I: HAROLD Pada zaman dahulu kala, ada sebuah Kerajaan damai yang hampir tidak akan Anda temukan di peta. Di salah satu sudut Kerajaan di tepi laut, terdapat sebuah Kota Kecil Kisington yang cantik, tempat di mana banyak hal aneh telah terjadi di masa lalu, yang catatan sejarahnya memenuhi perpustakaan kota. Di Jalan Utama Kisington, tinggallah seorang anak laki-laki bernama Harold, yang merupakan pemimpin dari semua anak laki-laki di kota itu. Ia bisa berlari lebih cepat, melompat lebih tinggi, memecahkan masalah lebih sigap, dan melempar bola lebih jauh daripada anak-anak seusianya. Postur tubuhnya tinggi, tegap, dan berbahu lebar. Rambutnya cokelat dan ikal, dan matanya sewarna langit—kadang biru, kadang abu-abu, kadang hampir terlihat hitam. Semua anak menyukai Harold, terutama Richard dan Robert, sahabat karibnya. Dan Harold juga menyukai semua anak beserta kegiatan mereka; terutama kedua anak ini, Robert dan Richard. Harold adalah putra seorang janda miskin; salah satu yang paling miskin di seluruh Kerajaan. Namun, meskipun ia sangat miskin, ibu Harold bertekad agar putranya menjadi seorang cendekiawan, karena anak itu sangat menyukai buku. Sang ibu pun bekerja dari pagi hingga larut malam untuk mencari uang demi pendidikannya. Saat Harold tidak sedang di sekolah atau bermain di luar bersama anak-anak lain, ia selalu memegang buku di tangannya. Seringkali hal ini terjadi di perpustakaan kota, tempat yang sangat disukainya. Namun, hampir sama seringnya hal itu terjadi di rumah. Sebab, meskipun Harold suka membaca untuk dirinya sendiri, ia juga sangat suka membacakan buku dengan suara lantang untuk ibunya. Ibunya, sejak masih kecil, selalu sibuk mengurus orang lain sehingga tidak pernah punya waktu untuk belajar membaca sendiri. Kebahagiaan terbesar dalam hidupnya datang pada malam hari ketika pekerjaannya selesai. Saat itulah ia bisa duduk di kursi yang nyaman di pondok mereka dan mendengarkan putranya membacakan buku-buku seru yang didapatnya dari perpustakaan Kisington. Anak-anak lain—terutama Richard dan Robert—juga suka mendengar Harold membaca; karena suaranya enak didengar dan ia membaca dengan santai serta alami, tanpa gerakan berlebihan atau nada bergetar yang dibuat-buat, tanpa memasang ekspresi wajah aneh yang bisa membuat pendengarnya ingin tenggelam ke dalam lantai karena malu. Setiap kali Harold membacakan sebuah cerita dengan lantang, ia semakin menyukainya; setiap kali ia membaca dengan lantang, bacaannya selalu lebih baik dari sebelumnya, hingga tidak ada seorang pun di Kisington, bahkan sang Pustakawan sekalipun, yang bisa membaca sebaik Harold. Namun, anak-anak lain tidak cemburu, karena Harold sangat baik hati dan selalu sedia membacakan cerita untuk mereka. Pustakawan itu sendiri adalah tokoh yang sangat penting di Kisington. Asal tahu saja, ini adalah Kerajaan yang damai, di mana buku lebih dihargai daripada peluru, dan perpustakaan lebih penting daripada kapal perang. Sang Pustakawan mengenakan jubah beludru yang megah dengan tudung berbulu, serta rantai emas berhiaskan medali di lehernya, dan kedudukannya hanya satu tingkat di bawah Sang Wali Kota sendiri. Pada suatu malam musim panas, jendela-jendela pondok tempat Harold dan ibunya tinggal terbuka lebar, dan Harold sedang membacakan buku untuk ibunya. Tumben