Di antara bukit-bukit hijau yang diselimuti kabut tipis, terdapat sebuah desa kecil bernama Arunika. Desa itu tidak besar. Rumah-rumahnya berdinding kayu, atapnya berwarna-warni, dan jalan-jalannya terbuat dari batu-batu bulat yang mengilap setelah hujan. Di pagi hari, anak-anak berlarian menuju sekolah sambil membawa tas di punggung. Para petani pergi ke ladang. Para pedagang membuka kedai. Sementara para orang tua duduk di teras rumah, berbincang sambil menikmati teh hangat. Namun, Arunika memiliki sesuatu yang tidak dimiliki desa lain. Di tengah alun-alun desa berdiri sebuah lentera raksasa. Lentera itu setinggi rumah dua lantai. Kacanya bening, rangkanya terbuat dari kayu tua, dan di dalamnya terdapat nyala api kecil berwarna keemasan. Orang-orang menyebutnya Lentera Arunika. Konon, lentera itu telah menyala sejak ratusan tahun lalu. “Selama Lentera Arunika tetap menyala, hati penduduk desa tidak akan pernah kehilangan harapan,” kata Nenek Luma, penjaga perpustakaan desa, setiap kali anak-anak bertanya tentang lentera tersebut. Salah satu anak yang paling sering mendengar cerita itu adalah Nara, seorang gadis berusia sebelas tahun yang gemar membaca. Nara tinggal bersama ayahnya di sebuah rumah kecil di ujung desa. Ibunya telah lama meninggal ketika Nara masih kecil, tetapi ayahnya selalu mengatakan bahwa ibunya meninggalkan sesuatu yang lebih berharga daripada harta. “Cahaya,” kata ayahnya. “Cahaya?” “Ya. Bukan cahaya dari lampu atau matahari. Cahaya yang membuat seseorang tetap mampu berbuat baik meskipun sedang sedih.” Nara tidak pernah benar-benar mengerti perkataan itu. Sampai suatu malam, ketika sesuatu yang aneh terjadi. Lentera Arunika padam. Bukan perlahan, bukan pula karena tertiup angin. Api keemasan di dalamnya tiba-tiba mengecil, bergetar, kemudian— Puff! Gelap. Seluruh desa terdiam. Bintang-bintang masih bersinar di langit, tetapi entah mengapa malam itu terasa jauh lebih gelap daripada biasanya. Dan untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, Arunika kehilangan cahayanya. Keesokan paginya, seluruh penduduk berkumpul di alun-alun. Ada yang membawa obor. Ada yang membawa lampu minyak. Bahkan beberapa orang membawa lentera dari rumah mereka untuk menerangi jalan. Tetapi tidak ada yang berani menyentuh Lentera Arunika. Pak Raga, kepala desa, berdiri di hadapan warga. “Kita harus mencari tahu penyebabnya.” “Apakah apinya habis?” tanya seseorang. “Mustahil,” jawab Nenek Luma. “Lentera itu tidak pernah membutuhkan minyak.” “Kalau begitu, mungkin rusak.” “Lentera itu bukan sekadar benda,” kata Nenek Luma. Semua orang terdiam. Nenek Luma memandang kaca lentera yang kini kosong. “Menurut cerita leluhur, Lentera Arunika menyala dari cahaya yang dikumpulkan dari hati manusia.” Anak-anak yang mendengarnya saling berpandangan. Nara mengangkat tangannya. “Kalau begitu, apakah kita bisa mengisinya lagi?” Nenek Luma tersenyum tipis. “Mungkin.” “Mungkin?” “Dahulu, cahaya lentera berasal dari tiga hal: kebaikan, keberanian, dan kepedulian. Ketiganya tidak dapat dibeli. Tidak dapat dipaksa. Dan tidak dapat diambil dari orang lain.” “Lalu bagaimana cara mengembalikannya?” Nenek Luma menunjuk ke arah hutan di sebelah utara desa. “Di sana terdapat Hutan Senandika. Menurut legenda, di dalam hutan itu terdapat sebuah mata air bernama Mata Air Cahaya. Jika seseorang mampu menemukan sumbernya dan membawa pulang setetes airnya, mungkin Lentera Arunika akan menyala