JAKARTA - Di zaman sekarang, mengikuti gaya hidup tertentu terkadang dianggap sebagai bagian dari kehidupan sosial. Nongkrong di tempat yang sedang populer, membeli barang bermerek, menggunakan gawai terbaru, sampai berlibur ke tempat yang sedang ramai di media sosial seolah menjadi sesuatu yang harus dilakukan agar tidak merasa tertinggal. Masalahnya, tidak semua orang memiliki kemampuan finansial yang sama. Ketika keinginan untuk terlihat mampu lebih besar daripada kemampuan untuk membayar, utang akhirnya menjadi jalan keluar. Kemudahan teknologi keuangan seperti paylater bahkan membuat seseorang bisa mendapatkan barang terlebih dahulu dan memikirkan pembayarannya kemudian. Fenomena ini sebenarnya tidak selalu berarti seseorang berutang hanya karena ingin bergaya. Namun, kemudahan mendapatkan fasilitas kredit dapat membuat keputusan konsumsi menjadi lebih mudah dilakukan tanpa mempertimbangkan kemampuan keuangan dalam jangka panjang. Ketika Gaya Hidup Lebih Besar dari Kemampuan Media sosial ikut mengubah cara seseorang melihat gaya hidup. Kehidupan orang lain yang terlihat menarik di Instagram, TikTok, maupun platform lainnya dapat membuat seseorang merasa harus memiliki pengalaman atau barang yang sama. Contohnya sederhana. Seseorang melihat temannya membeli ponsel terbaru. Karena tidak ingin dianggap ketinggalan, ia ikut membeli meskipun tabungannya belum cukup. Akhirnya, pembelian dilakukan dengan cicilan atau paylater. Pada awalnya mungkin terasa ringan karena pembayaran dibagi menjadi beberapa kali. Namun, jika kebiasaan tersebut dilakukan berulang kali, cicilan kecil dapat berubah menjadi beban yang cukup besar. Di sinilah persoalan gengsi mulai berkaitan dengan kondisi keuangan. Keinginan untuk mendapatkan pengakuan sosial dapat membuat seseorang mengorbankan kondisi finansialnya sendiri. Paylater Membuat Utang Terasa Lebih Mudah Perkembangan layanan keuangan digital membuat aktivitas membeli barang menjadi semakin mudah. Salah satu contohnya adalah Buy Now Pay Later atau BNPL. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa baki debet kredit BNPL perbankan pada Juni 2026 mencapai sekitar Rp30,7 triliun. Angka tersebut tumbuh 33,54 persen secara tahunan, dengan jumlah rekening mencapai 32,77 juta. Sementara itu, pembiayaan BNPL melalui perusahaan pembiayaan pada Juni 2026 mencapai Rp13,40 triliun dan tumbuh 57,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut memang tidak bisa langsung diartikan bahwa seluruh pengguna paylater berutang karena gengsi. Banyak orang menggunakan paylater untuk kebutuhan yang memang diperlukan atau untuk mengatur arus kas. Namun, pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa fasilitas pembayaran belakangan semakin banyak digunakan masyarakat. Kemudahan inilah yang perlu disikapi dengan bijak. Jangan sampai karena prosesnya mudah, seseorang justru membeli sesuatu yang sebenarnya tidak mampu dibayar. Mengapa Orang Rela Berutang demi Gaya Hidup? Ada beberapa alasan yang dapat menjelaskan fenomena tersebut. Salah satunya adalah keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungan. Di tengah budaya media sosial, seseorang tidak hanya membeli barang untuk digunakan, tetapi terkadang juga untuk ditampilkan. Barang yang mahal, tempat nongkrong yang populer, atau liburan ke destinasi tertentu dapat menjadi simbol status sosial. Selain itu, muncul pula rasa takut tertinggal dari lingkungan atau yang sering disebut sebagai fear of missing out (FOMO). Ketika teman-teman melakukan sesuatu secara bersama-sama, seseorang dapat merasa harus ikut agar tidak dianggap berbeda. Masalahnya, keputusan yang dibuat karena tekanan sosial sering kali tidak mempertimbangkan kondisi keuangan secara matang. Bukan Berarti Tidak Boleh Menikmati Hidup Mengatur keuangan bukan berarti seseorang harus berhenti menikmati hidup. Membeli barang yang disukai, pergi berlibur, atau nongkrong bersama teman tentu bukan sesuatu yang salah. Yang menjadi masalah adalah ketika gaya hidup tidak sesuai dengan kemampuan finansial. BPS sendiri secara rutin menyediakan data mengenai pendapatan, pengeluaran, pola konsumsi, hingga utang rumah tangga untuk melihat kondisi ekonomi masyarakat. Data konsumsi tersebut menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga menjadi salah satu bagian penting dalam melihat kondisi sosial ekonomi masyarakat. Artinya, persoalan konsumsi bukan hanya tentang membeli atau tidak membeli sesuatu. Ada kemampuan ekonomi yang perlu diperhitungkan. Sebelum membeli sesuatu, pertanyaan sederhana sebenarnya cukup penting: apakah barang ini memang dibutuhkan, apakah uangnya tersedia, dan apakah pembayaran cicilannya tidak akan mengganggu kebutuhan lain? Gengsi Hanya Sebentar, Utang Bisa Lebih Lama Gaya hidup yang terlihat di media sosial biasanya hanya menunjukkan hasil akhirnya. Orang lain mungkin hanya melihat seseorang menggunakan barang baru atau pergi ke tempat mahal, tetapi tidak mengetahui bagaimana kondisi keuangannya setelah itu. Bisa saja di balik foto yang terlihat mewah terdapat cicilan yang harus dibayar setiap bulan. Karena itu, penting untuk membedakan antara kemampuan dan keinginan. Memaksakan diri agar terlihat mampu justru dapat membuat seseorang mengalami tekanan keuangan. Utang sendiri tidak selalu buruk. Utang yang digunakan untuk kebutuhan produktif atau dikelola dengan baik dapat menjadi bagian dari perencanaan keuangan. Yang perlu diwaspadai adalah utang konsumtif yang terus bertambah karena keinginan mengikuti gaya hidup. Saatnya Mengubah Cara Pandang Pada akhirnya, seseorang tidak perlu membuktikan kemampuan finansialnya kepada orang lain. Tidak masalah jika tidak memiliki barang terbaru, tidak mengikuti tren tertentu, atau tidak selalu datang ke tempat yang sedang populer. Kemampuan untuk mengatakan "belum mampu" justru merupakan bagian dari kedewasaan dalam mengelola keuangan. Di era ketika transaksi semakin mudah dan berbagai layanan kredit semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, kemampuan mengendalikan diri menjadi semakin penting. OJK sendiri telah menerbitkan aturan khusus mengenai penyelenggaraan BNPL bagi perusahaan pembiayaan dan perusahaan pembiayaan syariah pada 2026. Pada akhirnya, mengikuti tren boleh saja. Menikmati hasil kerja keras juga tidak salah. Tetapi jangan sampai keinginan untuk terlihat mampu membuat kondisi keuangan menjadi tidak sehat. Sebab, gengsi mungkin hanya terlihat beberapa menit di media sosial, tetapi cicilan bisa mengikuti selama berbulan-bulan.