JOHN TOWNSEND TROWBRIDGE 12 FEBRUARI 1916 Penyihir masa muda! Entah berapa tahun sudah, Sejak pertama kita merasakan keajaiban ceritamu, Namamu telah menggetarkan telinga anak-anak Yang sangat mengenal sihirmu. Kepala mulia berambut seputih salju, Wajah dengan kilau surya; mata yang tajam dan ramah; Sosok yang tegak dan anggun, Hati yang murah hati dan bijaksana. Penyair kami tak lagi berjalan di muka bumi! Suara merdumu tak lagi terdengar. Oh, betapa kami merindukan hangat genggaman tanganmu, Dan kata-katamu yang ramah dan berharga! Namun di dalam hati yang membagikan cintamu, Di dalam teman-teman tak terhitung yang tak pernah kau jumpai, Di dalam masa kanak-kanak dunia di mana pun, Hidupmu masih terus bernyanyi. Gurauan riangmu; emas murni pemikiranmu; Pencarian kesatriamu dan seruan juangmu; Lagu-lagu yang kau nyanyikan, kisah-kisah yang kau tuturkan— Gemanya tidak pernah mati. Mereka menjadi bagian dari diri kami saat ini, Dari segala hal terbaik yang kami pikirkan dan lakukan. Negeri yang kau cintai ini jauh lebih baik Karena para pemudanya mencintaimu! (THE JOY-VENDER) Giovanni Carbone, pincang dan tua, Mendekap seikat balon yang terus memberontak; Balon-balon bagai anggur raksasa yang ranum, Berbalut kulit berkilau dan bentuk yang paling bundar. Mereka menghindar dan menarik-narik ingin lepas, Layaknya anak-anak, merajuk saat dikendalikan. Pagi dan petang jiwa yang sabar itu Berdiri sambil tersenyum dan mengangguk, Di sudut jalan tempat angin bermain, Dan pawai anak-anak melintas setiap hari; Sebab kincir angin berputar di tangannya yang lain. Kincir bermahkota bunga dengan aneka rona Yang dikenal di tanah kelahirannya yang sewarna opal, Dengan sibuk dan pusingnya mendesing dan menderu, Menciptakan mawar-mawar dari bias pelangi, Terlalu menakjubkan untuk menjadi nyata. Giovanni menjaga sudut itu dengan baik; Seorang penyihir ramah, yang siap menjual Demi sekeping uang kotor Sebuah kebahagiaan mencolok, di hari yang cerah. Kebahagiaan yang rapuh! Hanya mainan cantik, Lemah dan tak berguna di mana saja; Kecuali bagi anak laki-laki dan perempuan Yang kosong dan tak bermakna bagai udara! Betapa bayi-bayi mencintai benda-benda konyol itu! Tangan gemuk berbalut sarung tangan mereka menggapai, Mengerucutkan bibir merah muda dengan ucapan cadel, Membujuk sang penyihir berwajah keriput Untuk merelakan harta karunnya, Kebahagiaan yang memiliki sayap. Ia cukup rela, untuk satu atau dua nikel— Dan apalah arti sebuah nikel bagiku dan bagimu? Ia meringis dan mengangguk dengan keanggunan seniman, Senang melihat kesenangan polos anak-anak itu. Ia dengan santai mengantongi sen yang disodorkan, Menambatkan dagangannya ke pagar besi. Dengan jari-jari lembut ia mengikat talinya Pada kancing-kancing kecil yang bangga; ia menyelipkan tongkat— Tongkat peri—ke tangan bayi. "Va bene!" (Baiklah!) Berangkatlah menuju Negeri Ajaib! Giovanni Carbone! Tak heran kau tersenyum lebar, Dengan matamu yang berbinar di wajah sekering perkamen; Pemasok mimpi bagi mereka yang tak berdosa; Pembuat tawa alih-alih derita; Penjual kepuasan yang utuh dan sempurna. Aku mengiri padamu lagi dan lagi Pada pekerjaanmu dan sedikit uang keajaibanmu, Dan pada tempat berdirimu yang sejuk, di hari yang cerah. (THE SPARROW) Burung kecil berwarna cokelat berdebu, Mengapa kau bertahan di kota ini, Di tengah bising, kotor, dan panas terik Melompat-lompat di jalanan yang buruk rupa? Burung penyanyi lain memilih pergi Ke tempat rumput dan semanggi tumbuh, Di mana embun menempel di bukit Dan hutan-hutan rindang begitu sunyi; Di mana aliran sungai kecil berlompatan, Dan lumut hijau yang sejuk meneteskan air. Di sanalah esok hari aku akan berada! Burung gereja, apakah kau iri padaku? Burung lancang, lincah, dan sigap, Bertahan di atas batu dan bata— Anak-anak kecil juga bertahan di sini, Yang mungkin saja menyukaimu; Pucat dan menyedihkan untuk dilihat, Sakit dan mungkin berduka juga. Mereka hanya bisa bermimpi, namun tak bisa berkeliaran Di tempat pakis dan aster bermain. Sepanjang musim panas yang gerah Mereka takkan mendengar burung selain dirimu, Biasa dan murahan, tajam dan melengking, Berkicau, berkicau, terus berkicau, Mematuk serangga, remah-remah, dan sebagainya. Namun—kau memiliki anugerah sayap! Mereka bisa melihatmu melesat dan terbang Bebas dan tinggi menuju pohon dan langit— Satu-satunya kawan kecil yang dikirimkan Yang bisa membawakan mereka kabar dari surga! Burung gereja, meski aku lari menjauh, Apakah karena itu kau memilih untuk tinggal? SYLVIA Sylvia selalu ceria. Ketika ia bersayap turun ke bumi suatu hari, Melewati keajaiban-keajaiban langit, Ia menangkap sebuah bintang saat terbang melintas, Hijau, emas, dan kecubung, Di dalam kepalan bayi mungilnya, Dan menyembunyikannya di dada kecilnya Sebagai rahasia yang tak diakui. Layaknya lentera berhias permata Ia bersinar agar seluruh dunia melihatnya. Di matanya percikan itu memancar, Dari rambutnya yang berkilau cahaya itu bersinar; Memancarkan radiasi pada semua yang ia lakukan dan katakan, Pada semua tingkahnya yang cantik dan jenaka— Hanya karena ia berani meragi Hidup dengan secercah surga. Sylvia! Tanpa percikanmu, Oh, perjalanan ini akan terasa begitu gelap.