kembali.” Orang-orang mulai berbisik. Hutan Senandika terkenal sebagai tempat yang tidak biasa. Pohon-pohonnya dapat berpindah tempat. Burung-burungnya konon dapat berbicara. Dan menurut cerita anak-anak, di dalamnya tinggal makhluk-makhluk ajaib yang suka menyembunyikan barang milik manusia. Namun Nara tidak merasa takut. Ia justru merasa penasaran. “Aku akan pergi,” katanya. Ayahnya yang berdiri di belakang langsung menggeleng. “Tidak.” “Tapi, Yah—” “Tidak.” “Aku bisa ditemani.” “Justru karena itu Ayah tidak ingin kamu pergi.” Nara menunduk. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang jarang ia lihat dari ayahnya. Ketakutan. Bukan takut pada hutan, melainkan takut kehilangan dirinya. Namun malam itu, ketika semua orang tertidur, Nara duduk di dekat jendela. Ia memandang Lentera Arunika yang masih gelap. Ia teringat perkataan ayahnya. Ibu meninggalkan cahaya. Nara menggenggam kalung kecil peninggalan ibunya. “Aku akan kembali,” bisiknya. Pagi berikutnya, Nara tidak pergi sendirian. Ia ditemani oleh Bimo, sahabatnya yang berusia dua belas tahun. Bimo sebenarnya tidak berani pergi. Sama sekali tidak. Tetapi ketika Nara mengatakan akan berangkat, ia hanya menghela napas panjang. “Kalau aku membiarkanmu pergi sendirian, nanti siapa yang akan memastikan kamu tidak tersesat?” Nara tersenyum. “Berarti kamu ikut?” “Bukan karena aku berani.” “Lalu?” “Karena aku sahabatmu.” Mereka membawa bekal, sebotol air, kompas, dan sebuah peta tua milik Nenek Luma. Mereka memasuki Hutan Senandika tepat ketika matahari mulai naik. Pada awalnya, semuanya terlihat biasa. Burung berkicau, daun bergoyang, kupu-kupu beterbangan. Namun setelah berjalan cukup jauh, Bimo berhenti. “Nara.” “Kenapa?” “Bukankah pohon yang tadi ada di sebelah kiri sekarang ada di kanan?” Nara melihat sekeliling. Benar. Mereka melewati pohon besar dengan batang berbentuk seperti wajah tersenyum. Tetapi sekarang pohon itu berada di belakang mereka. “Aku rasa pohonnya berpindah.” “Pohon tidak bisa berpindah.” “Di hutan ini bisa.” “Ya, tentu saja. Kenapa aku berharap semuanya normal?” Mereka tertawa. Tanpa mereka sadari, dari balik semak-semak, sepasang mata kecil mengawasi mereka. Makhluk itu berbulu biru muda dengan telinga panjang. Namanya Pip. Pip adalah peri hutan yang bertugas menjaga jalan menuju Mata Air Cahaya. Namun selama bertahun-tahun, ia tidak pernah bertemu manusia yang berhasil melewati gerbang pertama. Pip memperhatikan Nara dan Bimo. “Menarik,” gumamnya. Ia kemudian mengambil sebuah batu kecil dan melemparkannya ke arah semak. Pluk! Bimo terkejut. “Apa itu?” “Entahlah.” Mereka mendekati semak. Pip buru-buru bersembunyi. “Tidak ada apa-apa,” kata Nara. “Jelas ada sesuatu.” “Kalau memang ada, pasti keluar sendiri.” Pip terdiam. Ia baru saja menyadari bahwa manusia itu tidak mengejar atau menangkapnya. Nara hanya melanjutkan perjalanan. Pip mengikuti mereka dari jauh. Beberapa jam kemudian, mereka tiba di sebuah persimpangan. Ada tiga jalan: jalan pertama dipenuhi bunga merah, jalan kedua dipenuhi batu putih, jalan ketiga tampak gelap dan sunyi. Di atas sebuah papan kayu tertulis: HANYA SATU JALAN MENUJU CAHAYA. Bimo menggaruk kepala. “Yang mana?” Nara membuka peta. “Menurut peta, kita harus memilih jalan yang tidak memiliki tanda.” “Yang tidak memiliki tanda?” “Ya.” Mereka memperhatikan ketiga jalan. Jalan pertama memiliki bunga, jalan kedua memiliki batu, jalan ketiga tidak memiliki apa pun. “Berarti yang