JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Di cerita rakyat, tikus sering digambarkan seperti makhluk yang menyimpan dendam. Ada yang bilang tikus bisa ingat pada orang yang pernah mengganggunya, lalu suatu saat kembali dengan maksud “membalas”. Namun klaim itu perlu dilihat lagi. Apakah tikus benar punya sifat pendendam, sama seperti cara manusia berpikir dan bertindak? Soalnya, dari sisi penelitian, perilaku tikus tidak sesederhana itu. Hewan ini punya kemampuan sosial dan ingatan yang cukup rumit. Tikus bisa mengenali individu lain. Mereka juga dapat menyimpan pengalaman tertentu. Lalu, saat berada di situasi baru, tingkahnya ikut berubah. Tikus memang bisa mengingat Salah satu pemicu anggapan tadi adalah soal memori. Kajian tentang ingatan sosial pada tikus menunjukkan bahwa mereka mampu mengenali orang atau individu yang pernah ditemui. Tetapi ini tidak langsung berarti ada “dendam” seperti pada manusia. Saat tikus menghindar. Saat tikus jadi lebih waspada. Atau ketika tikus terlihat agresif setelah kejadian tidak enak, respons itu lebih cocok disebut sebagai reaksi atas pengalaman dan kondisi sekitar. Jadi, tikus tidak otomatis sedang merencanakan pembalasan karena merasa terluka hati. Lalu, kenapa Tikus Bisa Tampak Agresif? Tikus itu hewan yang hidup berkelompok. Cara mereka berinteraksi bisa rumit juga. Kadang, saat mereka merasa terancam atau harus bersaing, sikapnya jadi lebih keras. Situasi sosial yang terasa tidak nyaman juga bisa memicu reaksi seperti itu. Di sejumlah studi tentang kehidupan tikus, agresi memang muncul sebagai salah satu bentuk respons. Tapi agresi tidak selalu berarti mereka benci orang tertentu. Yang berperan bisa banyak. Misalnya keadaan sekitar, stres yang mereka alami, hubungan sesama tikus, serta pengalaman yang pernah mereka hadapi. Jadi, kalau ada tikus yang datang lagi ke tempat yang sama setelah sempat diusir, itu tidak otomatis berarti dia berniat membalas. Kemampuan ingatan tikus ternyata lebih berlapis Hal lain yang menarik, studi tentang pikiran dan ingatan tikus terus berkembang. Hasil terbaru menunjukkan bahwa kemampuan mengingat tidak sesederhana dugaan lama. Pada Januari 2026, tim dari Indiana University melaporkan data soal bagaimana tikus mengingat urutan kejadian. Mereka juga terlihat mampu mengingat konteks yang menyertai kejadian itu. Temuan itu mendukung gagasan bahwa kemampuan kognitif tikus lebih matang dari yang dipikirkan orang. Namun, ingat kejadian saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa ada rencana dendam. Inilah perbedaan penting yang sering hilang ketika perilaku hewan diterjemahkan menggunakan istilah psikologis manusia. Jadi, Benarkah Tikus Pendendam? Jawabannya: belum ada dasar ilmiah yang cukup untuk menyebut tikus sebagai hewan pendendam. Tikus memang dapat mengingat pengalaman, mengenali individu lain, belajar dari lingkungan, dan memperlihatkan respons berbeda terhadap situasi yang dianggap mengancam. Tetapi, menyebut perilaku tersebut sebagai dendam berarti memberikan motivasi manusia kepada hewan. Lebih tepat mengatakan bahwa tikus memiliki memori dan respons sosial yang kompleks. Jika seekor tikus tampak kembali ke tempat yang sama atau menghindari seseorang setelah pengalaman buruk, kemungkinan besar perilaku tersebut berkaitan dengan proses belajar, pengenalan lingkungan, dan respons terhadap ancaman. Dengan demikian, istilah “tikus pendendam” lebih cocok dipandang sebagai ungkapan populer daripada kesimpulan ilmiah. Justru yang menarik dari tikus adalah kemampuan belajarnya yang membuat hewan ini mampu beradaptasi dengan lingkungan secara efektif. Pemahaman tersebut juga sejalan dengan perkembangan riset mengenai kemampuan kognitif tikus. Penelitian Indiana University yang dipublikasikan pada 2026 menemukan bukti bahwa tikus dapat memainkan kembali memori episodik dalam konteks tertentu, menunjukkan kapasitas memori yang lebih kompleks daripada sekadar mengingat lokasi makanan.