JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Beberapa tahun terakhir, aktivitas luar ruangan (outdoor) seperti mendaki gunung mengalami peningkatan popularitas di Indonesia. Jika dahulu kegiatan ini identik dengan pencinta alam berpengalaman dan perlengkapan yang berat, kini jalur pendakian justru semakin banyak dipenuhi anak muda, khususnya Generasi Z. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa mendaki gunung tidak lagi semata-mata dipandang sebagai aktivitas ekstrem yang membutuhkan kemampuan fisik tinggi. Bagi Gen Z, pendakian telah bertransformasi menjadi bentuk rekreasi yang lebih inklusif sekaligus relevan dengan kebutuhan gaya hidup mereka. Salah satu faktor yang mendorong tren tersebut adalah meningkatnya kebutuhan untuk menjaga kesehatan mental. Paparan gawai yang terus-menerus, ritme aktivitas kuliah dan pekerjaan yang cepat, serta tingginya intensitas penggunaan media sosial dapat memicu kelelahan fisik maupun emosional. Mendaki gunung kemudian menjadi salah satu pilihan untuk melakukan digital detox sekaligus melepas penat. Berada di tengah pepohonan, menghirup udara segar, menikmati suasana yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, hingga menyaksikan pemandangan dari ketinggian memberikan pengalaman yang berbeda. Bagi sebagian anak muda, perjalanan menuju puncak bukan hanya tentang mencapai ketinggian tertentu, tetapi juga menjadi kesempatan untuk sejenak melepaskan diri dari rutinitas digital dan menikmati interaksi secara langsung dengan alam. Tren ini juga semakin berkembang seiring hadirnya berbagai layanan pendukung aktivitas pendakian. Agen perjalanan yang menawarkan paket open trip, jasa pemandu dan portir, hingga tempat penyewaan perlengkapan mendaki membuat aktivitas tersebut semakin mudah diakses oleh pemula. Pendaki yang belum memiliki perlengkapan lengkap tidak lagi harus membeli seluruh kebutuhan sejak awal. Mereka dapat menyewa peralatan sesuai kebutuhan atau mengikuti open trip yang biasanya sudah menyediakan berbagai fasilitas pendukung. Kemudahan akses tersebut membuat aktivitas mendaki gunung semakin terbuka bagi masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki pengalaman dalam kegiatan alam bebas. Di sejumlah kawasan pendakian, keberadaan basecamp, warung, hingga fasilitas pendukung lainnya juga memberikan kenyamanan tambahan bagi pendaki. Kondisi ini turut mengubah wajah wisata pendakian yang sebelumnya identik dengan aktivitas sederhana dan minim fasilitas. Di sisi lain, media sosial memiliki peran besar dalam mendorong popularitas pendakian di kalangan anak muda. Platform seperti TikTok dan Instagram membuat pengalaman mendaki dapat dibagikan secara luas dalam bentuk foto maupun video. Pemandangan samudra awan, matahari terbit dari puncak gunung, jalur pendakian yang indah, hingga gaya berpakaian outdoor menjadi konten yang menarik perhatian pengguna media sosial. Unggahan tersebut kemudian dapat memunculkan efek ikut mencoba. Ketika seseorang melihat pengalaman pendakian yang menarik di media sosial, muncul keinginan untuk merasakan pengalaman serupa secara langsung. Fenomena ini pada akhirnya turut memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan gunung. Meningkatnya jumlah pendaki membuka peluang usaha bagi warga lokal, mulai dari penginapan, warung makan, jasa pemandu, penyewaan perlengkapan, jasa portir, hingga transportasi menuju lokasi pendakian. Dengan demikian, meningkatnya minat anak muda terhadap aktivitas pendakian tidak hanya menciptakan tren gaya hidup, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di kawasan wisata alam. Namun, meningkatnya jumlah pendaki juga membawa tantangan tersendiri, terutama terkait kelestarian lingkungan. Semakin ramai jalur pendakian, semakin besar pula potensi munculnya persoalan sampah, kerusakan vegetasi, hingga gangguan terhadap ekosistem apabila aktivitas wisata tidak dikelola dengan baik. Karena itu, meningkatnya popularitas pendakian perlu diimbangi dengan kesadaran untuk menjaga alam. Prinsip Leave No Trace atau tidak meninggalkan jejak menjadi salah satu hal penting yang perlu dipahami oleh setiap pendaki. Membawa kembali sampah, tidak merusak tanaman, tidak mengganggu satwa, menggunakan jalur yang telah ditentukan, serta menghormati lingkungan sekitar merupakan bagian dari tanggung jawab setiap orang yang menikmati alam. Pada akhirnya, tren mendaki gunung di kalangan Gen Z menunjukkan adanya perubahan cara generasi muda menikmati waktu luang. Gunung tidak lagi sekadar menjadi tempat untuk menguji kekuatan fisik atau mencapai puncak. Bagi sebagian anak muda, gunung menjadi ruang untuk beristirahat dari hiruk-pikuk kehidupan digital, mencari ketenangan, menikmati keindahan alam, sekaligus membangun pengalaman baru. Namun, semakin populer sebuah destinasi alam, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaganya. Jangan sampai tren menikmati alam justru membuat alam kehilangan keindahannya. Sebab, mendaki bukan hanya tentang bagaimana mencapai puncak, tetapi juga tentang bagaimana pulang tanpa meninggalkan kerusakan.