IV. (ON RE-READING 'RUTH') Seperti seseorang yang di musim dingin kehidupan yang mengering Merasakan sentuhan mematirasakan dari kematian sebeku es Mendinginkan denyut nadinya yang hangat, dan tak lagi ada sisa tempur Melawan musuh yang senantiasa membuntuti Menemukan pijar api lama di dalam dada, atau kuasa, maupun napas, Namun tahu bahwa tak lama lagi embun beku abadi akan membelenggu Organ-organ yang kian renta dari pikiran duniawinya ini: Dan menatap ke belakang melewati tahun-tahun yang berkabut Jauh melampaui masa panen dan pijar musim panas, Ke dalam pasang musim semi kehidupan yang segar nan bangkit, mendengar Suara-suara yang bergema di sekitarnya di masa silam,— Musik-mimpi manis nan asing yang seakan ia kenali, Dan dengan samar melihat wajah-wajah usang yang pernah mencerahkan Hari-hari masa kecil dengan cahaya cinta yang paling melembutkan: Layaknya seseorang di bawah kerlip bintang menapaki Jalan-jalan yang tak karib kecuali di bawah sengat matahari penuh, Ia melangkah kebingungan di mana ingatan, memancarkan Kilauan samar tak menentu, menerangi satu demi satu Pemandangan nun jauh di mana kehidupan bermula, Menggebu oleh khayalan riang dan harapan baru, Tanpa rasa takut dan teguh menghadapi segala seteru: Dan seraya menatap, ia bertanya-tanya apakah memang Kehidupan di balik tahun-tahun itu benar-benar miliknya— Miliknyakah harapan-harapan membumbung tinggi, keyakinan bersahaja itu, Semangat yang menggebu itu: hingga suatu cahaya yang merupakan Bintang pemandu kehidupannya bersinar terang di dalam Dunia masa kecil yang jauh ini, suatu tujuan ke mana arahnya Senantiasa ditetapkan tak berubah tetap sama. Demikian pula pada mata yang melewati zaman-zaman yang lama terkubur Menatap dunia yang seolah asing itu, yang berpijar Tergambar dalam api di atas halaman-halaman suci Di mana Tuhan menunjukkan firman-Nya kepada anak-anak-Nya,— Kehidupan yang lebih besar dari yang dipahami jiwa kerdil kita,— Manusia dalam kekuatan raksasa pada masa jayanya Menjulang heroik bahkan di tengah rasa bersalah dan dosa; Makhluk yang bercakap dengan Sang Pencipta,—tanda-tanda Kekuasaan terlukis agung di langit dan di bumi,— Tiang awan di siang hari dan api yang bersinar Dalam kegelapan,—wabah dan sampar serta paceklik Dan air bah,—hampir sejak napas pertama kita Telah akrab,—namun betapa aneh dan jauhnya Dari seluk-beluk demam kehidupan hari-hari kecil kita. Namun saat kita menatap kisah misterius itu, Nyaris tak merasakan kekerabatan dengan ras purba itu, Kita yang dengan dosa telah menodai dan memudarkan keagungan Hadirat Tuhan sendiri yang berwujud karena kasih karunia, Hingga Ia seakan menyembunyikan wajah-Nya di kejauhan, Menemukan sesuatu di dalam hati kita yang kebas, berdenting Merespons gema-gema dari kejauhan itu. Milik kita jua peperangan usang dengan dosa, pergulatan jiwa Dalam pusaran air hawa nafsu, milik kita jua pilihan Untuk goyah dan gagal, atau bertempur menuju tujuan Tanpa pantang menyerah; dan adakalanya hati kita bersukacita, Ketika sayup-sayup terdengar dari kejauhan datanglah sebuah suara Dari saudara-saudara sesama yang dalam pertarungan yang setara Telah berjuang menembus kelemahan dan telah memenangkan hidup mereka. Dan lebih dari segalanya, manakala barangkali bersinar di atas Awan dan kabut pekat dari hasrat yang rendah Keindahan sempurna dari cinta manusia sejati, Memancarkan sinar menembus kegelapan bagaikan