VI. ON A ROCK IN THE WALDBACH TORRENT. Air yang melompat bergemuruh di kakiku, Bergemuruh, dan melesat di atas sayap buih putih Turun dari benteng rumah gletser mereka, Membasuh tungkai yang mengangkat kursi berbatu ini: Mereka berpisah sejenak, dan kembali bertemu Jauh di bawah ngarai, dari tempat langkah lambatku mendaki Gunung yang menjulang: bersukacita mereka mengembara, Dengan suara-suara bersemangat, bergegas untuk menyapa Hati yang tumbuh lelah oleh pertikaian yang menggerogoti Dari ambisi yang rendah,—saudara menginjak-injak Jiwa saudaranya demi mahkota perada;— Mereka membawa penyembuhan sejuk bagi hidup kita yang demam, Dan sebuah pesan manis tentang ketenangan yang hening Segar dari salju yang murni dan abadi. VII. BY THE WALDBACH. Di sini biarkan aku bermimpi sejenak, sementara sang hari Tak mengenakan satu awan pun di dahi bercahayanya, Dan kepedihan serta ketakutan pengecut menundukkan wajah mereka, Dan menyusut mundur dari cahayanya yang menembus, Dan hanya apa yang murni dan benar yang berani tinggal: Karena roh gunung-gunung yang kuat kini Menyusup ke dalam diriku, saat aku berbaring dan mendengarkan bagaimana Jauh, jauh di bawah sana air jeram bermain, Dan di dekat sampingku meluncur lembaran buih Yang curam; dan jauh di atas sana para penjaga Kurus yang dingin itu menahan jaga bisu mereka, Dan memperingatkan dunia yang tumpul dari rumah berbatu mereka: Dan aku akan merenungkan pemikiran-pemikiran yang tak terkatakan Bahkan kepada para penyair di zaman keemasan. VIII. IBIDEM Segar dari salju pegunungan, Dan padang gletser biru yang dingin, Melompat dan menari air pun mengalir; Telah lama mereka terbelenggu es dan terkunci, Dan setelah bebas pada akhirnya mereka rindu untuk pergi, Dan menemukan kekayaan apa yang mungkin dunia hasilkan Jauh di dataran di bawah sana. Pertama oleh dinding-dinding es abunya Mengerang sang jeram berputar, Dan kini ia menjadi air terjun curam yang jatuh Di atas bebatuan karena terjangan ke bawahnya, Dan berbuih dalam hiruk-pikuk guruh, memanggil Pinus-pinus yang kaku dan bisu; dan hancur berputar Mereka menundukkan kepala layaknya budaknya. Ah! tapi kalian hanya tahu sedikit, Air yang begitu kuat dan bebas, Bahwa kehidupan yang lebih utuh yang kalian cari tidaklah Seperti mimpi-mimpi yang dilihat oleh harapan muda kalian: Kebebasan akan segera, terlalu segera, mungkin didapatkan, Namun ternoda dan bermasalah arah lajumu kelak,— Itulah nasib kehidupan pada umumnya. IX. AUTUMN. Roh, yang napas diamnya Mengajarkan daun-daun yang layu Untuk bersukacita menyambut datangnya Kematian, Meski manusia berduka atas ancamannya, Kuharap telingaku dapat mengetahui Pesan kebaikan yang kau bawa, Yang membuat mereka memerah dan berpijar Lebih dari apa yang bisa dilakukan musim panas. X. 'JUSTITIA EXCEDENS TERRIS' Dahulu kala di bumi Keadilan duduk bertahta, Dan kebenaran memancar jelas dari matanya yang jernih Melayukan kecemburuan yang pucat dan membusuk Yang menemukan tempat berlabuh di hati yang berpenyakit; Namun ketika suara kebencian dan bunyi nyaring Dari kedengkian serta keserakahan mengumpulkan kekuatan untuk bangkit, Diterbangkan oleh embusan uap kebohongan yang meracuni, Menembus alam yang tadinya bersinar murni dengan kedamaian mendalam, Maka kepedihan musim dingin membeku di wajahnya yang cerah, Dan sayap putihnya ia bentangkan, dan membumbung tinggi, Di mana gunung yang tak tersegel bertemu dengan langit, Menyelimuti dirinya dengan jubah salju yang tak lekang oleh waktu: Dari sanalah dalam embusan angin yang terisak hembusan napasnya terbawa, Dari sanalah suaranya yang jauh yang dulu terdengar di dekat kita. XI. THE WAYS OF LIFE. Hari demi hari semakin menyempit Lembah yang kita susuri; Dahulu betapa banyaknya jalan Yang mengarah ke hal yang tak diketahui! Semuanya dalam cahaya pagi Bertaburkan mutiara-mutiara embun, Dan masing-masing, di mata kita yang takjub, Penuh dengan pesona baru. Seseorang di dataran yang mudah Berkeliaran, seorang lagi terbakar api Untuk menggapai puncak tertinggi, Dan mendaki dari yang tinggi ke yang lebih tinggi; Terus melewati sungai kecil yang berkilau, Atau mendaki lereng bukit yang curam, Dengan ringan kita mengambil jalan kita, Karena dunia di hadapan kita terbentang luas. Dengan ringan jalan-jalan yang bercabang Kita lewati, karena keuntungan masing-masing Tampak bagi tatapan mimpi kita Berada dalam jangkauan kita; Dan semua yang cerah di mana Keinginan masa muda kita ditetapkan, Berkumpul dan menyatu menjadi satu, Dalam kejayaan kedewasaan yang bertemu. Sedikit dari semua yang kita lihat Memiliki tujuan dari visi kita, Dan tebing-tebing gelap semakin merapat Berkerut kening di sekitar jalan kita; Dan jarang mereka terpisah untuk menyingkap Jalan keluar atau pilihan baru, Melainkan jejak yang dulu dipilih sang anak, Pria dewasa harus tetap mengejarnya. XII. To R. H. K. and J. M. K. Musim panas telah berlalu, dan langit menangis Untuk bunga yang layu dan aroma yang memudar, Dan di atas wajah hutan merayap Warna kemerahan demam bercampur dengan rasa takut yang pucat, Dan bahkan alis pegunungan meminjam Dari gumpalan awan abu-abu sebuah syal penderitaan. Musim panas telah berlalu, dan burung-burung walet yang melesat cepat Berkumpul dalam duka di jalurnya untuk dikejar, Namun bukan seperti kehilangan seseorang yang mengikuti, Mengikuti untuk menemukan, adalah kehilangan yang kusesali; Karena dinginnya utara, dan terpisah dari teman-teman sejati, Hanya sedikit yang bisa kutemukan yang tak berhati lebih dingin.