JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tim peneliti dari Program Studi Humas dan Komunikasi Digital, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), mengembangkan media pembelajaran berbasis permainan melalui board game bertajuk Crisis Signals. Inovasi tersebut diperkenalkan dalam simulasi yang digelar di Ruang 305, Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) UNJ, Jakarta, pada Jumat (31/7/2026). Pengembangan Crisis Signals merupakan bagian dari penelitian yang bertujuan menghadirkan metode pembelajaran yang lebih interaktif untuk meningkatkan kemampuan analisis komunikasi krisis, khususnya dalam mengenali sinyal-sinyal krisis dan menentukan strategi penanganan yang tepat. Ketua tim peneliti, Abdul Kholik, mengatakan riset ini berangkat dari temuan bahwa berbagai tantangan komunikasi krisis di media sosial tidak hanya berkaitan dengan penyusunan pesan, tetapi juga dipengaruhi oleh pemilihan elemen visual yang kurang tepat. Menurutnya, penggunaan warna, tipografi, maupun ilustrasi yang tidak sesuai dengan konteks krisis dapat memengaruhi efektivitas penyampaian pesan kepada publik. "Dalam permainan ini, peserta diajak lebih peka mengenali bentuk krisis, memahami karakteristiknya, hingga menentukan pendekatan penyelesaian yang sesuai," ujar Abdul Kholik. Penelitian tersebut melibatkan Wina Puspita Sari dan Menati Fajar Rizki sebagai anggota tim peneliti. Selain itu, lima mahasiswa turut berkontribusi sejak tahap pengembangan produk, yakni Raihan Rahmandika Putra, Aliyyah Naurah Azka, Diaz Wafi Raditya, Hilwi Hanin, dan Muhammad Zidane Maulana. Dalam simulasi, setiap peserta memperoleh petunjuk berupa kalimat maupun diagram yang menggambarkan suatu kasus krisis. Selanjutnya, peserta menggunakan kartu sinyal untuk mengidentifikasi persoalan, menganalisis tingkat eskalasi, hingga memilih strategi komunikasi yang dinilai paling sesuai. Board game ini dilengkapi puluhan kartu skenario yang mengangkat beragam situasi krisis dari sektor korporasi, pendidikan, pemerintahan, tokoh publik, hingga organisasi nirlaba. Seluruh skenario disusun dalam tiga tingkat kesulitan yang menggambarkan perkembangan krisis dari tahap awal hingga kondisi yang lebih kompleks. Kegiatan simulasi diikuti sekitar 10 peserta yang sebelumnya menjalani pre-test sebagai bagian dari proses penelitian. Selanjutnya, peserta mengikuti dua ronde permainan untuk mengukur pemahaman sekaligus efektivitas media pembelajaran tersebut. Pada ronde pertama, peserta masih menyesuaikan diri dengan mekanisme permainan. Namun, memasuki ronde berikutnya, diskusi berlangsung lebih dinamis seiring meningkatnya pemahaman terhadap alur permainan dan proses pengambilan keputusan. Salah seorang peserta, Adrian Maulana, menilai pendekatan pembelajaran melalui permainan memberikan pengalaman baru yang menarik sekaligus menantang. "Enjoy banget, seru banget. Itu pengalaman baru yang playable banget," katanya. Menurut Adrian, permainan tersebut membantu peserta memahami pentingnya menyesuaikan media komunikasi dan pendekatan visual dengan karakteristik krisis yang dihadapi agar penyampaian pesan tidak menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat. Peserta lainnya, Syaqi, juga mengapresiasi penggunaan petunjuk berbasis visual yang dinilai memudahkan pemain dalam memahami kasus serta merumuskan langkah penyelesaiannya. Abdul Kholik menjelaskan, simulasi tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengembangan sekaligus pengujian efektivitas Crisis Signals sebagai media pelatihan komunikasi krisis. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi alternatif metode pembelajaran yang lebih aplikatif bagi institusi pendidikan maupun organisasi yang ingin memperkuat kompetensi komunikasi krisis berbasis visual. Pengembangan Crisis Signals juga menjadi bagian dari kontribusi akademisi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya tujuan keempat mengenai Pendidikan Berkualitas, melalui pengembangan inovasi pembelajaran yang relevan dengan tantangan komunikasi di era digital.