api, Dan bersaksi bahwa hati manusia masih mampu mendamba Kekerabatan dengan jiwa yang bersinar dalam diri Ruth, Tentang kesetiaan seorang perempuan dan kebenaran seorang perempuan. V. Ἒπους σμικροû χἁριν. (Demi Sepenggal Kisah) Matanya bersinar terang bagai bintang bercahaya Yang menembus bayang-bayang senja dari kejauhan, Dan rambut bergelombang yang terurai dan berkilau, Menjaga pelipisnya yang berseri, tampak Seperti api peri yang menyelimuti sebuah penglihatan, Atau seringan nyala emas yang bergetar Yang bergetar dan mengintip di dahi fajar, Saat tirai malam ditarik ke belakang; Dan senyumnya laksana laut yang beriak Menyambut hangat sinar mentari dengan gembira; Dan suaranya adalah nyanyian musim semi, terdengar Dalam doa yang dilantunkan burung yang membumbung tinggi, Dan dalam hembusan angin barat yang lembut Merayu kuncup-kuncup pepohonan yang terbangun, Dan dalam alunan musik air mancur yang bebas Akhirnya lepas dari perbudakan es mereka; Dan ia melangkah dengan langkah yang ringan dan riang Seperti yang pernah dimiliki seorang peri atau dewi. Mungkinkah mata fana pada wujud yang ilahi Menatap sejenak, lalu tidak merana Oleh kelaparan yang menggebu akan makanan manis Dari bunga perawan yang cantik jelita? Untuk senantiasa memelihara cahaya lembut itu Yang menaklukkan muramnya malam gelap dunia, Dan menaburkan dalam kilaunya sebuah rasa mistis Tentang pelipur lara yang menenangkan dan sukacita yang mendalam? Mungkinkah telinga meminum sekali aliran perak Dari melodi yang tertuang dari bibirnya, lalu tak mengenal Rasa haus layaknya orang gila, yang rela menyerahkan Nyawa demi kenikmatan satu cawan yang manis? Melihat dan mendengar, awalnya ia nyaris tak menyadari Cahaya apa yang telah merekah di jalannya yang tanpa mentari, Namun ia merasakan di sekelilingnya pendaran yang menakjubkan Membanjiri ladang pandangannya, sedemikian rupa Hingga bayang-bayang menyusut seolah malu, Dan harapan menyalakan kembali sinarnya yang berkedip; Dan di atas jiwanya seolah mengalir Sebuah pengaruh yang menghidupkan, seakan-akan, Keluar dari udara yang berat dan beracun Di suatu kota yang gelap, seorang Dewa mungkin membawa Seseorang yang berjuang dengan napas yang tersengal, Nyaris sepenuhnya berada dalam cengkeraman maut, Dan menempatkannya tinggi di tepi udara Sebuah pegunungan Alpen yang berbenteng tinggi, untuk meminum Kekuatan gunung-gunung—minuman yang lebih kuat Dari anggur api mana pun yang pernah diteguk, Mengalir dengan penuh kemenangan menembus Pembuluh darahnya, dan memberinya kehidupan baru. Maka sejenak ia bersukacita, nyaris tak peduli mengapa, Dan hari-hari berlalu dengan manis dan cepat; Sayang! terlalu cepat berakhir dan hilang, Seperti bunga-bunga musim panas yang layu oleh embun beku, Yang merasakan kedengkian musim dingin dengan lebih pahit Karena penuhnya kebahagiaan di masa lalu. Itu hanyalah sebuah perpisahan, dan sering kali sebelumnya Perpisahan antar kawan, meski hatinya perih, Perpisahan dan kehilangan telah ia kenal untuk ditanggung— Itu adalah pelajaran yang kita pelajari sejak dari buaian: Namun sebuah penderitaan tiba-tiba menimpanya, Seperti seseorang yang dilemparkan dari surga ke neraka, Sesaat menunjukkan apa yang telah mengangkat hidupnya Keluar dari pertikaian yang melelahkan dan kotor Dari manusia-manusia yang berjuang dan mati demi emas, Dan menjual diri mereka bagai barang dagangan.