I. (TO THE MUSE) Bisikanmu mengalun di udara yang mengalir, Sinar matahari bergetar oleh embus napasmu yang memburu, Berlaksa dahan hutan yang berjejal lebat Bergetar penuh sukacita menanggung sentuhan mistismu, Laksana harpa ajaib di jemari nan lentik Mengalunkan musik yang meredakan si sakit, Atau membalut hati yang tertusuk pedih nan kejam; Air dan angin berbagi jiwa kehidupanmu; Murkamu bersemayam di dalam guruh, dan air matamu Menangisi kebebalan manusia dalam hujan yang merdu. Wahai Puan, maafkan aku jika pada telinga yang menuli, Yang sarat oleh hiruk-pikuk kehidupan dan refrainnya yang parau, Kata-katamu telah berjatuhan di sepanjang tahun-tahun yang tandus ini, Dan jadikanlah aku sebagai abdimu kembali. II. (TO A FLOWER) Bunga bahagia yang bersinar terang, Diterangi senyuman sang surya, Mencurahkan keharumanmu Yang terindah kepada siapa saja; Berbahagialah engkau yang tak pernah mengeluh Akan hari ketika senja bermula, Melainkan dengan rendah hati menundukkan kepala, Puas baka tugasmu telah paripurna. Hati yang berduka kau beri pelipur, Meminta mereka hidup sepertimu, Yang dengan tenang mendengarkan badai liar Berkumpul memupuk ancaman, Dan tak pernah gentar pada malam yang gelap, Serta percaya bahwa, betapapun mereka Layu dan mati, yang tersayang bagimu Musim panas yang lain niscaya akan bertemu. III. (LIFE'S VOYAGE) Επ' ἠεροειδἐα πὀντον πλαζὀμενοι. [Mengembara melintasi samudra yang berkabut.] Dengan bangga kapal-kapal riang membelah gelombang yang mengapung, Disentuh oleh jemari surya yang bercahaya, Bersukaria dalam janji fajar, dan gagah berani Mengarungi kedalaman demi menempuh perlombaan yang tak diketahuinya, Dari ketiadaan yang tak diingat oleh siapa pun Menuju pelabuhan kematian yang belum ditemukan. Keluar dari malam yang tak tertembus mereka merapat, Bertirai kabut, bergerak gelap menembus halimun; Lalu Timur pun memendar terang dan angin sepoi berembus, Dan di atas perairan kehidupan yang kian meluas kini mereka memandang, Menyapa rekan-rekan seperjalanan mereka, dan menyadari Suatu tujuan samar mulai terbangkitkan dan tumbuh di dalam diri. Dengan ringan mereka berlayar di bawah langit tanpa awan, Meluncur tanpa letih di jalan mereka yang mudah, Hingga angin berkumpul dan banjir liar menggelegak, Dan badai berkerut kening pada dahi siang, Dan mereka yang berlayar bersama hanyut kian kesepian, Tercerai-berai oleh badai yang menerjang dan pasang surut yang beralih. Padam sudah lampu-lampu suar yang tadinya menyala terang, Menjauh suara-suara pemandu yang sebelumnya karib; Perangai riang di masa jaya telah berubah Menjadi kepenatan, dan iman meredup oleh ketakutan: Bagaimana jika seseorang harus bertarung melawan hantaman gelombang, Siapa yang tahu akankah ia merengkuh pelabuhan yang ia damba? Di manakah letak pelabuhan itu, atau adakah sungguh Suatu pelabuhan damai bagi mereka yang bergulat dan bertarung— Siapakah yang berani memegang keyakinannya sebagai kebenaran, Secercah cahaya yang ia ikuti sebagai satu-satunya pendar dunia, Ketika di mata kawan-kawannya hal itu tampak hampa belaka, Atau sekadar ilusi semu dari mimpi yang kian memudar? Ke sana kemari di atas gelombang yang pasang dan surut— Jatuh dan bangkit tanpa arah mereka melaju— Barangkali kilatan cahaya, suatu panggilan nun jauh Membangunkan mereka sejenak untuk berjuang dan bersikukuh Maju dengan secercah asa, hingga ia pudar kembali, Dan membiarkan mereka terombang-ambing di lautan yang muram. Dengan buta banyak yang hanyut, dan hanyut bermimpi,— Memimpikan mimpi-mimpi kosong, atau terbangun nyaris tak melihat Apa pun selain buih dan busa serta kilatan yang tak menentu Dari jeram yang berbenturan saat mereka bergemuruh berlalu: Mereka merasakan hasrat singkat menyala di dalam diri, Atau dengan takjub menyaksikan gelembung datang dan pergi. Namun di sinilah seseorang tanpa gentar mengemudi— Atau di sana yang lain—teguh melewati gelora, Melewati badai dan kegelapan. Apakah gerangan yang menyemangati Jiwanya dalam bahaya? apakah di balik batas Penglihatan yang menuntunnya di jalan penuh marabahaya? Pastilah tak lain dari kebenaran Tuhan sendiri yang mengiringinya. Samar cahaya berkelip menembus awan buatan dunia; Percayalah engkau dan ikuti ke mana pun tampaknya ia arahkan; Segera pandanganmu akan lebih jernih, dan selubung Malam akan layu tersingkap, dan hari akan menyambut: Cahaya mungkin ternoda atau tersembunyi, namun itu tetaplah cahaya; Percayalah engkau dan ikutilah—ia bukan berasal dari kegelapan malam.