JAKARTA, NETRALNEWS.COM - PT Pos Indonesia (PosIND) dan PT Rumah Tani Nusantara (RTN) menggelar soft launching outlet AgriPost terbaru di Kantor Pos KCU Flora, Jalan RS Fatmawati, Jakarta Selatan, Senin (3/8/2026). Lahir dari kolaborasi strategis antara PosIND dengan berbagai pihak termasuk RTN, AgriPost merupakan program digitalisasi dan jaringan outlet pangan fisik yang berfungsi sebagai tempat pelaksanaan operasi pasar pangan murah. Tujuan dari program yang mengusung tagline "Lumbung Pangan Rakyat" ini adalah memperkuat rantai pasok pangan nasional, mendukung pemberdayaan petani lokal, serta menjaga stabilitas pasokan dan harga komoditas pertanian dari hulu ke hilir. Lewat program tersebut, PosIND dan RTN bersinergi membangun sistem Supply Chain Management (SCM) secara terintegrasi guna memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap produk pertanian berkualitas secara berkelanjutan. Dalam kerja sama ini, Pos Indonesia menyediakan infrastruktur logistik terpadu, mulai dari penjemputan di titik kumpul (hub), transportasi, bongkar muat, hingga pemanfaatan kantor pos daerah sebagai outlet fisik pangan. Sementara Rumah Tani Nusantara bertindak sebagai offtaker yang mengelola ekosistem pertanian terintegrasi, melakukan pendampingan teknologi, serta menyerap langsung hasil panen dari puluhan ribu mitra petani. Untuk implementasinya, PosIND dan RTN menargetkan mendirikan 100 outlet AgriPost pada Agustus 2026 di wilayah Jabodetabek. Ke depan, proyeksi kolaborasi ini ditargetkan mampu memperluas jangkauan hingga 2.000 outlet pos dan 500 gudang/hub distribusi di seluruh Indonesia. "Bulan ini 100 (outlet) di Jabodetabek. Target tahun ini sekitar 300, lalu berkala sampai 2029 ada 2.000 titik dan 500 hub di seluruh Indonesia," ungkap Direktur Komersial PT Pos Indonesia Fahdel Akbar di acara soft launching outlet AgriPost KCU Flora. "Implementasinya dinamis. Yang jelas kita tidak hanya buka di Jawa saja, tetapi di seluruh Indonesia secara bertahap. Jadi tergantung juga dari strategi RTN dan kesiapan kantor-kantor kami. Nanti kita juga akan buka di Sumatera, Sulawesi, hingga Kalimantan," jelasnya. Program yang didukung penuh oleh Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) ini juga dirancang untuk memotong rantai pasok komoditas pokok dari produsen langsung ke konsumen. Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bapanas, Maino Dwi Hartono, mengatakan kehadiran AgriPost merupakan bukti konkret kolaborasi yang mampu memberikan dampak instan bagi masyarakat, terutama dalam mempermudah akses terhadap bahan pangan murah. "Kami dari pemerintah menyambut baik kolaborasi Rumah Tani dan PT Pos. Ini suatu bukti konkret dari kolaborasi dalam rangka menjaga stabilitas harga dengan tersedianya aneka jenis bahan pangan tadi yang harganya juga terjangkau," ujarnya. Maino menjelaskan bahwa pemangkasan jalur distribusi ini memberikan keuntungan ganda (win-win solution) bagi hulu dan hilir. Karena komoditas diambil langsung dari tangan pertama, para petani dan peternak mendapatkan kepastian harga jual yang adil. Di sisi lain, masyarakat sebagai konsumen akhir diuntungkan dengan harga tebus yang jauh lebih murah di bawah harga pasar spekulatif. Lebih lanjut, Bapanas optimistis bahwa jika program AgriPost berhasil direplikasi di seluruh titik jaringan PT Pos Indonesia dengan keseragaman harga, maka gejolak inflasi pangan dapat diredam secara signifikan. "Kalau nanti di seluruh titik harganya yang sama, itu bagian dari menekan harga dan ini bisa menenangkan masyarakat. Artinya harganya sesuai harga pasar karena barangnya langsung diambil dari petani dan peternak kita," bebernya. "Jadi ini juga memotong rantai distribusi, di satu sisi petani dan peternak mendapat kepastian harga, di sisi lain tentunya konsumen juga mendapatkan harga yang lebih terjangkau," tandas Maino Senada, Direktur Operasi PT Pos Indonesia Donny Maya Wardhana menyampaikan bahwa kehadiran AgriPost