JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Apa yang ada di benak kamu kalau mendengar kata bisa ular? Mungkin salah satu yang terlintas di benak orang awam seperti kita adalah, sebuah cairan berbahaya nan mematikan yang dikeluarkan saat ular mengigit mangsanya. Ya, kedengarannya bisa ular begitu negatif dan menyeramkan bukan? Tapi tahukah kamu, bisa ular atau kerap disebut juga dengan venom, ternyata bisa dijadikan obat lho. Venom ular bahkan memiliki potensi sebagai energi terbarukan dan mampu meningkatkan perekonomian negara kita tercinta, Bangsa Indonesia. Optimisme itu disampaikan oleh satu-satunya ahli toksinologi Indonesia Dr dr Tri Maharani SpEM, MSi. Peneliti Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dari Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan ini baru saja ditunjuk oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin sebagai Ketua Pelaksana Pengkajian Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Akibat Hewan Berbisa dan Tumbuhan Beracun. "Istilahnya adalah bioprospektif, ini sudah lama ada. Jadi venom sudah lama bisa dijadikan Obat Captopril yang dikenal sebagai obat hipertensi. Obat itu dibuat dari venom Ular Bothrops di Amerika," ujar dr Maha, sapaannya, saat dihubungi Netralnews baru-baru ini. Contoh lain ada di Australia, yakni menjadikan venom ular sebagai obat trombolitik. Obat ini bisa digunakan untuk memecah gumpalan darah pada pasien serangan jantung. Harga yang ditawarkan, dibanding dengan cara pengobatan lain tentu akan jauh lebih murah. Ular dengan venom serupa, bahkan yang lebih kuat, ada banyak di Indonesia. Diantaranya ada ular hijau dan calloselasma yang memiliki venom untuk atasi infeksi, penyakit herediter (penyakit keturunan), penyakit degeneratif, autoimun, hingga kanker. "Venom ini bisa membantu antibodi mereka (pengidap penyakit). Jadi Indonesia ini kaya banget, tapi tidak sadar kalau kaya akan hal itu," ujar wanita yang telah 10 tahun malang-melintang di dunia kasus gigitan ular di Indonesia bahkan dunia. Lantas bagaimana dengan ular-ular di Indonesia? Apakah venom dari ular-ular di Indonesia bisa dijadikan obat? Ular yang Hanya Ada di Indonesia Wallacea dikenal sebagai kawasan biogeografis yang mencangkup sekelompok pulau-pulau dan kepulauan di wilayah Indonesia bagian tengah. Kawasan ini terpisah dari paparan benua-benua Asia dan Australia oleh selat-selat yang dalam. Kawasan ini diketahui meliputi Sulawesi, Nusa Tenggara dan Halmahera. Di kawasan Sulawesi, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, disebut Dr Maha ada jenis ular yang diklaim tidak ada di belahan dunia yang lain. Ular itu adalah Trimeresurus Insularis Blue di Pulau Komodo. "Itu adalah ular hijau yang berwarna biru. Saya pernah dapat kasus yang aneh banget. Ular hijau itu umumnya adalah hematotoxin, pendarahan. Ini ada juga neurotoxinnya (menganggu sistem saraf). Ular seperti ini tidak ada di seluruh dunia dan kita bisa melakukan banyak hal dengan itu," ujar advisor WHO soal kasus gigitan ular ini. Venom hematotoxin ini berpotensi untuk mengatasi kasus penyumbatan darah, sehingga bisa kembali encer dan peredarannya lancar. Sedangkan venom neurotoxin bisa berpotensi untuk kecantikan. "Yang timbul seperti healing, kulit yang baru, menjadi mulus, dan muda," sambung dia. Selain Trimeresurus Insularis Blue ada juga Ular Daboia, yang hanya ada di Lembata, Adonara, Flores dan Pulau Komodo. Venom Ular Daboia memiliki sifat hematotoxin, neurotoxin dan renal toxicity yang berpotensi dilakukan riset untuk menciptakan obat ginjal, misalnya jadi alternatif hemodialisa alias cuci darah. "Saya harap Indonesia bisa masuk era baru bioprospektif dengan membuat obat dari unsur venom hewan dan tumbuhan di masa depan. Jangan lagi pakai cara lama yang menghabiskan uang dan tidak sensitif. Belum ada ide ini sebelumnya di negara lain. Meskipun sudah ada riset oleh para ilmuwan (di luar negeri), tapi di ranah pemerintahan belum ada," jelas wanita yang juga ahli dalam kasus sengatan ubur-ubur dan tawon. Venom Ular Tingkatkan Ekonomi Indonesia Tidak hanya bisa ular, menurut Dr Maha, Indonesia juga memiliki keanekaragaman hayati yang bisa dikembangkan dalam bioprospektif. Misalnya saja ubur-ubur, tawon dan segala tanaman beracun yang tersebar di alam Indonesia yang kaya. "Itu bisa kita lakukan dengan sebuat riset yang bagus, bukan ecek-ecek. Bisa jadi modal bagi kita untuk bertahan di masa depan dengan sumber yang tidak akan ada habisnya," ujar Dr Maha. Disadari Dokter Maha, sumber daya seperti emas, batu bara dan minyak bumi lama kelamaan bisa saja habis. Tetapi makhluk hidup seperti ular, tawon, ubur-ubur, hewan lain dan tanaman beracun akan terus hidup dan regenerasi, serta bisa dikembangbiakkan. "Ini kekayaan dan saya rasa bisa membayar utang-utang kita di masa depan," sambung Dr Maha optimis. Apabila riset didukung oleh pemerintah dan terus berjalan, Indonesia tentu bisa meningkatkan ekonomi dari bioprospektif. Bayangkan saja, obat-obatan bisa dibuat sendiri oleh Indonesia, tidak perlu impor dan bergantung dari luar negeri, atau bahkan bisa ciptakan obat untuk penyakit yang akan muncul di masa mendatang. "Venom juga berpotensi dibuat sebagai anti aging. Kalau sekarang operasi plastik banyak yang ke Korea, kalau di masa mendatang bisa saja ke Indonesia untuk terapi venom. Impian saya ke sana. Ini harta karun yang belum terbuka, masih terpendam jauh," kata dia.