JAKARTA - Film berjudul "Hope" yang dirilis pada tahun 2013 kembali relevan untuk dibahas di tengah maraknya kasus kekerasan seksual terhadap anak yang masih sering terjadi di Indonesia. Kisah nyata yang diangkat film ini bukan hanya menyentuh hati, tetapi juga mengingatkan kita bahwa perjuangan korban untuk mendapatkan keadilan dan pemulihan trauma membutuhkan waktu yang sangat lama. "Hope" mengisahkan tentang So-won, seorang anak perempuan berusia delapan tahun yang menjadi korban kekerasan seksual dan fisik oleh seorang pria dewasa yang sedang mabuk. Trauma yang dialami So-won tidak hanya meninggalkan luka yang menyebabkan So-won cacat permanen, tetapi juga trauma psikologis yang mendalam. Film ini dengan sangat apik menggambarkan bagaimana keluarga So-won, terutama orang tuanya yang berjuang mendampingi dan mendukung proses pemulihan putrinya di tengah rasa sakit dan ketidakadilan yang keluarga mereka terima oleh sistem hukum di negaranya sendiri. Sebagai Perempuan yang menonton film ini, saya merasakan betul bagaimana film ini mampu menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dalam. Adegan-adegan yang menggambarkan trauma So-won, ketakutannya terhadap pria, dan usaha Ayahnya agar bisa tetap dekat dengan putrinya hingga dia rela mengenakan kostum karakter kartun favorit putrinya, itu sangat mengharukan sekaligus membuat saya merasa empati. Film ini tidak menampilkan kekerasan secara eksplisit, melainkan menekankan dampak psikologis dan sosial yang dialami korban dan keluarganya. Lebih dari sekadar drama keluarga, "Hope" juga mengangkat kritik tajam terhadap sistem hukum yang sering kali belum memberikan keadilan yang layak bagi korban kekerasan seksual. Dalam film ini, pelaku hanya mendapatkan hukuman yang terbilang ringan, sebuah gambaran yang sangat mirip dengan kondisi di Indonesia saat ini. Banyak kasus kekerasan seksual yang berujung pada vonis ringan, sehingga menimbulkan kekecewaan dan kemarahan di masyarakat. Film ini mengajak kita untuk tidak hanya berempati, tetapi juga mendorong perubahan sistemik agar hukum benar-benar berpihak pada korban dan memberikan efek jera pada pelaku kekerasan seksual. Relevansi "Hope" dengan situasi Indonesia saat ini sangat kuat. Data dan laporan menunjukkan bahwa kekerasan seksual terhadap anak masih menjadi masalah serius, sementara dukungan psikologis dan perlindungan hukum bagi korban kekerasan seksual masih minim. Film ini menjadi pengingat bahwa trauma yang dialami korban tidak berhenti pada saat kejadian, melainkan berlanjut dalam proses penyembuhan yang panjang dan penuh tantangan. Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar, seperti yang digambarkan dalam film menjadi bukti penting untuk membantu korban kekerasan seksual bangkit kembali. Pesan moral yang diberikan Film "Hope" sangat relevan bagi kita semua, terutama perempuan yang rentan menjadi korban kekerasan seksual. Film ini mengajak kita untuk terus menjaga harapan, memberikan dukungan tanpa henti kepada korban, serta memperjuangkan keadilan dan perubahan sosial yang lebih baik agar tidak ada lagi korban yang merasa sendiri dan terabaikan. Mereview "Hope" di tahun ini bukan sekadar mengenang film lama, melainkan untuk membuka mata dan hati kita terhadap realitas yang masih terjadi saat ini. Film ini menjadi cermin yang memantulkan kondisi sosial dan hukum yang masih perlu diperbaiki. Semoga dengan semakin banyak orang yang menyadari dan peduli, perlindungan terhadap anak dan perempuan dapat semakin diperkuat, serta keadilan bagi korban kekerasan seksual benar-benar terwujud.