JAKARTA, NETRALNEWS.COM- Naskah Flm "Lembayung" ditulis oleh Saras Bening Sumunar dan disutradarai oleh Baim Wong. Film diperankan oleh Taskya Namya sebagai Pica, Yasamin Jasem sebagai Arum, Arya Saloka sebagai Dokter Teto, Adi Baskoro Oka Antara sebagai Dokter Ringgo, Adrian Anna Jobling sebagai Dokter Tantri, Erick Estrada sebagai Moming Asri Welas sebagai Ida, Daffa Wardhana sebagai Dimas, Ence Bagus sebagai Heru, Wulan Guritno sebagai Ayu, Tio Pakusadewo sebagai Bapak Teto, Sari Nila sebagai Ibu Teto, Mario Maulana sebagai Jeki, Dayu Wijanto sebagai Ibu Harum, dan Paula Verhoeven sebagai Ibu Dimas. Film dirilis pada 19 September 2024. Film ini diproduksi oleh MNC picture Tiger Wong Entertainment. "Lembayung" diangkat dari kisah nyata dua mahasiswi keperawatan yang mengalami teror mengerikan saat menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Klinik Lembayung. Durasi film 123 menit dan ditayangkan di sejumlah bioskop. Film “Lembayung” membahas mengenai gabungan elemen seperti naratif, karakterisasi, simbolisme, feminisme, psikologi,antropologi dan tema yang diambil dalam film ini. Terdapat makna tersembunyi juga dalam film ini terlihat dari simbol dan penggunaan bahasanya untuk mempermudah orang yang menonton film ini. Menambah pengalaman pengalaman naratif dan kolektif. Kacamata Feminisme dan Sastra Berdasar teori sastra, film “Lembayung” berisi tentang struktur naratif yang menggunakan alur maju dan menggunakan naratif kompleks. Teknik ini memberikan kemudahan kepada penonton untuk memahami latar belakang cerita. Pada saat adegan pertama atau pembukaan, ditampilkan suatu kota yang sangat sepi dan diikuti dengan menyoroti tokoh utama yang ada dalam film ini. Terdapat adegan flashback dalam film ini untuk mempermudah penonton mengingat momen-momen sebelumnya. Karakteristik film ini sangat kuat dengan adanya tokoh utama yang selalu muncul tak terduga dalam film ini di area Klinik Lembayung yang penuh dengan misteri, yang membuat penonton semakin penasaran dengan film ini. Yang paling tak terduga, mungkin menurut penonton baik, ternyata malah jahat. Dari film ini, kita belajar bahwa dalam menilai seseorang harus mengetahui tentang diri seorang tersebut. Jangan menilai dari sikapnya dan cara bicaranya saja. Terdapat Teori Simbolisme dalam film “Lembayung.” Selain objek tertentu seperti foto dan surat untuk menggambarkan pergantian waktu, juga terdapat suasana. Contohnya pada adegan transisi dari siang ke malam. Adegan Arum mulai durasi oleh roh Tantri agar mengetahui tentang keburukan dokter Teto yang ternyata pernah melecehkan Tantri di klinik Lembayung yang membuatnya hamil dan membuat dokter Teto membunuh Tantri dengan cara yang mengesankan digantung di sebuah ruangan terapi yang sering digunakan untuk melahirkan. Setiap iringan jamsker yang ada di film ini membuat suasana semakin hidup dan membuat penonton menjadi tegang di setiap part tertentu. Teori sastra yang membahas aliran feminisme dalam film ini mengajarkan kita untuk menghargai harga diri wanita. Jangan mudah percaya dengan laki-laki agar tidak dilecehkan, dan selalu berbuat baiklah kepada sesama wanita . Terdapat pula adegan film Tantri minum air yang telah dicampur dengan obat oleh Teto yang membuat Tantri tidak sadar lalu dilecehkan oleh Teto. Harum dilecehkan secara langsung oleh Teto di klinik lembayung. Teto mengancam Harum. Jka berbicara dengan temannya, maka Harum akan dibunuh sama seperti Tantri dulu. Terdapat juga adegan Harum meminta maaf karena tidak jujur kepada temannya bahwa dia telah dilecehkan. Jadi, kita semua sebagai wanita harus bisa menjaga harkat dan martabat wanita agar tidak mudah dilecehkan oleh laki-laki. Seorang wanita bisa melawan jika dirinya sedang ditindas oleh laki-laki dengan melakukan perlawanan, maka laki-laki tidak akan berani melakukan hal yang buruk kepada wanita. Bahasa yang digunakan dalam film sangat mudah dipahami dan penonton dapat mudah menafsirkan makna. Terdapat makna yang sangat mendalam di film ini, yaitu kita harus selalu setia menemani teman kita di kala senang maupun susah. Terdapat adegan yang sangat menyeramkan di film ini, ketika roh Tantri mulai melakukan pembalasan dendam pada orang yang jahat di sekitarnya hingga mati satu demi satu. Akhirnya dendam Tantri terbalaskan kepada Dokter Teto yang telah melecehkan nya dengan menggunakan tubuh Harum yang bisa digunakan untuk balas dendam. Penutup Kesimpulan dalam film "Lembayung" ini adalah konstruksi setiap adegan dalam film ini kaya dengan multifaset dengan penuh misteri di dalamnya. Dari struktur naratif yang kompleks, karakter setiap pemeran yang mendalam, simbolis yang kuat, dan tema yang dianggap sangat relevan. Semua elemen itu saling bekerja sama untuk mencapai sinematik yang mendalam sehingga film ini dapat ditonton secara maksimal. Film ini bukan hanya sebuah tontonan, tapi juga sebuah karya seni yang mengajak menonton untuk merenung dan meratapi perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku dan cobaan. Kita juga harus setia kepada teman kita jika ada apa pun itu agar sesama wanita tidak merasa sendirian.