JAKARTA – Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin memberi kesempatan bagi siapa saja untuk ikut berperan dalam bidang teknologi. Contoh lain adalah Emylton Leunufna, seorang pengembang yang belajar AI sendiri tanpa bantuan orang lain, sampai akhirnya berhasil membuat framework open source dengan nama NINMENI. Perjalanan Emylton dimulai dari rasa ingin tahu tentang cara kerja model bahasa besar (LLM). Di tengah semakin populer nya chatbot dan berbagai layanan AI generatif, ia malah ingin tahu cara dasar sebuah model bahasa membaca, memproses, dan memahami teks. Rasa ingin tahu itu mendorongnya untuk mempelajari berbagai dokumen teknis, membaca referensi, membuat prototype, hingga menulis ribuan baris kode secara sendirian. Dari proses belajar yang dilakukan secara bertahap itu, muncul lah NINMENI, sebuah framework open source yang menggunakan pendekatan berbasis karakter dalam pembuatan model bahasa. Berbeda dengan pendekatan umum yang sering digunakan sekarang, NINMENI mengawali representasi teks dari tingkat karakter. Setiap huruf diolah terlebih dahulu sebelum membentuk pemahaman yang lebih rumit. Pendekatan itu terus diperbaiki melalui berbagai percobaan dan penyesuaian. Selain membangun framework, Emylton juga membuat model awal bernama Veyra sebagai langkah pertama dalam menerapkan NINMENI. Model tersebut saat ini masih dalam tahap uji coba dan digunakan sebagai versi awal untuk menguji sejauh mana pendekatan yang digunakan itu efektif. Seluruh hasil pengembangan NINMENI dibuka kepada publik. Framework tersebut bisa didapatkan melalui situs web resmi, repositori GitHub dengan lisensi Apache 2.0, dan juga tersedia sebagai paket Python di PyPI. Dokumentasi, kode sumber, serta kemajuan proyek diungkapkan secara terbuka supaya komunitas bisa mempelajari dan mengembangkan bersama. Menurut Emylton, memutuskan untuk menjadikan NINMENI sebagai proyek open source adalah bagian dari komitmenya untuk membuat ruang belajar yang terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar lebih dalam tentang AI. Saya belajar sendiri dan memutuskan untuk membuat NINMENI sebagai proyek sumber terbuka. "Harapannya sederhana, siapa saja bisa belajar, mencoba, memberi masukan, dan mengembangkannya bersama," kata Emylton Leunufna. Ia berpendapat bahwa filosofi open source tidak hanya tentang mengungkap kode sumber, tetapi juga tentang mengungkap cara berpikir dalam mengembangkan sebuah teknologi. Dengan dokumen yang bisa diakses oleh siapa saja, setiap orang bisa memahami alasan di balik setiap desain, mencoba menggunakan produk tersebut, dan memberikan saran yang baik dan bermanfaat. Di tengah kemajuan AI yang terus berkembang, komunitas open source dianggap memainkan peran penting dalam mempercepat proses inovasi. Kerja sama antar negara memungkinkan para pengembang saling berbagi pengalaman dan ilmu pengetahuan meskipun mereka tidak berada di institusi atau perusahaan yang sama. Emylton berharap semakin banyak orang berbakat dari Indonesia berani memulai proyek open source mereka sendiri. Menurutnya, membantu perkembangan AI tidak selalu harus menggunakan fasilitas penelitian yang besar, tetapi bisa dimulai dari semangat ingin tahu, keinginan belajar, dan konsistensi dalam berbuat. Bagi Emylton, NINMENI bukan hanya sebuah kerangka kerja untuk membuat model bahasa besar. Proyek itu adalah catatan perjalanan belajar sendiri sekaligus bukti bahwa pengetahuan bisa tumbuh lebih cepat jika dibagikan secara terbuka kepada kelompok komunitas.