(THE MYSTIC CIRCLE) Delapan penabuh lonceng yang kekar Di loteng menara lonceng; Delapan pemuda bermata tajam, berotot tegap, dan berbibir bersih, Membentuk sebuah lingkaran mistik, Berdiri seimbang dengan ujung kaki, Tangan terangkat di atas kepala, Menunggu. Delapan tali kuat menggantung penuh rahasia Dari kasau berdebu yang tak menyingkap apa-apa. Lonceng-lonceng bersiap untuk berdentang, Meski mereka tak terlihat, Menunggu. Kata ajaib diucapkan oleh sang pemimpin— "Mulai!" (Dengan aksen Inggris yang tak terbantahkan.) Lonceng bernada tinggi memberi tanda pertama, Nada-nada riang yang berpacu pun menurun. Isyarat melesat dari mata ke mata; Sistem ketukan Bob-major double, Sebuah kombinasi urutan yang rumit, Keajaiban matematika yang diselesaikan dalam wujud suara; Mazmur sukacita! Sementara lengan-lengan kokoh menarik dalam urutan yang antusias, Dan mata-mata cerah itu berbinar. Lonceng-lonceng! Lidah mereka terlepas. Pesona lingkaran mistik telah menghidupkan mereka, Telah mengangkat kutukan keheningan Dan memberikan suara pada sukacita mereka. Di menara di atas para pemuda, (Begitu dekat, tak terlihat,) Mereka berseru hingga kasau-kasau bergetar; Pesta roh-roh yang jujur dan tak terbelenggu, Layaknya anak-anak polos dengan suara lantang dan jernih, Riang, bebas, dan tanpa beban. Sekelompok delapan lonceng yang berjungkir balik, Memuji Tuhan dalam kegembiraan. Lebih jauh ke atas lagi, Tinggi di dalam kubah gereja, Terungkap dalam nada-nada atas yang halus dan bergetar, Layaknya kepakan sayap-sayap besar, Paduan suara surgawi menyanyikan Te Deum Bergabung dalam lagu; Malaikat-Malaikat Lonceng, Perantara lembut antara bumi dan surga, Mengembuskan kebahagiaan suci, menyanyikan pujian yang tak terlukiskan. Di atas, di atas lagi, Jauh di atas puncak menara yang runcing, Di atas kota yang mendidih dan dunia yang berdosa, Di atas nyanyian dalam hati manusia, Keriuhan lonceng, paduan suara malaikat— Keheningan. Harmoni abadi dari segala suara, Pujian-pujian ciptaan yang saling berpadu dan terangkat, Melebur ke dalam ketenangan, Keheningan yang adalah Tuhan: Tuhan yang mendengarkan; Tuhan yang merestui; Tuhan Sukacita, Memberkati malaikat-malaikat dan lonceng-lonceng-Nya, Memberkati para penabuh dengan wajah-wajah terpesona, Tegang, penuh bakti, Yang menyempurnakan ritual suara Di dalam tugas keagamaan. Delapan pemuda Di dalam lingkaran mistik, Yang pusatnya adalah pusat alam semesta, Tuhan. (SONG OF THE BOOKWORM) Siapa yang mendamba sayap untuk mengembara Melintasi lautan atau pegunungan di sana? Siapa yang mau bergantung pada kepakan yang berisiko, Dan menjadi hamba dari hembusan angin, Ketika jiwa, bagaikan burung, melayang, Terbawa di antara dua sampul kulit? Ini adalah sayap-sayap yang akan diidamkan oleh peri, Atau ditangisi oleh kerub yang menggemaskan! Maka Kutu Buku yang berdebu itu pun bergetar Menjadi hidup; kepompong itu menggigil, Meledak ke dalam dunia kejayaan, Terbawa pada sayap-sayap cerita yang berwarna, Puisi, roman, atau dongeng peri— Sayap-sayap dari lembar buku yang tipis dan ringan; Melayang dan mengepak pergi, menjauh, Menuju Tepian Avon atau Cathay yang jauh. Tiada negeri yang terlalu asing, terlalu jauh, Dari kutub ke kutub, dari bintang ke bintang, Di mana ia tak bisa singgah tanpa halangan, Tanpa pajak, tarif, atau biaya yang memberatkan. Hei untuk Mesir! Ho untuk Arden! Hutan Mowgli, taman Omar! Tiada yang bisa membatasi, tiada yang bisa menahan, Ketika sang Kutu Buku terbang menjauh! (THE BOOKS I OUGHT TO READ) Di rak-rak berdebu dalam barisan rapat mereka berdiri, Ribuan saksi yang mencela, unik, serius, dan agung. Hati nuraniku yang bersalah mendengar perintah bisu mereka, Namun hari demi hari—mereka tetap menunggu. Pasukan mereka tumbuh makin mematikan setiap tahun; Nama-nama kapten mereka tak bisa kuingat di kepalaku. Seorang teman di tengah barisan itu, kutakutkan, Akan sangat sulit untuk ditemukan. Namun ke rak sudut yang paling sering dilupakan, Aku menyelinap, dan tak mengindahkan hati nuraniku, Bersama sahabat-sahabat karib. Padahal mereka ini bukanlah Buku-buku yang harusnya kubaca!