SHANGHAI - Pameran budaya bertajuk Spirit of Indonesia 2026: An Odyssey through the Island of Opportunity diselenggarakan di Shanghai pada Sabtu (29/8). Dalam acara tersebut, seni henna tradisional dan batik menjadi daya tarik utama yang menampilkan keberagaman serta kekayaan budaya Indonesia kepada para pengunjung. Sejumlah pengunjung asal Tiongkok menilai bahwa Indonesia tidak hanya memiliki keindahan alam yang memikat, tetapi juga kekayaan budaya yang beragam. Kekayaan budaya tersebut dinilai mampu mempererat hubungan emosional antara masyarakat Indonesia dan Tiongkok. Salah satu stan yang ramai dikunjungi adalah "Caryn Henna Art". Caryn, perempuan asal Indonesia, dengan cekatan menggunakan aplikator berbentuk kerucut berisi pewarna alami berbahan tumbuhan untuk membuat motif-motif henna yang indah dan detail pada tangan pengunjung. Caryn memiliki kedekatan tersendiri dengan Tiongkok. Lebih dari sepuluh tahun lalu, ia datang ke Shanghai untuk menempuh pendidikan desain di Universitas Donghua. Setelah lulus, kecintaannya terhadap seni dan kota tersebut membuatnya memilih menetap serta mengembangkan karier di Shanghai. Melalui berbagai pameran dan pasar budaya, ia aktif memperkenalkan seni henna Indonesia kepada masyarakat setempat. “Pada awalnya, banyak orang belum mengenal seni lukis tangan ini, tetapi saya terus memperkenalkannya sebagai bagian dari budaya Indonesia,” ujar Caryn dalam wawancara. Kini, karya henna Caryn semakin dikenal di Shanghai. Selain menggunakan motif khas Indonesia, ia juga memadukannya dengan unsur estetika Timur guna menyesuaikan dengan selera masyarakat Tiongkok. Setelah dihias dengan henna, banyak perempuan muda asal Tiongkok tampak antusias berfoto bersama Caryn. Seni berbahan alami yang mencerminkan identitas budaya Indonesia tersebut menjadi sarana bagi generasi muda Tiongkok untuk mengekspresikan diri sekaligus mengenal budaya Asia Tenggara. Caryn berharap karya-karyanya dapat menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya dikenal melalui Bali, tetapi juga memiliki warisan seni tradisional yang kaya, seperti henna alami. Menurutnya, simbol-simbol budaya yang membawa kehangatan dapat menjadi jembatan terbaik untuk mempererat hubungan masyarakat kedua negara. Di stan lain yang bernuansa merah putih, berbagai kain tradisional buatan tangan dipamerkan kepada pengunjung. Poppy, yang mengenakan busana tradisional Indonesia, dengan penuh semangat menjelaskan sejarah dan makna yang terkandung dalam setiap kain kepada para pengunjung asal Tiongkok. Menurut Poppy, kain-kain tersebut bukan sekadar busana, melainkan juga representasi sejarah dan kepercayaan masyarakat Indonesia. Motif yang rumit serta warna-warna cerah yang dihasilkan dari pewarna alami mencerminkan kekayaan alam dan kearifan lokal masyarakat kepulauan Indonesia. Meningkatnya minat konsumen Tiongkok terhadap produk kerajinan berkualitas tinggi yang sarat nilai budaya turut membuka peluang bagi tekstil tradisional Indonesia untuk semakin dikenal. Banyak pengunjung yang tertarik pada kain-kain tersebut bahkan meminta saran mengenai cara memadukan batik dengan gaya berpakaian modern. Poppy mengaku terkejut sekaligus senang melihat tingginya minat generasi muda Tiongkok terhadap tekstil tradisional Indonesia hingga menjadikannya bagian dari tren fesyen. Konsul Jenderal Republik Indonesia di Shanghai, Berlianto Situngkir, menyampaikan bahwa semakin eratnya hubungan antara Indonesia dan Tiongkok turut mendorong peningkatan pertukaran budaya antarmasyarakat kedua negara. Menurutnya, frasa Island of Opportunity dalam tema kegiatan tersebut tidak hanya menggambarkan potensi ekonomi Indonesia yang besar, tetapi juga mencerminkan luasnya peluang kerja sama di bidang budaya dan industri kreatif. Berlianto menilai apresiasi masyarakat Shanghai terhadap seni henna alami maupun tekstil tradisional Indonesia menunjukkan bahwa karya budaya Indonesia mampu memperkaya pengalaman masyarakat Tiongkok sekaligus membuka peluang baru bagi para seniman dan perajin Indonesia. “Indonesia bukan hanya destinasi wisata. Indonesia memiliki kekayaan budaya yang hidup, dinamis, dan beragam. Ketika masyarakat kedua negara saling menghargai keindahan seni masing-masing, akan terbangun persahabatan dan pemahaman yang lebih mendalam serta membuka babak baru dalam pertukaran budaya,” ujar Berlianto. Jika ingin gaya judul berita yang lebih singkat dan menarik, saya juga bisa menyesuaikannya.