JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Rabu malam waktu Amerika, para pengambil kebijakan Federal Reserve resmi memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga acuan mereka, tetap bertahan di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen. Ini sudah jadi pertemuan kelima berturut-turut di mana The Fed memilih "wait and see", sesuatu yang sebenarnya sudah diprediksi banyak analis jauh-jauh hari. Tapi yang bikin pasar tetap deg-degan menjelang pengumuman adalah adanya kemungkinan kejutan, karena alat pemantau CME FedWatch sempat menunjukkan peluang kenaikan suku bunga mendekati 30 persen, naik cukup drastis dari cuma 15 persen seminggu sebelumnya. Kenapa kekhawatiran itu muncul? Jawabannya ada di harga minyak dunia. Setelah sempat anjlok sekitar 35 persen dari Mei sampai akhir Juni, harga minyak jenis WTI justru melonjak tajam di bulan Juli, dari sekitar 67 dolar per barel ke atas 90 dolar, dipicu ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat mengganggu aktivitas kapal di Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman minyak paling sibuk di dunia. Meski kabar gencatan senjata sempat membuat harga minyak sedikit terkoreksi, kenaikannya sepanjang bulan itu masih tercatat hampir 20 persen. Analis dari OCBC menyebut situasi ini yang bikin peluang kenaikan suku bunga sempat naik-turun drastis dalam waktu singkat, dari cuma 10 persen begitu data inflasi AS membaik, lalu melonjak lagi ke 35 persen begitu harga minyak kembali memanas. Mereka juga memberi catatan menarik, bahwa keputusan menahan suku bunga tanpa penjelasan yang cukup gamblang justru berisiko dibaca pasar sebagai sikap yang lebih lunak dari seharusnya, dan itu bisa bikin pelaku pasar bingung membaca arah kebijakan The Fed ke depan. Isi Pernyataan Resmi FOMC Dalam pernyataan resminya, Komite Pasar Terbuka Federal atau FOMC menegaskan komitmennya menjaga stabilitas harga, meski mengakui inflasi masih berada di atas target akibat guncangan pasokan di beberapa sektor, terutama energi. Di sisi lain, mereka menilai aktivitas ekonomi Amerika masih tumbuh dengan laju yang cukup solid, ditopang pertumbuhan produktivitas dan investasi modal yang tetap kuat, meski ketidakpastian di sekitarnya meningkat. Pasar tenaga kerja pun digambarkan relatif stabil, dengan pertumbuhan lapangan kerja yang sejalan dengan pertumbuhan angkatan kerja dan tingkat pengangguran yang hanya berubah tipis. The Fed juga menegaskan akan terus menjalankan kebijakan menjaga cadangan perbankan tetap memadai, sebagai bagian dari upaya menjaga sistem keuangan tetap sehat di tengah ketidakpastian global. Yang menarik, keputusan mempertahankan suku bunga kali ini ternyata tidak bulat. Dari sembilan suara yang mendukung sikap menahan bunga, ada tiga pejabat bank sentral regional, yaitu dari Cleveland, Minneapolis, dan Dallas, yang justru berbeda pendapat dan mendorong kenaikan 25 basis poin. Perbedaan pandangan semacam ini menunjukkan bahwa di internal The Fed sendiri, masih ada perdebatan cukup serius soal seberapa besar risiko inflasi akibat gejolak harga minyak, dan seberapa cepat mereka harus merespons kalau tekanan itu terus berlanjut. Apa Kata Warsh di Konferensi Pers Setelah pengumuman resmi, giliran Ketua The Fed Kevin Warsh tampil di depan wartawan menjelaskan pertimbangan di balik keputusan tersebut. Ia menggambarkan suasana diskusi internal berjalan cukup kolegial dan aktif, dengan perdebatan yang menurutnya tidak sepenuhnya tercermin hanya dari jumlah suara yang berbeda pendapat. Warsh menegaskan bahwa terlepas dari perbedaan pandangan itu, ia yakin tim yang ada sekarang adalah yang paling tepat untuk melawan inflasi tinggi. Warsh juga berulang kali menegaskan bahwa target inflasi The Fed tetap satu, yaitu 2 persen, tanpa toleransi terhadap angka yang sedikit lebih tinggi meski situasi ekonomi tengah dibayangi berbagai guncangan eksternal. Ia bahkan secara khusus meluruskan anggapan yang menurutnya keliru, seolah The Fed mulai lebih permisif terhadap inflasi yang sedikit di atas target. Menurutnya, inflasi bukan penyakit yang bisa sembuh instan hanya dalam hitungan minggu, sehingga masyarakat dan pelaku pasar perlu bersabar sembari The Fed terus mencermati data yang masuk dari waktu ke waktu, khususnya soal sejauh mana guncangan pasokan seperti kenaikan harga energi ini berpotensi memperlebar tekanan inflasi secara lebih luas. Ia juga menyinggung soal reaksi pasar terhadap keputusan ini, menyebut bahwa harga aset bereaksi secara real time terhadap informasi yang masuk, termasuk kemungkinan berkurangnya panduan eksplisit dari The Fed soal arah kebijakan ke depan. Menurutnya, pasar akan terus menyesuaikan diri sesuai arah dan besaran yang mereka anggap paling tepat, dan The Fed sendiri tidak akan ragu bertindak kalau memang diperlukan. Ia menambahkan bahwa pasar obligasi pemerintah tampaknya juga menangkap sinyal yang sama dengan apa yang ingin disampaikan The Fed lewat keputusan kali ini. Bagaimana Reaksi Pasar Keuangan Begitu keputusan dan pernyataan Warsh keluar, Dolar Amerika Serikat langsung tertekan cukup dalam, membuat Indeks Dolar AS memperpanjang pelemahan yang sudah dimulai sejak hari sebelumnya dan mendekati level support di angka 101. Kalau dilihat dari data pergerakan mata uang utama dunia hari itu, memang terlihat Dolar melemah terhadap sebagian besar mata uang lain seperti Euro, Poundsterling, Yen Jepang, dan Dolar Kanada, meski uniknya justru masih lebih kuat dibanding Dolar Australia dan Dolar Selandia Baru. Pola pelemahan yang cukup merata terhadap sebagian besar mata uang utama ini menggambarkan bagaimana pasar membaca sikap The Fed sebagai sesuatu yang tidak terlalu agresif, meski secara lisan Warsh berusaha menegaskan komitmennya menjaga inflasi tetap terkendali di angka 2 persen. Ke depan, semua mata akan tertuju pada rapat berikutnya sekitar tujuh hingga delapan minggu lagi, di mana probabilitas pasar saat ini masih condong ke skenario suku bunga tetap bertahan di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen, dengan peluang sekitar 70 persen berdasarkan data terbaru, meski peluang kenaikan tetap terbuka kalau tekanan dari harga energi global belum juga mereda. Situasi ini menegaskan satu hal penting bagi siapa pun yang mengikuti pergerakan pasar keuangan, bahwa kebijakan suku bunga bukan cuma soal angka inflasi di dalam negeri Amerika, tapi juga sangat dipengaruhi dinamika geopolitik di belahan dunia lain yang kadang terasa jauh, tapi ternyata dampaknya bisa langsung terasa sampai ke meja rapat bank sentral paling berpengaruh di dunia.