(SAFE?) Andai saja kubuat jendelaku tinggi Di mana tak ada yang bisa mengintipku, Aku hanya akan menatap langit Dan pucuk pohon yang elok. Aku akan melupakan hal-hal menyedihkan Yang tak diceritakan oleh burung walet; Aku takkan melihat sayap yang terluka Dari burung kecil yang jatuh. Dan jika di bawah terbentang jalan, Tempat para pengelana berdebu melangkah, Mengerang di bawah beban yang melelahkan— Yah, aku takkan pernah tahu. Aku bisa berpura-pura tiada dosa, Tiada duka maupun derita, Jika aku menatap keluar di mana tak seorang pun menengok ke dalam Untuk membaca isi hatiku. (THE UP-HILL STREET) Ada jalan setapak melintasi padang berumput, Ada jalan raya menuju lautan, Ada jalur mendaki pegunungan Yang sangat berarti bagiku. Ada jalanan teduh nan sunyi Di perbatasan kota; Ada jalan setapak yang melangkah riang Mendaki dan menuruni bukit-bukit kecil. Dan oh! Aku mencintai jalan-jalan utama Yang telah dipijak oleh kakiku yang bahagia. Namun berjalan di kala senja, berjalan di kala pagi, Ada satu yang paling kucintai. Sebuah jalan kota yang sempit Yang mendaki dengan penuh tekad Di antara dua tebing batu bata yang kasar Di atas bukit berangin. Aku melihatnya dari jendelaku, Aku memantaunya setiap hari Menanjak ke ambang batas langit Tempat jalan itu perlahan menghilang; Sementara terukir melintasi pemandangan itu Berdiri tegak, kuat, dan menjulang, Pohon ek yang dulu kutanam Saat aku masih sangat kecil. Di atasnya, sebuah jalur langit yang sempit Dibingkai oleh rumah-rumah untukku; Di seberang sana, melintasi kota— Meski aku hampir tak bisa melihatnya— Aku tahu teluk biru terbuka, Dengan gedung-gedung menjulang di antaranya; Aku merasakannya, menghirupnya, mendengarnya Saat angin timur berembus tajam! Dan aku selalu tinggal di sini; Sejak kecil aku melihatnya mendaki, Jalan kecil yang unik dan terlupakan, Tak tersentuh oleh waktu maupun perubahan. Betapa sering aku menyusurinya! Setiap bata dan batunya kukenali! Setiap tanjakan dan gundukan kecilnya Meski tersembunyi di bawah salju. Dan menatap dari jendelaku Aku hampir merasa melihat Sesosok anak kecil mendaki— Bayangan mungil dari Diriku. Namun saat aku menatapnya, tersenyum— Anak kecil yang dulunya adalah aku— Khayalanku mendaki bukit kecil itu Dan menyatu ke dalam langit. (CITY SMOKE) Oh, asap kota! Mengepul dalam pilar-pilar hitam dan pekat; Menukik, layaknya burung pemangsa pembawa mimpi buruk, Dari sarang besi dan bata yang mengerikan, Menggelapkan hari; Penuh mara bahaya, berminyak, bising, dan keji, Merusak yang halus, menodai yang suci, Merayap bak dosa menyedihkan atau tipu daya Melalui celah terkecil dan gembok terkuat. Kamar paling cerah pun berbau busuk karena napasnya, Dan sarang-sarang kotor telah ternoda oleh kematian. Ia mengeram tanpa pandang bulu, mengotori segalanya, Istana, rumah susun, gubuk, maupun aula; Kehancuran keindahan dan kutukan bagi Alam, Harga dari perjuangan manusia yang sesak dan sengit. Asap muram yang melayang tanpa belas kasih, Di atas kota. Oh, asap kota! Membubung dan bergulung layaknya aliran sihir, Menyebar dan meliuk makin tinggi dan tinggi; Benderang dengan warna-warni opal sebuah mimpi, Derai keindahan, awan hasrat. Carikan kain tipis nan halus mengambang bebas, Hanyut menuju keabadian, Tercuci oleh cahaya, tersucikan dan bersih, Meloloskan diri dari segalanya, sangat ringan, dan baru; Visi para penyair yang agung dan teduh, Mengukir langit biru; Kehidupan yang diubah wujudnya kembali oleh harapan, Hadiah dari kasih sayang manusia yang dekat dan berharga. Asap yang diagungkan, bagai lingkaran cahaya welas asih, Di atas kota.