JAKARTA, NETRALNEWS.COM - K-Pop Demon Hunters menjadi film pemecah rekor yang tengah menggemparkan dunia dan Belfast pun tidak terkecuali. Wajah para peserta di kelas tari bertema K-pop di Belfast tampak berbinar ketika lagu "Golden" yang tengah mendominasi tangga lagu dunia, diputar dari pengeras suara. Bagi para penggemar lokal, kehadiran kelas ini menjadi contoh lain bagaimana K-pop genre musik asal Korea Selatan yang sudah menjadi fenomena global mulai mendapatkan tempat di Irlandia Utara. “Pada tahun 2015, jarang sekali ada orang yang mendengarkan K-pop,” ujar Amy Ferguson, salah satu peserta kelas. “Sekarang bahkan ada rak khusus K-pop di toko-toko. Senang rasanya melihat budaya ini sampai juga ke bagian dunia yang kecil ini.” Dari BTS hingga Blackpink: Apa Itu K-pop? Kelas tari yang diikuti Amy merupakan salah satu kegiatan yang diadakan oleh komunitas mahasiswa Queen’s University Belfast yang memang didedikasikan untuk semua hal tentang K-pop. Musik K-pop, yang menggabungkan unsur pop, hip-hop, dan dance dengan sentuhan khas Korea, telah meraih kesuksesan luar biasa lewat nama-nama besar seperti BTS, Blackpink, dan Enhypen. Maud Barr, mahasiswi berusia 22 tahun dari Belfast Barat yang ikut bergabung di kelas itu, mengatakan bahwa K-pop menawarkan sesuatu yang berbeda dibandingkan genre lain. “Aku merasa mendapatkan gaya musik yang sudah tidak lagi diberikan musik barat,” katanya. “Kami disuguhi lebih banyak pertunjukan tari, penampilan langsung yang jauh lebih baik, dan begitu banyak konten untuk dinikmati.” Bagi mereka yang belum mengenal K-pop, popularitas genre ini semakin melejit berkat kesuksesan film K-Pop Demon Hunters, yang kini menjadi film paling banyak ditonton di Netflix sepanjang masa. Maud mengaku sempat khawatir film itu akan terasa “gimmicky” alias sekadar hiburan tempelan, tapi ternyata ia justru terkesan. “Aku sudah terbiasa melihat orang-orang mengejek K-pop sejak era ‘Gangnam Style’,” jelas Maud. Sementara itu, Lauren L’Estrange, instruktur kelas tari tersebut, mengatakan film ini berhasil menangkap semangat komunitas penggemar K-pop dengan sangat baik. “Cara mereka menggambarkan konser K-pop, di mana semua jiwa terasa menyatu, benar-benar sesuai dengan kenyataan,” ujarnya. “Rasanya sangat euforia. Melihatnya divisualisasikan lewat animasi yang indah, apalagi dibuat oleh orang-orang yang juga mencintai K-pop, membuat pengalaman itu semakin istimewa. Aku sampai meneteskan air mata.” Lauren menggambarkan kelas tersebut sebagai “Zumba dengan iringan musik K-pop”. Amy menambahkan bahwa kelas ini menjadi kesempatan berharga untuk berbagi kegemaran dengan orang-orang yang sepemikiran. “Aku bukan penari terbaik, tapi aku datang untuk bersenang-senang dengan orang lain yang menyukai hal-hal yang aku sukai. Ini komunitas yang luar biasa,” katanya. Akankah Grup K-pop Konser di Irlandia? Seiring semakin bertambahnya penggemar K-Pop di sini, fans K-pop di Irlandia Utara berharap para idol bisa mempertimbangkan untuk menggelar tur ke Belfast atau Dublin. Hingga kini, grup besar seperti BTS dan Blackpink belum pernah tampil di Pulau Irlandia. “Aku rasa aku akan menangis kalau itu terjadi. Aku pasti jadi yang pertama untuk antre agar mendapatkan tiket itu,” kata Maud. “Biasanya aku harus ke London untuk menonton grup yang aku suka. Tapi kalau mereka datang ke sini, akan ada ribuan orang yang hadir.” Bagi Rebecca Fogarty, yang sudah 13 tahun mengajar bahasa dan budaya Korea di Irlandia Utara, meningkatnya minat masyarakat untuk belajar bahasa Korea dalam beberapa tahun terakhir tak lepas dari pengaruh K-pop. “Orang-orang ingin bisa bernyanyi bersama lagu-lagu K-pop dan lebih fasih berbahasa Korea,” ujarnya. “Mereka senang ketika bisa memahami kalimat di drama atau film Korea. Ada juga sisi sosialnya: sekelompok murid saya bahkan membeli tiket konser K-pop dan rutin bepergian ke berbagai negara Eropa untuk menontonnya.” Secara pribadi, Rebecca merasa senang melihat Korea semakin dikenal di Irlandia Utara. “Sekarang saya tidak perlu lagi menjelaskan panjang lebar tentang dari mana saya berasal, karena orang sudah mengenal negara dan budayanya,” katanya. “Ketika saya berkeliling Eropa di tahun 90-an, saya harus menjelaskan letak Korea. Saat itu terdengar asing bagi banyak orang. Kini, hal ini justru membuat saya lebih percaya diri dengan budaya saya.” Sumber: BBCnews