JAKARTA - Kita sering dengar ungkapan, “Kasih sayang adalah kebutuhan dasar manusia.” Tapi apakah benar, kekurangan kasih sayang bisa membuat seseorang meninggal dunia? Jawabannya: bisa, dan itu bukan sekadar drama sinetron. Ada bukti ilmiah bahwa kesepian kronis dan kekurangan afeksi bisa berdampak serius terhadap kesehatan, bahkan mempercepat kematian. Sejak bayi, manusia membutuhkan sentuhan, pelukan, dan perhatian. Eksperimen kejam di abad ke-13 oleh Frederick II menunjukkan bayi-bayi yang diberi makan tapi tidak diajak bicara atau dipeluk meninggal dalam beberapa bulan. Studi serupa (lebih etis) di masa modern membuktikan bahwa bayi yang kurang kasih sayang mengalami gangguan tumbuh kembang, stres ekstrem, bahkan kegagalan organ. Pada orang dewasa, kesepian kronis dikaitkan dengan risiko kematian yang setara dengan merokok 15 batang sehari. Kekurangan interaksi sosial dan kasih sayang bisa meningkatkan risiko depresi, penyakit jantung, gangguan sistem imun, hingga mempercepat penuaan sel. Tubuh kita melepaskan hormon stres seperti kortisol jika merasa terisolasi terlalu lama, dan itu bisa merusak tubuh dari dalam diam-diam. Lebih gawat lagi, otak manusia secara biologis dirancang untuk koneksi sosial. Kita punya “neuron cermin” yang aktif saat kita berempati. Kalau koneksi itu tidak terpakai dalam waktu lama, struktur otak bisa berubah. Bahkan pada orang tua, kesepian meningkatkan risiko Alzheimer dan kematian dini secara drastis. Jadi, meski orang mungkin tidak langsung "mati karena tidak dicintai", efek kekurangan kasih sayang bisa menumpuk pelan-pelan sampai benar-benar merusak tubuh dan mental. Manusia memang bukan makhluk yang hanya butuh makanan dan air, kita juga butuh pelukan, perhatian, dan rasa diterima.