JAKARTA, NETRALNEWS.COM- Salat Tarawih menjadi salah satu ibadah yang paling dinanti selama bulan Ramadan. Setiap malamnya, umat Islam berusaha menghidupkan suasana dengan rakaat demi rakaat yang dipanjatkan penuh harap. Dalam sejumlah literatur klasik, disebutkan adanya keutamaan berbeda di tiap malam Tarawih. Salah satu yang kerap dikaji adalah keutamaan malam ke-15 sebagaimana tertuang dalam kitab Duratun Nasihin. Kitab yang dinisbatkan kepada Syekh Utsman bin Hasan al-Khubawi ini dikenal luas di kalangan pesantren sebagai kitab nasihat dan motivasi ibadah. Di dalamnya terdapat banyak riwayat yang memuat keutamaan amalan di bulan Ramadan, termasuk salat Tarawih dari malam pertama hingga malam terakhir. Pada malam ke-15, terdapat satu keistimewaan yang sering dikutip dan menjadi bahan renungan bagi umat Islam. Keutamaan salat Tarawih malam ke-15 dalam Duratun Nasihin lengkap teks Arab Dalam kitab tersebut disebutkan redaksi sebagai berikut: اللَّيْلَةَ الْخَامِسَةَ عَشْرَةَ يُصَلِّي عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ حَمَلَةُ الْعَرْشِ وَالْكُرْسِيِّ Artinya: “Pada malam kelima belas, para malaikat pemikul ‘Arsy dan Kursi bershalawat (mendoakan kebaikan) untuk orang yang melaksanakannya.” Redaksi singkat ini mengandung makna yang sangat dalam. Disebutkan bahwa orang yang menunaikan Tarawih pada malam ke-15 akan mendapatkan doa dari malaikat-malaikat mulia yang memikul ‘Arsy dan Kursi. Makna malaikat pemikul Arsy dan Kursi dalam penjelasan ulama Dalam ajaran Islam, malaikat pemikul ‘Arsy atau Hamalatul ‘Arsy adalah malaikat yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah SWT. Mereka disebut dalam Al-Qur’an sebagai makhluk yang senantiasa bertasbih dan memohonkan ampun bagi orang-orang beriman. Ketika disebut bahwa mereka “bershalawat” kepada hamba yang melaksanakan Tarawih malam ke-15, maknanya adalah mendoakan rahmat dan kebaikan. Istilah shalawat dalam konteks malaikat bukan seperti shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, melainkan doa dan permohonan ampunan. Gambaran ini menunjukkan betapa agungnya nilai ibadah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan. Seorang hamba yang bangkit di malam Ramadan tidak hanya memperoleh pahala, tetapi juga doa dari makhluk Allah yang paling dekat dengan-Nya. Status riwayat keutamaan Tarawih dalam kitab klasik Meski demikian, para ulama hadis mengingatkan bahwa riwayat keutamaan khusus setiap malam Tarawih yang terdapat dalam kitab-kitab seperti Duratun Nasihin tidak semuanya memiliki sanad yang kuat. Sebagian riwayat dikategorikan sebagai dhaif (lemah). Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tidak meyakini secara mutlak detail keutamaan tersebut sebagai hadis sahih, melainkan menjadikannya sebagai motivasi untuk meningkatkan ibadah. Adapun keutamaan umum salat malam Ramadan telah ditegaskan dalam hadis sahih Nabi Muhammad SAW: “Barang siapa melaksanakan qiyam Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim). Hadis inilah yang menjadi landasan kuat tentang keutamaan Tarawih secara keseluruhan, tanpa mengkhususkan malam tertentu. Hikmah menghidupkan malam ke-15 Ramadan sebagai pertengahan bulan Malam ke-15 menjadi penanda bahwa Ramadan telah memasuki fase pertengahan. Pada titik ini, semangat sebagian orang mulai berkurang. Rasa lelah dan rutinitas harian sering kali membuat ibadah tidak lagi seantusias di awal bulan. Karena itu, pesan spiritual dalam riwayat tersebut dapat dipahami sebagai dorongan agar umat Islam tetap istiqamah. Pertengahan Ramadan justru menjadi momentum evaluasi: apakah ibadah kita masih terjaga, atau mulai menurun. Menghidupkan malam dengan Tarawih, membaca Al-Qur’an, memperbanyak istighfar, dan memperpanjang doa merupakan cara menjaga konsistensi. Ramadan bukan sekadar tentang awal yang penuh semangat, tetapi tentang kesungguhan hingga akhir. Menyikapi keutamaan dengan bijak dan tetap berpegang pada dalil sahih Sikap terbaik dalam memahami riwayat seperti ini adalah bersikap proporsional. Tidak menolak mentah-mentah karena ada nilai motivasi di dalamnya, tetapi juga tidak meyakini secara pasti sebagai hadis sahih tanpa kajian. Yang terpenting, semangat ibadah tidak bergantung pada malam tertentu saja. Setiap malam Ramadan adalah kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jika pada malam ke-15 disebutkan malaikat pemikul ‘Arsy mendoakan orang yang beribadah, maka itu menjadi pengingat bahwa Allah memuliakan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan. Pada akhirnya, esensi Tarawih bukan sekadar jumlah rakaat atau mengejar keutamaan tertentu, melainkan menghadirkan hati dalam setiap sujud dan doa. Ramadan terus berjalan. Malam ke-15 hanyalah satu bagian dari rangkaian hari yang penuh keberkahan. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menjaga semangat hingga akhir bulan dan meraih ampunan serta rahmat yang dijanjikan. Dengan niat yang tulus dan ibadah yang konsisten, setiap malam Ramadan akan terasa istimewa, bukan hanya malam ke-15 semata.