ketiga,” kata Bimo. Nara mengangguk. Namun sebelum mereka melangkah, terdengar suara. “Tidak.” Pip akhirnya muncul. Nara dan Bimo terkejut, seekor makhluk kecil berdiri di atas batu. “Namaku Pip,” katanya. Bimo membuka mulut terkejut. “Kamu... bisa bicara?” “Bukankah tadi aku baru saja bicara?” Bimo menatap Nara. “Aku mulai merasa perjalanan ini terlalu aneh.” Pip menunjuk jalan ketiga. “Jalan itu memang tidak memiliki tanda. Tetapi bukan berarti itu jalan yang benar.” “Lalu bagaimana kami tahu jalan yang benar?” tanya Nara. Pip tersenyum. “Tidak ada yang tahu.” “Lalu?” “Kalian harus memilih berdasarkan alasan kalian datang ke sini.” Nara terdiam. Ia memandang kedua jalan lainnya, kemudian ia bertanya, “Apa yang terjadi kalau kami memilih jalan yang salah?” “Kalian akan kembali ke tempat semula.” “Tidak berbahaya?” “Tidak.” Bimo menghela napas lega. “Syukurlah.” Pip tertawa. “Kadang-kadang manusia terlalu takut pada kesalahan.” Nara tersenyum. “Karena kesalahan bisa membuat kita kehilangan sesuatu.” Pip menatapnya. “Dan apakah itu berarti kita tidak boleh mencoba?” Nara menggeleng. “Tidak.” Ia memilih jalan pertama. “Kalau kami salah, kami akan belajar.” Pip tersenyum lebar. “Jawaban yang bagus.” Mereka pun berjalan. Jalan pertama membawa mereka ke sebuah lembah. Namun ketika mereka tiba di sana, Nara melihat sesuatu yang membuatnya berhenti. Di tengah lembah terdapat sebuah sungai kecil. Di tepinya duduk seekor makhluk besar berwarna abu-abu. Makhluk itu memiliki tanduk kecil dan tubuh seperti perpaduan antara rusa dan beruang. Ia sedang menangis. Bimo berbisik. “Apakah kita sebaiknya lari?” Nara menggeleng. “Dia sedang sedih.” “Dia juga besar.” Nara mendekati makhluk itu. “Halo.” Makhluk tersebut menoleh. “Pergilah.” “Kenapa?” “Aku tidak ingin merepotkan siapa pun.” Nara duduk beberapa langkah darinya. “Namamu siapa?” “Ranu.” “Kenapa kamu menangis?” Ranu menunduk. “Aku kehilangan rumah.” Nara memperhatikan sekitar. “Rumahmu di mana?” “Di balik sungai. Tapi jembatan kayunya hanyut.” Bimo melihat sungai. “Bukankah kita bisa membuat jembatan baru?” Ranu menggeleng. “Aku sudah mencoba.” Ia menunjukkan tumpukan kayu yang berserakan. “Tapi aku tidak bisa melakukannya sendirian.” Nara tersenyum. “Kalau begitu, kita bantu.” Bimo menatap Nara. “Kita?” Nara mengangguk. “Bukankah kita sedang mencari cahaya?” Bimo memahami maksudnya. Mereka bertiga mulai mengumpulkan kayu. Pip membantu mengikat ranting menggunakan sulur tanaman, Bimo menyusun papan, sementara Nara mencari batu-batu besar untuk menopang jembatan. Mereka bekerja hingga sore. Akhirnya jembatan itu selesai. Ranu berdiri di atasnya. Ia menatap Nara. “Terima kasih.” Nara tersenyum. “Kamu tidak perlu berterima kasih.” “Kenapa?” “Karena kalau suatu hari kami membutuhkan bantuan, mungkin kamu juga akan membantu kami.” Ranu mengangguk. Kemudian sesuatu terjadi. Dari tubuh Ranu muncul sebuah titik cahaya kecil. Cahaya itu terbang ke arah Nara dan berhenti di telapak tangannya. Nara terkejut. “Apa ini?” Pip tersenyum. “Itulah cahaya kepedulian.” Cahaya itu kemudian masuk ke dalam botol kecil yang dibawa Nara. Satu dari tiga cahaya telah mereka temukan, kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Malam tiba. Mereka beristirahat di bawah pohon besar. Bimo tertidur, Pip juga tertidur. Namun Nara masih terjaga. Ia melihat cahaya kecil dari botol. Ia teringat ibunya. