“Di era ketika semua orang terlihat bahagia di media sosial, banyak generasi muda justru diam-diam merasa lelah secara mental" JAKARTA - Modernisasi telah mengubah bagaimana masyarakat sehari-hari, terutama bagi kalangan muda. Laju perkembangan teknologi yang terbilang terbilang sangat cepat mengakibatkan beberapa kegiatan sehari-hari menjadi mimpi menjadi kenyataan lebih praktis dan efisien. Dengan kehadiran internet, media sosial, berbagai platform digital, memungkinkan manusia untuk terhubung tanpa batas ruang dan waktu. Namun, tergantung dari kemudahan tersebut, hadir berbagai tekanan psikologis yang secara perlahan-lahan menggeser kesehatan mental generasi muda di era kontemporer sudah biasa. Media sosial memang semakin tak terpisahkan sebagai bagian kehidupan anak muda. Banyak remaja, mahasiswa yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk menelusuri hidup orang lain lewat layar ponsel. Kebiasaan ini sering membuat kita tanpa menyadarinya membandingkan hidup kita sendiri dengan kehidupan orang lain yang tampak lebih sempurna. Foto, prestasi, gaya hidup, sampai dengan interaksi sosial yang terlihat di sosmed dapat memantu rasa tidak percaya diri, merasa cemas dan beban emosi. Banyak generasi muda merasakan harus selalu terlihat senang, produktif, dan terlihat sempurna. Selain itu, kehidupan modern juga membuat generasi muda hidup dalam tekanan yang cukup besar. Tuntutan akademik, persaingan pekerjaan, masalah ekonomi, dan ekspektasi sosial sering kali menjadi beban pikiran yang terus dirasakan setiap hari. Tidak sedikit mahasiswa atau anak muda yang merasa takut tertinggal dari orang lain. Fenomena ini dikenal dengan istilah fear of missing out atau FOMO, yaitu rasa takut ketika merasa orang lain memiliki kehidupan yang lebih baik atau lebih menyenangkan. Akibatnya, banyak orang menjadi sulit menikmati hidup mereka sendiri karena terlalu fokus pada pencapaian orang lain. lingkungan perkotaan, tekanan psikologis selalu terasa lebih berat. Betul saja kehidupan kota yang sibuk dan serba cepat ternyata mengakibatkan kemunculan hubungan sosial yang semakin lama semakin renggang. Banyak orang hidup di tengah keramaian, tetapi tetap merasa sendiri. Interaksi personal mulai berkurang karena sebagian besar komunikasi dilakukan melalui mulut media digital. Lewat generation muda sekarang menjadi lebih mudah untuk terhubung secara online, tetapi tidak semuanya memiliki kedekatan emotional yang riil dengan orang-orang di sekitarnya. Aliran ini membuat orang ini merasa mendatar meskipun telah berada dalam lingkungan yang ramai. Budaya individu juga menjadi efek dari modernisasi. Banyak orang terlalu sibuk dengan pencapaian pribadi sampai lupa menjaga keseimbangan kesehatannya, terutama kesehatan mentalnya. Budaya produktivitas yang meluas di media sosial sudah biasa bikin istirahat dianggap sebagai sesuatu yang tidak produktif. Tubuh dan pikiran manusia memerlukan waktu beberapa kali untuk berhenti sejenak dari tekanannya setiap hari. Begitu kondisi ini tidak segera dibereskan, stres dan kelelahan otak meluas akan berkembang menjadi gejala beberapa penyakit yang lebih berat. Ditambah dengan tekanan dari lingkungan sosial, ruang bercerita yang sedikit pun kembali menjadi masalah bagi generasi muda saat ini. Banyak anak muda merasa takut akan mendapat anggapan lemah ketika mereka membicarakan hal kesehatan mental mereka. Akibatnya, mereka pilih menyimpan perasaan sendiri dan mencoba terlihat semua baik-baik saja di depan orang lain. Padahal, peran dukungan emosional dari keluarga, sahabat, orang-orang sekitar sangatlah besar untuk menjaga keseimbangan psikologis seseorang. Fenomena ini mengekspresikan soal modernisasi tidak akan diterangkan ke hadapan teknologi canggih melainkan juga membawa tantangan yang baru bagi kesehatan mental puni generasi muda. Jadi bukannya punan malah demikian keropos sih mentalnya dicintai orang. Media sosial itu bukan hanya untuk meluaskan jarimat, tetapi juga ruang yang lebih positif antara saling menyokong dan meluaskan jarimat yang hakiki. Meski begitu, menurutnya, masyarakat harus cerdekah bahwa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Generasi muda perlu lingkungan yang lebih aman dan dengan terbuka untuk membicara tentang tekanan hidup yang mereka alami. Dengan adanya sistim komunikasi yang sehat, adanya penghargaan sosial, dan penggunaan media sosial yang lebih bijak, generasi muda bisa menghadapi mudik zaman tanpa kehilangan mental kesehatan sendiri. “Modernisasi seharusnya membantu manusia hidup lebih baik, bukan membuat generasi muda merasa sendirian di tengah dunia yang semakin ramai.”