.400 insiden yang berkaitan dengan terorisme dan ekstremisme. Selain itu, SCO telah menyelenggarakan lebih dari 40 latihan serta operasi antiterorisme bersama. Konsep keamanan yang diterapkan SCO tidak hanya berfokus pada aspek keamanan semata. Negara-negara anggotanya memahami bahwa terciptanya keamanan jangka panjang juga berkaitan erat dengan kepercayaan politik, pertumbuhan ekonomi, serta hubungan dan pertukaran antarmasyarakat. Orientasi terhadap pembangunan bersama juga terlihat melalui peluncuran tujuh platform kerja sama Tiongkok-SCO. Platform tersebut mencakup industri hijau, ekonomi digital, inovasi sains dan teknologi, energi, pendidikan tinggi, pendidikan vokasi dan teknis, serta kecerdasan buatan (AI). Kehadiran berbagai platform itu semakin memperkuat perhatian terhadap pembangunan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Kerja sama Sabuk dan Jalur Sutra berkualitas tinggi yang diikuti dengan penyelarasan strategi pembangunan antaranggotanya turut menciptakan perkembangan positif dalam aktivitas perdagangan. Berdasarkan perhitungan menggunakan data Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), total volume ekspor dan impor barang dari kesepuluh anggota SCO mencapai sekitar 8,88 triliun dolar AS (1 dolar AS = Rp17.762) pada 2025. Pembangunan berbagai proyek juga membantu mengubah konektivitas antarnegara menjadi manfaat yang dapat dirasakan secara langsung. Beberapa di antaranya adalah jalur kereta Tiongkok-Kirgizstan-Uzbekistan, pusat layanan e-commerce Jalur Sutra, serta jaringan universitas SCO. Infrastruktur dan kerja sama tersebut membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk bepergian, melakukan perdagangan, memperoleh pendidikan, dan mendapatkan peluang ekonomi. Pertukaran antarmasyarakat turut menjadi bagian penting dalam kerja sama SCO. Dialog yang dilakukan secara terlembaga dan interaksi yang semakin luas memungkinkan perbedaan sejarah, budaya, serta peradaban menjadi dasar untuk membangun pemahaman dan kerja sama yang lebih baik. Di tingkat internasional, SCO juga berupaya mempertahankan tujuan serta prinsip Piagam PBB dan hukum internasional. Organisasi tersebut turut berkontribusi dalam menangani berbagai persoalan regional maupun internasional serta mendorong koordinasi di antara berbagai mekanisme multilateral. Melalui format SCO Plus, ruang komunikasi antarnegara Global South semakin terbuka. Mekanisme tersebut juga memberikan kesempatan bagi negara-negara untuk saling bertukar pengalaman dalam tata kelola serta mengembangkan kerja sama yang bersifat praktis. Selama beberapa dekade, SCO telah memperlihatkan bahwa perbedaan tidak harus menghasilkan perpecahan. Negara-negara dengan sistem politik, jalur pembangunan, dan peradaban yang berbeda tetap dapat berkolaborasi secara setara tanpa harus terjebak dalam perselisihan. Ke depan, SCO dinilai memiliki posisi strategis untuk terus memperkuat pembangunan regional yang berkualitas. Pengalaman dan praktik kerja sama organisasi tersebut juga berpotensi memberikan gagasan tambahan bagi pembentukan sistem tata kelola global yang lebih adil dan setara.