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam hutan. “Nara.” Nara berdiri. “Siapa?” “Nara...” Suara itu terdengar seperti suara ibunya. Jantung Nara berdegup kencang. Ia mengikuti suara tersebut. Semakin jauh ia berjalan, semakin jelas suara itu. “Nara, kemarilah.” Di antara pepohonan, ia melihat cahaya. Dan di dalam cahaya itu berdiri sosok yang sangat ia kenal. Ibunya. Nara membeku. “Ibu?” Sosok itu tersenyum. “Pulanglah, Nara.” Air mata Nara mengalir. “Ibu...” “Kamu sudah cukup berjalan. Kamu tidak perlu melanjutkan.” Nara hampir mendekat. Namun ia berhenti. Ada sesuatu yang terasa salah. “Ibu tidak pernah memanggilku seperti itu.” Sosok tersebut terdiam. Nara mundur. “Dan Ibu tidak pernah menyuruhku menyerah.” Wajah sosok itu berubah menjadi kabut. Hilang. Dari belakang pohon, Pip muncul. “Itu adalah bayangan kesedihan.” Nara menghapus air matanya. “Aku hampir percaya.” “Karena kamu merindukannya.” Nara mengangguk. “Aku masih sering merindukan Ibu.” “Itu bukan hal buruk.” “Tidak?” “Tidak. Merindukan seseorang berarti pernah mencintainya.” Nara tersenyum kecil. Saat itu, muncul cahaya kedua. Lebih terang daripada cahaya pertama. “Kamu telah menghadapi kesedihanmu,” kata Pip. “Ini cahaya apa?” “Keberanian.” Cahaya kedua masuk ke dalam botol. Kini tinggal satu cahaya. Kebaikan. Pagi berikutnya, mereka menemukan Mata Air Cahaya. Airnya berwarna bening keemasan. Di atasnya melayang ribuan kunang-kunang. Nara hampir bersorak. “Kita berhasil!” Namun Pip tidak tersesat. “Ada satu masalah.” “Apa?” “Mata air itu hanya akan memberikan cahaya kepada seseorang yang benar-benar memahami arti kebaikan.” Nara mengerutkan kening. “Bukankah membantu Ranu sudah cukup?” “Belum tentu.” Mereka mendekati mata air. Nara mengambil botol. Tetapi ketika ia mencoba mengambil air, botol itu tetap kosong. Ia mencoba lagi. Tidak berhasil. Bimo ikut mencoba. Tetap kosong. Pip menghela napas. “Mungkin kalian belum menemukan jawabannya.” Nara duduk di tepi mata air. Ia berpikir. Kebaikan. Apa sebenarnya kebaikan? Membantu orang? Berbagi? Menyelamatkan seseorang? Ia melihat ke dalam air. Kemudian ia menyadari sesuatu. “Pip.” “Ya?” “Apakah kamu tahu kenapa mata air ini tidak memberikan cahaya?” Pip menggeleng. “Karena mungkin... kita terlalu sibuk mencari cahaya untuk diri sendiri.” Pip terdiam. Nara berdiri. Ia melihat sekeliling. Hutan itu sunyi. Namun ia mendengar suara kecil. “Pip.” “Hmm?” “Kamu menjaga hutan ini sendirian?” Pip mengangguk. “Sudah lama.” “Apakah kamu pernah merasa kesepian?” Pip tidak menjawab. Nara mendekatinya. “Kalau begitu, mungkin cahaya terakhir bukan untuk kami.” Pip menatap Nara. Nara membuka botol. Ia mengeluarkan dua cahaya yang telah dikumpulkannya. Cahaya kepedulian dan keberanian melayang di udara. “Aku ingin memberikannya kepada Pip.” Bimo terkejut. “Tapi kalau kita memberikannya, bagaimana dengan lentera desa?” Nara tersenyum. “Kalau cahaya hanya disimpan untuk diri sendiri, bukankah itu sama saja seperti tidak memiliki cahaya?” Pip menatap Nara dengan mata berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, ada manusia yang tidak datang untuk mengambil sesuatu dari hutan. Ia datang untuk memberi. Tiba-tiba— Wuuushh! Seluruh hutan dipenuhi cahaya. Mata Air Cahaya bersinar terang. Dari permukaannya muncul satu tetes air keemasan. Tetes itu melayang menuju botol Nara. Pling! Botol tersebut kini berisi tiga cahaya. Kepedulian. Keberanian. Dan kebaikan. Pip tersenyum. “Itulah cahaya terakhir.” Nara menatap botol. “Jadi kebaikan