(DANGEROUS PASSING) Siapa yang berani masuk ke Hutan Ajaib? Siapa yang menantang jalan bersinar bulan, Penuh bahaya di bawah banjir perak, Meski cukup aman di siang hari? Siapa yang menyibak embun mistis Untuk mendengar seruling Pan, Dan mengintai rombongan penari kami? Waspadalah, Wahai Gadis, Wahai Pria! Kaum Mungil bersembunyi di balik pohon Dan menyergap dari balik pakis; Keculasan kami berbisik di hembusan angin— Hai Para Pelanggar, kembalilah! Terkena sihir, masing-masing akan tampak Berubah wujud dan bersifat ilahi; Wajah kalian bersinar dengan keindahan ganjil, Bibir kalian menyimpan anggur yang memabukkan. Kalian akan melupakan apa yang kalian cari; Tak peduli pada apa pun di sekeliling, Tangan saling menggenggam dan pipi saling beradu, Menjadi mainan bagi kumpulan peri. Kami menjerat agar tak pernah bisa bebas Kaki-kaki yang melangkah terlalu jauh. Waspadalah pada sihir cahaya bulan, Pada keajaiban sebuah bintang! (THE DRYAD) Aku adalah Driad yang terkurung dalam sebatang pohon, Namun tak menganggapnya sebagai sel, karena begitu rapat dan baik hati; Hingga jari-jari ceroboh seseorang menemukan kunci Dan membebaskanku pada matahari, langit, dan angin. Heigho! Dunia luar tampak sangat manis, Karena semua misteri yang diterangi matahari adalah hal baru, Lumut-lumut kecil nan lembut membelai kakiku, Aku meminum anggur bunga dan embun kristal. Aku mendengar kisah-kisah aneh dari burung dan lebah; Pipiku merindukan kecupan hangat sang surya; Aku ikut bermain liar dengan angin yang sembrono, Dan mengejek gema yang mengejekku kembali. Namun saat senja tiba dan seluruh dunia Melipat diri untuk istirahat tanpa memikirkanku, Dengan rasa takut yang menggigil saat kegelapan membentang, Aku mendambakan perlindungan di pohon kuno itu. Matahari telah pergi dan kini hatiku dingin! Temanku sang angin, kelelahan sehabis bermain, Tertidur di atas bunga-bunga; sementara semua emas Telah memudar dari kejayaan siang hari. Wahai Pohon Ek besar yang baik, kurung aku dalam kulit kayumu! Aku terkulai, pingsan, dan tak mampu lagi mengembara. Namun meski ke seluruh dunia aku mencari di dalam gelap, Aku tak bisa menemukan pintu keriput biarawatiku. Wahai Pohon Ek besar yang baik, jangan biarkan aku mencari sia-sia Driad tak berdaya, diasingkan dari pohonnya! Ah, aku hanya ingin merasakan genggaman kekuatanmu lagi Di antara dunia yang kejam, sembrono, dan diriku! (FAIRY WINE) Kau dari timur dan aku dari barat Berdua kita tersandung masuk ke Negeri Peri; Dan di sana kita mengembara, riang dan terberkati, Melewati labirin-labirin kurcaci, bergandengan tangan. Mereka menuangkan secangkir ramuan ajaib Dan meletakkan sihir di mata kita; Aku mengira aku telah membaca isi hatimu, Kau melihatku dalam wujud seorang peri. Keluar dari bukit keajaiban kita melangkah; Kita berkedip dan tergagap, liar dan pucat. Karena kau dan aku masihlah sama, Namun lihatlah! sihir itu telah lenyap! Maka, pergilah ke jalanmu dan aku ke jalanku, Kau ke barat, aku ke timur. Tapi ah, betapa manisnya anggur peri Yang kita sesap bersama di pesta itu! (WEBS) Oh, mereka membentangkan jaring perak mereka Di atas rerumputan yang diterangi bulan, Jaring dunia peri mungil mereka yang cerah, Untuk menangkap Mimpi-Mimpi yang melintas. Mimpi penuh kerinduan yang tercuri dariku Dan merayap pergi menuju dirimu, Mereka menjeratnya dalam simpul-simpul berkilau Tersusun dari ilmu sihir dan embun. Dan sst! Pikiran kecilmu yang tersipu malu, Begitu polos dan cemerlang, Telah terperangkap dalam jaring perak yang sama Dan dijaga bersama milikku semalaman. Lalu ah! Apa yang harus kita lakukan Pada esok hari nanti, Mimpi kita saling terjerat erat begini Dan tak bisa melepaskan diri? (THE FAIRY FORT) Saat aku melintas di benteng peri Kudengar sebuah suara kecil tertawa dan berkata— "Sst! Apa manusia-manusia ini sungguh nyata? Aku takkan percaya, tidak!" "Ya, tapi bukankah kau melihat makhluk-makhluk itu dengan jelas?" "Tapi hanya karena melihat tak lantas menjadikannya benar, Sama seperti tak melihat bukanlah sebuah bukti; Yang terpenting adalah apa yang mereka pikir dan lakukan. "Mereka hanya punya iman pada apa yang mereka lihat, Dan mereka buta seperti burung hantu di siang bolong— Kecuali anak-anak kecil yang tersayang, Dan beberapa orang berjiwa anak-anak. "Mereka mengejar hal-hal fana sepanjang hari— Uang dan kenyamanan dan ketenaran dan kuasa— Tak pernah punya waktu untuk bersuling dan bermimpi, Atau bergunjing dengan sekuntum bunga. "Makhluk yang begitu bodoh dan aneh! Aku takkan percaya pada mereka, tidak akan! Ayo, mari kita mainkan nada riang yang nyata dan benar, Dan tinggalkan saja makhluk-makhluk itu." Saat aku melintas di benteng peri Kudengar suara suling kecil yang manis; Aku jadi bertanya-tanya, apakah Kaum Mungil itu nyata, Atau apakah aku ini sungguh nyata?