memberikan nilai tambah bagi internal perusahaan maupun masyarakat luas. Dari sisi eksternal, Donny menyoroti lima manfaat utama kehadiran AgriPost bagi ekosistem pertanian nasional. Pertama, mendukung terciptanya kesetaraan harga yang adil bagi pemasok di hulu hingga konsumen di hilir. Kedua, memberikan akses pasar baru bagi para petani lokal tanpa perlu mencari tempat pemasaran tambahan. Ketiga, menjamin keterjangkauan harga pangan murah tidak hanya di kota besar, tetapi juga di kota sekunder (kedua) dan tersier (ketiga). Keempat, distribusi logistik diklaim akan jauh lebih efisien memanfaatkan target ekspansi hingga 2.000 kantor pos di berbagai daerah. "Karena seperti yang sudah disampaikan bahwa salah satu yang menjadi challenge itu adalah distribusi. Dengan adanya titik pos ini distribusinya diharapkan lebih efisien, Rumah Tani atau petani tidak perlu mencari tempat baru untuk memasarkan produk," bebernya. Kelima, konsumen dapat berbelanja secara langsung (offline) di outlet AgriPost maupun memesan secara daring (online). Sementra bagi internal PT Pos Indonesia, Doni menyebut kerja sama dalam penyediaan pangan murah ini menjadi pendorong transformasi bisnis yang signifikan. Dalam hal ini, Doni menyampaikan bahwa pengunjung kantor pos kini tidak hanya bisa mengirim surat atau membayar tagihan (PPOB), tetapi juga bisa membeli sayuran murah dengan opsi pengiriman langsung (delivery). Selain itu, lanjutnya, kehadiran AgriPost juga menjadi sarana pemenuhan kebutuhan pokok harian bagi lebih dari 20.000 karyawan dan 18.000 mitra Pos Indonesia. "Kami melihat ini sebagai kerja sama yang sangat strategis. Tidak hanya membantu program pemerintah, petani, dan Rumah Tani Nusantara, tetapi juga memberikan keuntungan nyata bagi Pos Indonesia," tandas Doni. Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Rumah Tani Nusantara, Bahtiar, menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas terwujudnya kolaborasi antara pihak swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini. Menurutnya, langkah ini merupakan bentuk nyata aktualisasi sinergi demi kepentingan bangsa. "Saya sangat bersyukur bahwa PT Pos Indonesia mungkin mewakili negara. Ini adalah aktualisasi ketika swasta berkolaborasi dengan negara," ujarnya. Bahtiar juga mengapresiasi kepercayaan yang diberikan oleh PT Pos Indonesia kepada jajaran manajemen RTN yang mayoritas diisi oleh generasi muda. Kerja sama ini dinilai memberikan panggung besar bagi pemuda untuk ikut serta menjaga ketahanan pangan nasional. "Apalagi, kami di Rumah Tani Nusantara yang katakanlah timnya masih muda-muda, ini bagian yang sangat luar biasa karena PT Pos memberi ruang kepada anak-anak muda untuk berkontribusi kepada ketahanan pangan nasional," tambahnya. Saat ini, RTN menaungi sedikitnya 27.400 petani. Bahtiar mengakui bahwa mengelola pasokan hasil panen langsung ke pasar konvensional sangat menguras energi, terutama akibat fluktuasi harga yang tidak menentu selama perjalanan logistik. Ia mencontohkan jalur distribusi cabai dari Malang yang kerap mengalami ketidakpastian harga di setiap titik pemberhentian. "Kami kirim cabai dari Malang harganya Rp40.000, baru sampai Cikampek sudah turun Rp35.000. Sampai Bekasi sudah naik lagi Rp45.000, lalu sampai gerbang Pasar Kramat Jati turun menjadi Rp25.000. Ini cukup melelahkan bagi kami," ungkap Bahtiar. Guna mengatasi masalah rantai pasok yang tidak efisien tersebut, RTN mengambil langkah agresif dengan membangun jalur distribusi mandiri melalui program AgriPost yang berkolaborasi dengan PT Pos Indonesia. Bahtiar optimistis, meski proyek ini membutuhkan kerja keras, infrastruktur baru ini akan menjadi fondasi kuat bagi ekosistem pertanian modern di masa depan. "Sehingga kami berpikir kami harus membuka ruang sendiri dengan membangun 2.000 outlet AgriPost dan 500 titik hub. Ini adalah pekerjaan berat, tetapi ini adalah yang diperlukan oleh ekosistem pertanian di masa depan," pungkasnya.