itu...” “Bukan tentang apa yang kita dapatkan.” Pip melanjutkan, “Tetapi tentang apa yang bersedia kita berikan, bahkan ketika tidak ada yang menjanjikan balasan.” Nara, Bimo, dan Pip kembali ke Desa Arunika. Ketika mereka tiba, seluruh penduduk berkumpul di alun-alun. Ayah Nara berlari memeluknya. “Kamu membuat Ayah khawatir.” “Maaf, Yah.” Ayahnya menghela napas. “Tapi Ayah senang kamu pulang.” Nara kemudian berjalan menuju Lentera Arunika. Ia membuka botol. Tiga cahaya keluar. Cahaya pertama berwarna hijau. Cahaya kedua berwarna biru. Cahaya ketiga berwarna keemasan. Ketiganya masuk ke dalam lentera. Untuk beberapa detik, tidak terjadi apa-apa. Kemudian— Praaang! Cahaya keemasan memenuhi seluruh alun-alun. Lentera Arunika menyala kembali. Namun kali ini cahayanya berbeda. Dahulu, nyalanya hanya berasal dari satu api. Sekarang, di dalamnya terdapat ribuan titik cahaya kecil yang bergerak seperti kunang-kunang. Setiap titik berasal dari satu kebaikan. Dari seorang petani yang berbagi hasil panennya. Dari seorang anak yang menolong temannya. Dari seorang ibu yang memaafkan anaknya. Dari seorang ayah yang berani mengakui kesalahannya. Dari seorang sahabat yang tetap tinggal ketika keadaan menjadi sulit. Dan bahkan dari seorang gadis kecil yang berani pergi jauh hanya untuk mengingatkan desanya tentang arti kebaikan. Nenek Luma tersenyum. “Sekarang kalian mengerti.” Nara mengangguk. “Lentera itu tidak menyimpan cahaya.” Nenek Luma tersenyum. “Lalu?” “Lentera itu mengingatkan manusia bahwa mereka sendirilah sumber cahayanya.” Sejak hari itu, Arunika berubah. Penduduk desa mulai melakukan banyak hal kecil yang sebelumnya sering mereka lupakan. Mereka mulai saling menyapa. Mereka lebih sering membantu tetangga. Anak-anak tidak lagi menertawakan teman yang melakukan kesalahan. Orang-orang dewasa mulai belajar meminta maaf. Dan setiap sore, ketika matahari mulai tenggelam, warga berkumpul di alun-alun. Mereka tidak datang untuk menyembah lentera. Mereka datang untuk mengingat. Bahwa sebuah desa tidak menjadi terang karena memiliki lentera. Sebuah desa menjadi terang karena orang-orang di dalamnya bersedia menjadi cahaya bagi satu sama lain. Nara pun sering duduk di bawah Lentera Arunika bersama Bimo dan Pip. Ya, Pip akhirnya memilih tinggal di desa. Ia menjadi teman bagi anak-anak dan penjaga kebun di belakang perpustakaan Nenek Luma. Suatu malam, Nara bertanya kepada Pip, “Menurutmu, apakah Lentera Arunika akan padam lagi?” Pip memandang cahaya di atas mereka. “Mungkin.” Nara terkejut. “Kenapa?” “Karena tidak ada cahaya yang bisa dijaga hanya dengan satu orang.” Nara terdiam. Kemudian tersenyum. “Kalau begitu, kita harus menjaganya bersama-sama.” Pip mengangguk. “Bukan hanya lentera.” “Apa?” “Harapan.” Nara memandang langit. Bintang-bintang berkelip di antara awan. Ia akhirnya memahami perkataan ayahnya bertahun-tahun lalu. Ibunya memang meninggalkan cahaya. Bukan cahaya yang bisa digenggam. Bukan cahaya yang bisa disimpan dalam lentera. Melainkan cahaya yang hidup dalam setiap perbuatan baik. Dan selama masih ada seseorang yang mau peduli, seseorang yang berani berbuat benar, dan seseorang yang memilih berbuat baik—cahaya itu tidak akan pernah benar-benar padam. Di tengah Desa Arunika, lentera itu terus menyala. Bukan karena ia menyimpan cahaya. Melainkan karena ia selalu mengingatkan manusia—bahwa cahaya terbaik bukanlah cahaya yang kita miliki, tetapi cahaya yang kita bagikan.