Krisis literasi di kalangan pelajar Indonesia semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan data PISA 2022, kemampuan membaca siswa Indonesia hanya mencapai 359 poin, jauh di bawah rata-rata dunia. Dominasi gadget menjadi salah satu penyebab utama menurunnya minat baca. Banyak pelajar lebih memilih menatap layar TikTok atau bermain game daripada membaca buku. Survei Kemendikbud 2022 menunjukkan rata-rata siswa SMP menghabiskan 3–4 jam per hari di depan layar, sementara minat baca hanya sekitar 1–2 buku per tahun. Fenomena ini berdampak pada kemampuan berpikir kritis, prestasi akademik, hingga produktivitas bangsa. Untuk mengatasinya, diperlukan peran aktif pemerintah, sekolah, keluarga, dan industri teknologi melalui gerakan literasi, peningkatan akses buku digital, serta pengaturan waktu penggunaan gadget.