JAKARTA, NETRALNEWS.COM- Presiden kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, kembali menarik perhatian publik melalui pernyataannya di sebuah seminar memperingati 70 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Blitar, Jawa Timur, Sabtu (1/11). Dalam kesempatan itu, Megawati mengungkapkan bahwa dirinya sampai saat ini tidak memiliki telepon genggam (HP) pribadi. Ia menuturkan, keputusan tersebut merupakan pilihan sadar untuk menjaga ketenangan dan melindungi privasi di tengah derasnya arus digital yang membuat segala hal menjadi serba terbuka. Dalam sambutannya, Megawati Soekarnoputri mengatakan terlalu banyak orang yang ingin mengetahui kehidupan pribadinya, bahkan sampai mengintai aktivitas kesehariannya, namun tidak semuanya berniat baik. Karena itulah, ia merasa lebih nyaman hidup tanpa HP pribadi yang bisa menjadi pintu masuk berbagai gangguan dan pengawasan dari pihak yang tidak dikenal. Menurut Megawati, kehidupan di era digital saat ini membuat batas antara ruang publik dan ruang pribadi semakin kabur. Banyak orang dengan mudah mengakses informasi pribadi seseorang hanya melalui perangkat komunikasi. “Saya ini sampai sekarang tidak punya HP. Banyak yang ingin tahu tentang saya, tapi tidak semuanya niatnya baik,” kata Megawati di hadapan peserta seminar. Pilihan Hidup Megawati Soekarnoputri Tanpa HP Pribadi Keputusan Megawati Soekarnoputri untuk tidak memiliki HP pribadi memang menarik perhatian. Di tengah zaman serba digital, di mana hampir semua orang bergantung pada telepon pintar untuk berkomunikasi, bekerja, hingga berbelanja, sikap Megawati dianggap langka. Namun bagi Megawati, hal itu justru menjadi bentuk kemandirian dan cara menjaga kewarasan dari hiruk-pikuk dunia maya yang tak jarang menimbulkan stres. Megawati menyebut bahwa hidup tanpa HP justru membuatnya lebih fokus berinteraksi secara langsung dengan orang di sekitarnya. Ia merasa bahwa komunikasi tatap muka lebih bermakna dibandingkan pesan singkat atau percakapan di media sosial. “Kalau ada yang mau cari saya, datang saja langsung, lebih enak bicara tatap muka,” ujarnya sambil tersenyum. Selain itu, Megawati menilai, banyaknya informasi yang beredar cepat melalui HP kerap menimbulkan kesalahpahaman dan hoaks. Dengan tidak menggunakan HP, ia bisa lebih tenang, tidak terganggu notifikasi, dan tidak mudah terprovokasi oleh berita yang belum tentu benar. Privasi Digital dan Tantangan Era Modern Fenomena Megawati tanpa handphone juga mencerminkan kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap privasi digital. Di era di mana data pribadi sering kali disalahgunakan untuk kepentingan komersial maupun politik, keputusan seperti yang diambil Megawati bisa dimaknai sebagai bentuk perlindungan diri. Megawati menyinggung pentingnya kesadaran digital bagi masyarakat. Ia mengingatkan agar generasi muda berhati-hati menggunakan teknologi dan media sosial. “Sekarang semua orang sibuk dengan HP. Tapi coba pikir, apakah kita benar-benar menguasai HP, atau justru HP yang menguasai kita?” katanya menegaskan. Dalam konteks ini, Megawati seolah memberikan pesan moral bahwa kecanggihan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan kendali atas hidupnya sendiri. Teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan sumber ketergantungan atau alat pengawasan. Megawati dan Pandangannya terhadap Teknologi Meski tidak memiliki HP pribadi, Megawati Soekarnoputri bukan berarti menolak teknologi. Ia memahami bahwa teknologi informasi penting untuk kemajuan bangsa. Namun, ia menilai penggunaan teknologi harus disertai kesadaran etis dan kontrol diri. Menurut Megawati, perkembangan teknologi membawa dampak besar pada kehidupan sosial dan politik. Informasi yang mudah diakses bisa menjadi kekuatan sekaligus ancaman. Ia mengingatkan bahwa penyebaran informasi palsu atau ujaran kebencian bisa