DEPOK, NETRALNEWS.COM — Gaya hidup hemat kini bukan lagi sekadar pilihan, tetapi telah menjadi tren di kalangan anak muda. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah thrifting, atau kebiasaan membeli pakaian bekas layak pakai dengan harga terjangkau. Di tengah meningkatnya kesadaran akan gaya hidup berkelanjutan, belanja thrift menjadi alternatif yang tidak hanya ekonomis, tetapi juga ramah lingkungan. Fenomena ini terlihat jelas dari munculnya berbagai toko daring maupun luring yang menjual pakaian bekas berkualitas, termasuk usaha kecil yang dijalankan dari rumah. Salah satunya adalah akun media sosial @_16thriftsecond, milik Abam, seorang pekerja muda yang menjalankan bisnis thrifting di sela kesibukannya bekerja. Berawal dari Hobi, Kini Jadi Sumber Penghasilan Ditemui di kediamannya, Abam tampak sibuk menata tumpukan pakaian bekas impor yang masih tampak seperti baru. Ia bercerita bahwa usahanya bermula dari hobi pribadi mencari pakaian unik di pasar barang bekas. “Awalnya cuma iseng, saya suka cari baju second karena modelnya beda dari yang dijual di mall. Lama-lama banyak teman yang minta bantu carikan, dari situ saya mulai jualan sendiri,” ujar Abam, pemilik akun @_16thriftsecond. Abam mengaku menjalankan bisnis ini dari rumah, sambil tetap bekerja penuh waktu di bidang administrasi. Setiap akhir pekan, ia menyortir pakaian, mencuci ulang, memotret, dan mengunggah produk ke akun jualannya. “Saya anggap ini kegiatan sampingan yang menyenangkan. Selain bisa nambah penghasilan, saya juga merasa ikut mengurangi limbah tekstil,” tambahnya. Gaya Unik dan Harga Terjangkau Menjadi Daya Tarik Daya tarik utama thrifting adalah harga yang jauh lebih murah dibandingkan produk baru, tanpa mengurangi kualitas maupun gaya. Selain itu, pakaian hasil thrifting sering kali memiliki desain yang tidak pasaran, membuat pembelinya terlihat lebih unik dan ekspresif. Aril, salah satu pelanggan tetap @_16thriftsecond, mengaku mulai menyukai thrifting karena alasan keunikan dan nilai hematnya. “Saya kerja di bidang kreatif, jadi senang pakai baju yang beda dari orang lain. Di thrift shop bisa nemu jaket keren harga cuma sepertiga dari harga toko biasa,” ujar Aril, yang bukan mahasiswa, melainkan pekerja di salah satu studio desain di Jakarta. Sementara itu, Apis, pembeli lain yang juga mahasiswa, mengatakan bahwa thrifting membantunya menekan pengeluaran tanpa kehilangan gaya. “Sekarang banyak teman kampus yang thrifting. Selain hemat, rasanya bangga bisa tampil keren dengan barang hasil temuan sendiri,” katanya sambil tersenyum. Lebih dari Sekadar Gaya, Juga Kesadaran Baru Tren thrifting kini bukan hanya soal penampilan, tetapi juga bagian dari gerakan fashion berkelanjutan, yaitu upaya untuk mengurangi dampak lingkungan akibat industri pakaian cepat saji (fast fashion). Dengan membeli pakaian bekas, seseorang secara tidak langsung membantu memperpanjang usia pakai produk dan mengurangi sampah tekstil. Abam mengaku senang jika pelanggannya mulai menyadari hal itu. “Saya sering ingatkan pembeli bahwa thrifting bukan cuma soal murah, tapi juga bentuk kepedulian terhadap bumi,” ujarnya.