JAKARTA - Perilaku pencarian informasi masyarakat digital mengalami pergeseran signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Jika dulu mesin pencari seperti Google menjadi satu-satunya rujukan utama saat mencari informasi, kini platform media sosial seperti TikTok dan Instagram turut menjelma menjadi alat pencarian yang semakin diandalkan, terutama oleh generasi muda. Fenomena ini pun menuntut brand untuk merombak strategi optimasi mesin pencari atau search engine optimization (SEO) mereka agar tetap relevan di berbagai platform, tidak hanya berfokus pada mesin pencari konvensional. Data Terbaru: TikTok Jadi Alat Pencarian Populer Berdasarkan riset Adobe Express yang dirilis awal 2026, sebanyak 49 persen konsumen di Amerika Serikat mengaku pernah menggunakan TikTok sebagai mesin pencari, meningkat 8 poin persentase dibandingkan 41 persen pada laporan Adobe di 2024. Angka ini bahkan jauh lebih tinggi di kalangan Gen Z, di mana sebanyak 65 persen responden Gen Z mengaku telah menggunakan TikTok sebagai mesin pencari, dan 25 persen di antaranya menilai TikTok efektif untuk mencari informasi. Temuan ini turut dikonfirmasi oleh riset lain. Sebanyak 40 persen Gen Z telah menggunakan TikTok untuk mencari sesuatu, dengan Instagram dan TikTok bahkan disebut telah melampaui Google dalam hal penemuan produk atau product discovery. Bahkan dari sisi transaksi, kebiasaan berbelanja generasi ini juga sudah bergeser sepenuhnya ke platform digital, di mana sebanyak 72 persen Gen Z telah membeli produk secara langsung melalui aplikasi media sosial. Bukan soal "TikTok Mengalahkan Google", tapi Pencarian Jadi Multi-Platform Meski penggunaan TikTok sebagai alat pencarian meningkat, penting dipahami bahwa hal ini tidak serta-merta berarti Google kehilangan dominasinya. Analisis mendalam dari Search Engine Journal justru menemukan tren yang lebih nuansa: di kalangan Gen Z, proporsi yang mengaku lebih memilih TikTok dibandingkan Google justru menurun dari 8 persen pada 2024 menjadi hanya 4 persen pada 2026, meski penggunaan TikTok sebagai alat pencarian tetap tinggi. Fenomena ini menggambarkan bahwa konsumen, termasuk Gen Z, kini tidak lagi bergantung pada satu platform pencarian tunggal, melainkan menyebar penggunaannya ke berbagai platform sesuai kebutuhan. Sebagaimana dijelaskan dalam analisis ALM Corp, Gen Z menggunakan TikTok untuk jenis pencarian tertentu yang bersifat penemuan, gaya hidup, visual, dan sosial, sementara mereka tetap menggunakan Google untuk jenis pencarian yang bersifat faktual, transaksional, dan berisiko tinggi. Kedua platform ini pada dasarnya tidak saling berebut jenis pencarian yang sama secara langsung. Media Sosial Unggul untuk Pencarian Brand dan Produk Data global turut menunjukkan bahwa media sosial telah mengambil alih peran penting dalam pencarian terkait brand tertentu. Berdasarkan data GWI Core, lebih dari separuh atau 51 persen konsumen Gen Z di seluruh dunia menggunakan media sosial untuk mencari informasi mengenai suatu brand, dibandingkan hanya 45 persen yang menggunakan mesin pencari konvensional. Kategori pencarian yang paling banyak dilakukan di platform sosial umumnya bersifat visual dan berbasis pengalaman, seperti resep masakan, kecantikan dan perawatan diri, rekomendasi tempat lokal, hingga musik, sebagaimana disebutkan dalam analisis tren pencarian sosial terkini. Munculnya Ancaman Baru: AI Chat Tools Selain pergeseran ke media sosial, tantangan lain bagi dominasi mesin pencari konvensional datang dari perkembangan alat percakapan berbasis kecerdasan buatan. Sebanyak 12 persen Gen Z, 15 persen milenial dan Gen X, serta 14 persen Baby Boomer kini mengaku lebih memilih menggunakan ChatGPT dibandingkan Google, sebuah sinyal bahwa AI mulai menjadi titik awal pencarian yang semakin umum digunakan konsumen lintas generasi. Dampaknya bagi Strategi SEO Brand Perubahan perilaku pencarian ini menuntut brand untuk mulai memperluas cakupan strategi optimasi mereka, tidak lagi hanya berfokus pada SEO konvensional di mesin pencari. Sejumlah langkah strategis yang perlu dipertimbangkan brand di antaranya: 1. Optimasi Konten untuk Pencarian Sosial Brand perlu mulai menerapkan praktik optimasi khusus untuk platform sosial, seperti menggunakan teks alternatif atau alt text pada aset visual, menambahkan geotag pada unggahan, serta menyusun keterangan atau caption yang deskriptif dan relevan dengan kata kunci yang kemungkinan dicari audiens, sebagaimana disarankan dalam panduan optimasi pencarian sosial. 2. Bangun Kehadiran di Berbagai Platform Pencarian Mengingat konsumen kini menyebar penggunaannya ke berbagai platform sesuai kebutuhan, brand perlu memastikan kehadiran dan optimasi konten yang konsisten baik di mesin pencari konvensional, platform media sosial, maupun mempertimbangkan keterlihatan konten di alat pencarian berbasis AI yang mulai berkembang. 3. Sesuaikan Format Konten dengan Karakteristik Platform Konten yang dioptimalkan untuk pencarian di Google umumnya berbasis teks dan terstruktur, sementara konten yang efektif untuk pencarian di media sosial cenderung berbasis visual, video pendek, dan bersifat lebih personal. Brand perlu menyesuaikan format kontennya dengan karakteristik masing-masing platform, alih-alih menerapkan strategi yang seragam di semua kanal. 4. Prioritaskan Kategori Konten yang Relevan dengan Pencarian Sosial Mengingat kategori seperti kecantikan, kuliner, rekomendasi lokal, dan gaya hidup menjadi jenis konten yang paling banyak dicari di platform sosial, brand yang bergerak di industri-industri tersebut perlu memprioritaskan optimasi kontennya secara khusus untuk pencarian sosial, tanpa mengabaikan strategi SEO konvensional untuk jenis pencarian yang lebih bersifat transaksional maupun faktual. 5. Jangan Tinggalkan SEO Konvensional Sepenuhnya Meski tren pencarian sosial terus meningkat, mesin pencari konvensional seperti Google tetap memegang peranan penting, terutama untuk jenis pencarian yang bersifat faktual dan berisiko tinggi, seperti pencarian informasi kesehatan, keuangan, maupun keputusan pembelian bernilai besar. Brand yang sepenuhnya meninggalkan optimasi SEO konvensional demi berfokus pada pencarian sosial berisiko kehilangan peluang menjangkau audiens pada momen-momen pencarian yang justru krusial dalam perjalanan keputusan pembelian konsumen.