(THE KNOCK) Apakah kau mengetuk pintu, Sayangku? Mengetuk, dan aku tak mendengarnya? Apakah aku terlalu sibuk mengikat rambutku, Dan menyematkan bunga untuk membuatku cantik; Mempelajari buku agar aku menjadi bijak, Atau membuatkanmu lagu untuk kejutan manis? Mengaduk adonan kue, Memanjatkan doa, Semua demi dirimu, Semua demi perhatianmu— Begitu bahagia sibuknya, aku tidak mendengar Saat kau mengetuk, Sayangku! Akankah kau berlalu ke pintu lain, Dan tak lagi mengetuk pintuku? Haruskah aku mendengarkan, menunggu, dan merindu, Tiada lagi tawa, tiada lagi nyanyian? Namun tetap dengan mawar pudar di rambutku, Tetap di bibirku doa yang bergetar; Hingga api padam Menyisakan satu percikan. Mengakhiri keraguan; Dan dalam kegelapan hampa, Haruskah aku duduk dan mendengar Ketukan, ketukan, ketukan jantungku? Sayangku! (AN OLD-WORLD CONVENT GARDEN) Tenang terpagari dari kebisingan. Yang begitu dekat, dari perselisihan duniawi; Kedamaian tertutup di dalam, Kehidupan yang terpisah dari hidup. Kuil-kuil bernaung dalam mawar manis, Dan di lembah yang tersembunyi Aus oleh tapak kaki yang terbiasa, Sebuah sumur suci. Sepanjang tembok kuno Buah-buahan berjemur di bawah sinar matahari; Bunga-bunga bersinar dan tinggi— Masing-masing menggoda. Lebah-lebah sibuk di batang, Burung-burung kawin di semak liar— Di sini seorang Biarawati pucat berjalan, Menghitung tasbih doanya. Tembok tinggi untuk menyingkirkan Kebahagiaan dan kepedulian dunia yang fana! Wahai Burung-burung, anak-anakmu bersembunyi Di tempat suci di sana. Tembok tinggi baginya, bagiku— Namun ah! bagi sayap-sayap, betapa rendah; Burung-burung kecil terberkati, begitu bebas Untuk datang—dan pergi! (A SEPTEMBER BIRTHDAY IN BRITTANY) UNTUK C. N. B. Siapa yang menghitung tahun-tahun yang bodoh? Brittany milik kita ini, Dengan semua harapan dan ketakutan yang terkumpul, Gulungan senyum dan air matanya, Adalah muda, di tengah bunga-bunga manisnya yang abadi. Di sekitar kuil-kuil sepi yang ditinggalkan Penyanyi-penyanyi merdu masa kini berkicau riang; Menenun mantra modern mereka Melalui barisan perkasa Carnac Anak-anak yang terbakar matahari bermain, Mengetahui, barangkali, rahasia kuno itu dengan baik. Di atas kota Ys yang terkubur, Nelayan-nelayan tangguh mendayung perahu pelangi mereka; Menatap ke kedalaman biru langit, mereka mendesah, Memimpikan Dahut yang cantik, dan alam yang lebih cerah dari ini, Merindukan sentuhan ciumannya. Namun cinta dari rumah menanti mereka di darat; Tak lama lagi mereka takkan mendesah lagi. Sukacita masa kini, penuh cahaya dan kehidupan, Keyakinan akan tahun-tahun mendatang, dengan janji yang melimpah— Kekasih lautan, Betapa mudanya Brittany! Siapa yang menandai mundurnya bulan-bulan? Ini bukanlah musim gugur saat mawar sedang mekar, Saat stroberi terasa manis, Dan magnolia seputih salju yang agung mengembuskan keharuman. Hari September yang cerah ini, Dengan langit bercahaya dan udara sejuk yang menari, Memperbarui kebahagiaan dalam setiap makhluk hidup, Adalah Musim Semi! Adalah Musim Semi! Begitu pula denganmu, Ibu tersayang! Berhati muda, Bijak dalam mimpimu, jiwa yang penuh misteri, Lembut dalam keyakinan dan kebenaran. Lihatlah, di tangan lembutmu kau memegang kunci Musim Semi abadi, dari puncak semangat; Kau menjadikan waktu sebagai budakmu. Dengan ketakutannya yang jahat, Dan secerah hari musim semi ini Mendekap seperti permata tahun-tahun yang terangkai Yang kau kenakan dengan begitu ringan, Siapa yang berupaya menghitungnya, Mengagumi betapa manisnya engkau menyatu dengan usiamu? Vitré 3 September 1913 (THE BLAZED TRAIL) Tepat ketika jalan setapak menghilang dariku, Pengembara yang kebingungan di dalam labirin, Pada sebatang pohon yang tak terduga Aku melihat torehan tanda sang Penebang Kayu; Sebuah rima mistis dari penglihatan atau suara, Pesan singkat dari indra ke dalam jiwa, Yang mengangkat semangat dari atas tanah Dan memacunya menuju tujuan. Bunga angin mengangguk di dekat pohon ek Telah memberikan kepastian dari jauh; Pernah di dalam gelap sebuah keharuman berbicara, Dan pernah pula ia adalah sebuah bintang. Kicauan keperakan burung thrush; Letupan nyala api yang terbenam; Desah angin, keheningan yang tiba-tiba— Aku keluar dari kedalaman. Sebuah tantangan membara pada keputusasaan Terlintas dari buku yang terbuka begitu saja; Doa bisu seekor makhluk kecil yang tak bersuara, Tatapan mengungkap dari seorang teman; Dan semua kengerian yang meragukan memudar, Hati yang letih kembali melonjak riang. Menembus semak belukar yang kusut di dalam keteduhan, Jejak itu tampak lebar dan jelas. (BUT THERE ARE WINGS) "Betapa besarnya itu, Kebiruan di mana-mana!" Di antara dua lautan, waktu bermainnya baru saja dimulai, Si kecil yang pemalu dan kebingungan itu gemetar. Di atasnya bergulung kedalaman udara tanpa tepi Tercermin di matanya yang biru langit; dan di sana Dekat ke kakinya dengan amarah bergemuruh berkejaran Air yang berdesakan, sewarna merak di bawah sinar matahari, Yang melemparkan ancaman asin pada rambutnya. "Namun ada sayap-sayap!" Sayap-sayap itu merenung di langit, Sebuah keajaiban menyerupai awan; sementara di atas samudra dalam Ia melihat mereka menukik dan mengepak, jauh dan dekat. "Sayap-sayap ramah yang sama yang melindungi seseorang yang tertidur!" Maka, menarik kepastian dalam sebuah helaan napas, Ia menggali pasir yang berbahaya itu tanpa rasa takut.