— Dan lihatlah! semua telah berakhir, dan kehidupan sekali lagi Harus tenggelam ke kedalaman tempat ia meraba-raba sebelumnya: Untuk berpisah;—dan mungkin, takkan pernah lagi Mengenal kebahagiaan akan kehadirannya; betapa ingin Hatinya menyuarakan duka rahasianya, Dan menunjukkan seluruh kekuatan cintanya. Tentu itu adalah kekuatan yang pasti akan menang Untuk menaklukkan dunia, atau mendaki rasi surga; Jauh di atas bumi ia tampak, namun surga Bercampur dengan bumi oleh ragi manis cinta, Dan bahkan sang dewi fajar, konon kabarnya, Berkenan menikahi seorang manusia fana. Namun ketika ia menatap cahaya ilahi Yang tampak bersinar di bola mata yang bercahaya itu, Bibirnya akan goyah, dan rasa malu yang pucat membekukan Mata air cinta yang bangkit dari hatinya: Bagaimana mungkin jiwa sebebas udara Tahan untuk dibelenggu, atau merendah untuk berbagi Kehidupan duniawi dari jangkauannya yang agung? Bahkan membayangkannya pun ia anggap sebuah kejahatan,— Seakan seseorang bermimpi untuk memenangkan bagi dirinya sendiri Ratu malam dari takhtanya yang dikelilingi bintang Dan menikmati cahaya dunia sendirian,— Bagaimana jika ia berbicara, apa yang bisa ia rasakan atau katakan? Kata-kata cemoohan? atau kemarahan? Bukan, Mungkin belas kasihan untuk pikiran yang kacau, Yang dengan gegabah berusaha melambung dari dunianya. Belas kasihan lebih berat ditanggung daripada cemoohan; Lebih baik menyembunyikan betapa hatinya terkoyak: Agar kenangan akan masa yang manis itu bisa menjadi Ingatan tak berawan selamanya, Seperti suatu hari yang dari fajar hingga senja Tak pernah menunjukkan noda pada wajahnya yang cerah.— Maka ia pun pergi dari hidupnya, dan meninggalkan Hatinya kehilangan sukacita dan cahaya, Dan hanya dihuni oleh keputusasaan yang hampa, Yang tak lagi menemukan keindahan sinar mentari, Dan tak mengenal obat untuk kesengsaraannya Kecuali memudar ke dalam ketiadaan. Itu hanyalah sepatah kata dan kisahnya usai,— Dan mungkin hal serupa pernah terjadi sebelumnya, Dan ini tak membutuhkan seni miskinku ini,— Karena ia mencari penawar bagi kesedihannya Dalam amukan perang yang semerah darah, untuk memuaskan Segala pikiran dengan obat bius yang mematikan rasa Dari kegilaan pertempuran; dan menyerahkan nyawanya Layaknya anak yang hilang, dalam pertikaian di tanah asing: Dan di bawah kain kafan pasir gurun Ia terbaring beristirahat di negeri yang jauh. Dan ada seorang wanita di sana yang selama bertahun-tahun Telah berkabung dengan banyak air mata rahasia; Dan cahaya matanya meredup oleh kepedihan, Dan usia telah memutihkan rambutnya yang secerah mentari, Dan aliran suaranya yang penuh dan kaya terdengar lebih hampa; Dan langkahnya kini lelah dan lambat; Dan sedikit, kurasa, yang memahami Kisah tentang status jandanya saat masih perawan: Dan tak sepatah kata pun tentang penderitaan jiwanya ia ucapkan, Namun senantiasa nun jauh di seberang sungai kematian, Terhibur saat ia melangkah semakin dekat ke tepinya, Ia menatap ke arah pelabuhan dambaannya: Dan dengan samar pandangannya menembus kabut melihat Seseorang yang menanti dengan mata yang mengarah ke bumi, Dinyalakan oleh cinta abadi yang pijarnya Berbicara kepada hatinya bertahun-tahun yang lalu, Ketika bibir pria itu terkunci dan menganggap wanita itu lebih tinggi (Bibir pengecut!) daripada yang berani ia cita-citakan; Dan ketika wanita itu menyembunyikan dalam kebanggaannya, Cinta yang karenanya ia dengan rela akan mati.