JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Komika dan pembawa acara Pandji Pragiwaksono menjadi perbincangan hangat setelah video lawas penampilannya kembali viral di media sosial. Dalam potongan video tersebut, Pandji melontarkan candaan mengenai budaya Toraja, terutama tentang adat pemakaman Rambu Solo’, yang dianggap menyinggung dan merendahkan nilai-nilai budaya leluhur masyarakat Toraja. Dalam cuplikan video yang beredar luas, Pandji mengisahkan tentang tradisi pemakaman masyarakat Toraja yang disebutnya “terlalu mahal” hingga membuat sebagian orang kesulitan ekonomi. Ia juga menyebut bahwa “jenazah orang Toraja disimpan di ruang tamu di depan televisi” karena belum mampu melaksanakan prosesi pemakaman. Pernyataan tersebut memicu reaksi keras. Banyak warga Toraja menilai ucapan itu telah menyederhanakan dan mendistorsi makna sebenarnya dari upacara Rambu Solo, yang sejatinya merupakan bentuk penghormatan tertinggi terhadap orang yang telah meninggal dunia. Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI) menganggap ucapan Pandji sebagai tindakan tidak menghargai budaya lokal. Ketua PMTI Makassar, Amson Padolo, menyebut bahwa dua hal paling menyinggung dari candaan Pandji adalah penggambaran kemiskinan akibat adat, serta pernyataan bahwa jenazah disimpan di depan televisi. “Ini bukan sekadar candaan, tetapi bentuk pelecehan terhadap nilai-nilai adat kami. Rambu Solo’ bukan pesta mewah, melainkan bentuk cinta dan penghormatan keluarga kepada arwah leluhur,” ujar Amson dikutip dari Detik.com Sementara itu, Tongkonan Adat Sang Torayan (TAST) juga bereaksi keras. Mereka menilai ucapan Pandji merupakan pelanggaran terhadap adat Toraja dan menyatakan kemungkinan menjatuhkan sanksi adat berupa denda 50 ekor kerbau, sesuai tradisi setempat bagi pelaku penghinaan budaya. Tak hanya sanksi adat, persoalan ini juga memasuki ranah hukum. Aliansi Pemuda Toraja secara resmi melaporkan Pandji ke Bareskrim Polri atas dugaan penghinaan dan ujaran kebencian bernuansa SARA. Sejumlah anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan pun ikut mendesak Pandji untuk menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada masyarakat Toraja. “Budaya lokal harus dihormati. Tidak semestinya dijadikan bahan tertawaan di atas panggung hiburan,” tegas anggota DPR RI dari Fraksi PDIP, Maria Supit, seperti dikutip dari Suara.com. Menanggapi kecaman tersebut, Pandji akhirnya menyampaikan permintaan maaf melalui akun Instagram-nya. Ia mengaku tidak bermaksud menghina masyarakat Toraja dan menyebut candaan tersebut dibuat bertahun-tahun lalu tanpa pemahaman yang cukup tentang adat lokal. “Saya minta maaf kepada seluruh masyarakat Toraja. Candaan itu lahir dari ketidaktahuan saya. Saya sadar telah menyinggung banyak orang dan saya akan bertanggung jawab atas kesalahan ini,” tulis Pandji dalam unggahannya. Pandji juga menegaskan dirinya terbuka untuk berdialog langsung dengan perwakilan masyarakat Toraja agar dapat memahami lebih dalam makna budaya Rambu Solo. Rambu Solo merupakan upacara adat pemakaman masyarakat Toraja yang memiliki nilai sosial dan spiritual tinggi. Upacara ini bertujuan menghantarkan roh orang yang meninggal menuju Puya, alam arwah menurut kepercayaan masyarakat Toraja. Prosesinya bisa berlangsung beberapa hari hingga berminggu-minggu, tergantung status sosial almarhum dan kesiapan keluarga. Dalam pelaksanaannya, masyarakat Toraja bekerja sama secara gotong royong. Hewan kurban seperti kerbau dan babi dipersembahkan bukan sebagai simbol kemewahan, melainkan bentuk penghormatan kepada arwah dan solidaritas sosial di antara warga. Karena itulah, penyederhanaan adat ini sebagai “pesta mahal” dianggap menyesatkan dan merendahkan makna spiritual dari tradisi turun-temurun tersebut. Kasus ini menimbulkan diskusi publik yang lebih luas tentang batas antara kebebasan berekspresi dan penghormatan budaya. Komedi sering kali menggunakan satir dan ironi sebagai bentuk kritik sosial, tetapi ketika menyentuh identitas etnis atau kepercayaan lokal, risiko kesalahpahaman menjadi besar. Kasus Pandji Pragiwaksono menjadi pelajaran penting bagi para pelaku seni untuk melakukan riset dan memahami konteks budaya sebelum menjadikan topik tertentu sebagai bahan komedi. Di sisi lain, masyarakat diingatkan untuk menilai niat dan konteks dengan bijak, tanpa langsung mengedepankan amarah. Kecaman terhadap Pandji menunjukkan betapa kuatnya ikatan masyarakat Toraja terhadap warisan budayanya. Permintaan maaf sang komika menjadi langkah awal menuju pemulihan hubungan yang sempat renggang antara publik figur dan komunitas adat. Namun, kasus ini sekaligus menegaskan satu hal penting: menghormati keberagaman budaya adalah tanggung jawab bersama, baik bagi seniman, media, maupun masyarakat luas. Sumber: Detik.com, Suara.com, KarebaToraja.com, HarianHaluan