KOTA BATU,NETRALNEWS.COM – Di lereng Kota Batu, Jawa Timur, sebuah dusun kecil bernama Gangsiran Puthuk tengah menulis ulang sejarahnya sendiri. Dusun yang dulu dikenal masyarakat kolonial Belanda dengan nama “Komplangan” itu telah lama identik dengan perkebunan kopi, namun potensi tersebut sempat terlupakan setelah warga beralih ke tanaman hortikultura yang dinilai memberi hasil lebih cepat. Kini, semangat itu bangkit kembali. Melalui kelompok usaha bernama UMKM Girimurti yang baru resmi terbentuk pada 2025, warga Dusun Gangsiran Puthuk beramai-ramai menanam ulang kopi Arabika di lahan-lahan yang sempat terbengkalai. Langkah ini didampingi oleh tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Malang (UM) yang turun langsung ke lapangan untuk meneliti potensi dan mendampingi warga. Sejarah kopi di dusun ini tidak bisa dilepaskan dari kisah besar Java Coffee, julukan bagi kopi asal Pulau Jawa yang bermula sejak akhir abad ke-17, ketika VOC membawa bibit kopi Arabika dari Yaman dan membudidayakannya di Pulau Jawa pada akhir 1690-an. Kopi dari Jawa kemudian diekspor ke Amsterdam pada 1711 dan sempat menjadi komoditas andalan Hindia Belanda, sebelum produksinya anjlok akibat serangan penyakit karat daun pada akhir abad ke-19. Jejak sejarah itulah yang kini coba dihidupkan kembali warga Gangsiran Puthuk. Perubahan kebijakan pengelolaan kawasan hutan, tingginya biaya produksi tanaman hortikultura, hingga dampak wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang memukul sektor peternakan, membuat warga mencari kembali komoditas yang lebih sesuai dengan karakter wilayah mereka. Pada 2024, muncul gagasan menghidupkan kembali kopi lokal, yang setahun kemudian diwujudkan lewat pembentukan kelompok usaha bersama. Nama “Giri Mukti” sempat diusulkan sebagai identitas kelompok usaha ini, dengan kata giri yang berarti gunung dan mukti yang bermakna kemuliaan atau kesejahteraan. Namun warga menilai kata mukti terkesan terlalu tinggi, sehingga akhirnya disepakati nama Girimurti sebagai identitas UMKM hingga kini, mencerminkan semangat kebersamaan dan kesederhanaan warga dalam memberdayakan potensi lokal. Dari sisi kondisi alam, Dusun Gangsiran Puthuk memang punya modal besar. Berada di ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut dengan udara sejuk, curah hujan cukup, dan tanah vulkanik yang subur, wilayah ini sangat sesuai dengan syarat tumbuh kopi Arabika yang optimal pada ketinggian 1.000–2.000 mdpl. Saat ini warga membudidayakan sejumlah varietas Arabika, yaitu Yellow Caturra, Ateng Janda, Ateng Super, dan Cobra, serta kopi Excelsa sebagai tanaman pendukung yang tahan kekeringan dan memiliki cita rasa fruity. Meski potensinya besar, jalan UMKM Girimurti tidak selalu mulus. Keterbatasan lahan akibat perubahan kebijakan kawasan hutan, minimnya modal karena warga masih mengandalkan dana mandiri, keterampilan pengolahan pascapanen yang perlu ditingkatkan, jangkauan pemasaran digital yang belum optimal, hingga kebutuhan pendampingan sumber daya manusia, menjadi sejumlah tantangan yang masih dihadapi hingga saat ini. Untuk menjawab tantangan itu, UMKM Girimurti bergerak bertahap. Di sisi budidaya, warga membersihkan lahan yang sebelumnya dipenuhi semak belukar, membuat lubang tanam, hingga memberi pupuk kompos yang sebagian besar berasal dari bantuan Greenfields Ngajum sebanyak dua belas truk kotoran sapi. Penanaman bibit Arabika dan Excelsa dilakukan pada awal musim hujan, diikuti perawatan rutin seperti penyulaman, penyiangan, pemupukan, hingga pengendalian hama dan penyakit. Pada tahap pengolahan, kopi tidak lagi dijual sebagai biji mentah. Warga kini menjalankan proses sortasi, pengupasan kulit, fermentasi, pencucian, pengeringan, penyangraian, hingga penggilingan, sehingga produk yang dijual memiliki nilai tambah yang jauh lebih tinggi. Kemasan dan branding produk pun terus dikembangkan agar mampu bersaing di pasar sekaligus memperkuat identitas kopi lokal Dusun Gangsiran Puthuk. Pemasaran dilakukan lewat dua jalur, yakni promosi langsung melalui pameran dan penguatan jaringan media digital serta mitra kerja sama. UMKM Girimurti juga menjalin kolaborasi dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam bentuk pendampingan budidaya, pelatihan pengolahan pascapanen, pengembangan kemasan, branding, hingga pemasaran, yang dinilai menjadi kunci penting keberlanjutan usaha ke depan. Tim KKN UM menilai, kondisi agroklimat yang mendukung serta semangat gotong royong warga menjadi modal utama keberlanjutan usaha ini. Jika terus dikembangkan lewat inovasi produk, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan perluasan jaringan pemasaran, kopi lokal Dusun Gangsiran Puthuk dinilai berpotensi menjadi komoditas unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan warga secara berkelanjutan. Bagi warga Gangsiran Puthuk, UMKM Girimurti bukan sekadar usaha ekonomi baru. Ia adalah upaya menyambung kembali sejarah panjang kopi di dusun mereka, dari masa kolonial hingga masa depan yang mereka bangun sendiri, secangkir demi secangkir.