sekali, saat itu hanya ada mereka berdua. Sang Pustakawan, seorang pria tua kesepian yang tidak memiliki anak maupun kerabat, kebetulan sedang berjalan menyusuri Jalan Utama ketika ia mendengar suara orang membaca. Bacaan itu terdengar sangat bagus sehingga ia berhenti untuk mendengarkan. Tak lama kemudian, ia mengetuk pintu dan memohon agar diizinkan masuk supaya bisa mendengar bacaan itu dengan lebih jelas. Janda itu tentu saja sangat bangga dan senang. Ia mempersilakan sang Pustakawan masuk, dan Harold terus membaca hingga jam malam berbunyi, pertanda semua orang harus pergi tidur. Sang Pustakawan menepuk kepala Harold dan bertanya apakah ia boleh datang lagi untuk mendengar bacaan yang begitu bagus tersebut. Dan benar saja, ia kembali pada keesokan malamnya. Setelah itu, Harold biasanya memiliki setidaknya dua orang pendengar di malam-malam yang panjang, bahkan ketika anak-anak yang lain sedang sibuk. Sang Pustakawan menjadi teman akrabnya. Ia lebih suka datang ke pondok kecil itu dibandingkan tempat lain mana pun di dunia, kecuali ke perpustakaannya sendiri. Namun sebaliknya, di perpustakaan, dialah yang menjadi tuan rumah, dan Harold menjadi tamunya. Ia menunjukkan kepada Harold banyak hal menakjubkan di perpustakaan itu yang keberadaannya tidak diketahui oleh siapa pun kecuali sang Pustakawan—sejarah-sejarah aneh, tawarikh yang terlupakan, hingga dongeng-dongeng ajaib. Lambat laun, Harold menjadi hampir sama ahlinya mengenali buku-buku tersebut seperti sang Pustakawan sendiri; meskipun, tentu saja, pada awalnya ia tidak memahami semuanya. Tidak ada sesuatu yang terjadi secara instan. Anak-anak lain pun menjuluki Harold "Sang Penyihir Buku." Perpustakaan itu adalah bangunan indah yang berada di alun-alun utama, berdekatan dengan rumah Wali Kota dan menara lonceng, tempat lonceng besar kota berayun. Tempat itu terbuka secara gratis untuk siapa saja, dari pagi hingga malam, dan siapa saja bisa meminjam buku apa pun yang mereka inginkan, karena ada banyak salinan untuk setiap buku. Para pengurus perpustakaan selalu tahu persis di mana mereka bisa menemukan buku yang diinginkan. Atau, pembaca bisa masuk dan memilih sendiri; hal ini jauh lebih menyenangkan ketika Anda lupa judul buku Anda, atau belum tahu persis buku apa yang paling Anda inginkan sebelum melihat-lihat. Rak-rak perpustakaan itu dirancang dengan rapi dan rendah, sehingga tidak peduli sekecil apa pun Anda, Anda bisa mengambil buku tanpa harus berjinjit atau memanjat tangga yang berbahaya. Dan di setiap sudut perpustakaan terdapat meja-meja dengan penerangan yang baik untuk meletakkan buku, kursi-kursi empuk, bangku kecil untuk meletakkan kaki, serta bantal untuk bersandar. Terdapat pula kursi jendela yang lebar, di mana di sela-sela perpindahan bab, seseorang bisa meringkuk dan memandang taman yang indah di bawah. Udara di perpustakaan itu selalu terasa segar dan bersih. Buku-bukunya selalu cerah dan terawat. Tidak ada suara bising, debu, halaman yang sobek, ataupun tatapan sinis yang mengganggu kenyamanan. Orang-orang yang merawat buku-buku di sana selalu bersikap sopan dan suka menolong. Itu benar-benar perpustakaan yang sangat langka dan luar biasa. Pantas saja Harold, Pustakawan, dan seluruh penduduk Kisington sangat mencintainya, membanggakannya, dan sangat sering mengunjunginya.