pondok nirmala berhembus kayu angin membawa kita kesini indahnya hijau merasuk sukma alam bersenandung kaya irama tangis awan memenjarakan kami aku terjebak dalam dialog berpuisi dia merajut melodi dengan prosa cuaca bernyanyi dalam harmoni taman menyaksikan transaksi kata pondok mendengarkan impian menabur diksi asa dan harapan bersama mengarungi lautan pikiran meski bumi mengubah halamannya semesta menyingkap takdirnya prahara mendera menghempaskan seluruh harapan dia pergi menuju kesuburan aku terdiam di atas ribuan jahitan kayu melankoli yang penuh abu taman meninggalkan satu pesan bisu "ribuan tahun pun takkan bisa jutaan desibel juga takkan mampu harapan itu tidak ada yang ada hanya dirimu" diriku yang menyedihkan pergilah dari taman itu dia sudah terlalu banyak menampung kata tinggalkan pena itu dan pergilah