merusak persatuan bangsa jika tidak diantisipasi. Ketua Umum DPP PDI Perjuangan itu juga menyinggung bahwa teknologi seharusnya digunakan untuk membangun kesadaran kolektif, bukan memecah belah masyarakat. “Kalau digunakan dengan bijak, teknologi bisa membantu memperkuat bangsa. Tapi kalau disalahgunakan, bisa sangat berbahaya,” ujar Megawati dalam seminar tersebut. Reaksi Publik terhadap Pernyataan Megawati Pernyataan Megawati Soekarnoputri tidak punya HP pribadi segera menjadi perbincangan hangat di media sosial. Banyak warganet yang merasa kagum dengan pilihan hidup Megawati yang sederhana dan disiplin. Ada pula yang menilai keputusan tersebut sebagai bentuk konsistensi seorang tokoh senior yang menjaga jarak dari hiruk-pikuk dunia digital. Beberapa pengguna media sosial menyebut langkah Megawati sebagai “digital detox” permanen yang langka dilakukan oleh tokoh publik. Di sisi lain, sebagian orang menilai langkah itu menunjukkan karakter kuat dan kemandirian dalam menjaga kehidupan pribadi di tengah era keterbukaan informasi. Fenomena ini juga memicu diskusi lebih luas tentang keseimbangan hidup antara dunia digital dan dunia nyata. Banyak kalangan psikolog berpendapat bahwa berjarak sementara dari gawai bisa memberikan manfaat bagi kesehatan mental, seperti mengurangi stres, meningkatkan fokus, dan memperbaiki kualitas tidur. Megawati di Blitar dan Pesan Moral tentang Kehidupan Sederhana Seminar yang dihadiri Megawati Soekarnoputri di Blitar bukan hanya memperingati 70 tahun Konferensi Asia-Afrika, tetapi juga menjadi ajang refleksi tentang nilai-nilai perjuangan dan kesederhanaan hidup. Megawati menekankan pentingnya menjaga karakter bangsa yang berpijak pada moral dan kemanusiaan, sebagaimana semangat yang dulu diperjuangkan oleh Bung Karno. Blitar sendiri memiliki makna khusus bagi Megawati karena di kota inilah sang ayah, Presiden Soekarno, dimakamkan. Tak heran, setiap kali Megawati hadir di Blitar, suasananya selalu penuh makna historis dan emosional. Dalam kesempatan itu, Megawati mengajak generasi muda untuk meneladani nilai-nilai perjuangan dan tidak mudah hanyut dalam budaya instan yang ditawarkan media sosial. Pesan Megawati untuk Generasi Digital Dalam penutupan pidatonya, Megawati kembali menekankan pentingnya menggunakan teknologi dengan bijak. Ia mengajak masyarakat, terutama anak muda, agar tidak mudah terbawa arus tren digital yang belum tentu memberi manfaat. “Gunakan teknologi untuk belajar dan memperkuat diri, bukan untuk menyebar kebencian atau fitnah,” tuturnya. Ia juga mengingatkan bahwa menjaga privasi digital adalah bagian dari tanggung jawab pribadi di dunia maya. Setiap individu harus menyadari risiko berbagi data pribadi secara berlebihan, baik di media sosial maupun platform daring lainnya. Pesan Megawati Soekarnoputri tersebut dianggap relevan di tengah meningkatnya kasus kebocoran data dan penyalahgunaan informasi pribadi di Indonesia. Ia mengajak masyarakat untuk kembali menempatkan nilai-nilai moral dan kemanusiaan di atas kepentingan teknologi. Makna di Balik Pilihan Hidup Tanpa HP Keputusan Megawati Soekarnoputri tidak punya HP pribadi dapat dimaknai sebagai simbol perlawanan terhadap arus digitalisasi yang berlebihan. Ia seakan menunjukkan bahwa hidup tanpa HP bukan berarti ketinggalan zaman, melainkan bentuk kesadaran diri untuk tidak larut dalam ketergantungan teknologi. Di tengah masyarakat yang semakin sibuk dengan dunia maya, langkah Megawati menjadi refleksi tentang pentingnya keseimbangan antara kemajuan teknologi dan ketenangan batin. Ia mencontohkan bahwa tidak semua hal modern harus diikuti jika tidak membawa manfaat bagi diri sendiri. Dengan gaya hidup yang sederhana namun penuh makna, Megawati mengingatkan publik bahwa nilai-nilai manusiawi seperti ketulusan, kesederhanaan, dan komunikasi langsung tetap relevan hingga kini.