DEPOK, NETRALNEWS.COM — Dari kantin kampus hingga pusat perbelanjaan, penggunaan plastik sekali pakai masih menjadi pemandangan sehari-hari. Padahal, pemerintah telah mendorong pengurangan sampah plastik melalui berbagai kebijakan, termasuk pelarangan kantong plastik di beberapa daerah dan kampanye penggunaan produk ramah lingkungan. Namun, kesadaran masyarakat untuk beralih ke gaya hidup minim plastik masih menjadi tantangan besar. “Masalahnya bukan cuma pada kebijakan, tapi pada perilaku sehari-hari. Kadang orang tahu bahaya plastik, tapi tetap pakai karena dianggap lebih praktis,” ujar Lulu, mahasiswa Jurusan Teknik Lingkungan Politeknik Negeri Jakarta, saat ditemui di kampus, Rabu (5/11). Krisis yang Tak Terlihat Tapi Nyata Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan, Indonesia menghasilkan sekitar 11,6 juta ton sampah plastik setiap tahun, dan sekitar 3,2 juta ton di antaranya berakhir di laut. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu penyumbang sampah plastik laut terbesar di dunia. Sampah plastik yang sulit terurai menyebabkan pencemaran lingkungan jangka panjang mulai dari mikroplastik (partikel plastik berukuran sangat kecil) di laut hingga racun kimia yang masuk ke rantai makanan manusia. “Mikroplastik bahkan sudah ditemukan di air minum kemasan dan garam dapur. Ini bukti nyata bahwa dampaknya sudah kembali ke kita,” tambah Lulu. Peran Mahasiswa dan Kampus dalam Perubahan Sebagai institusi pendidikan vokasi, Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) turut berupaya menggerakkan perubahan perilaku ramah lingkungan. Salah satunya melalui program kampus hijau dan edukasi pengelolaan sampah. Lulu menjelaskan, saya sebagai mahasiswa mulai membiasakan diri membawa tumbler dan kotak makan pribadi, serta mengurangi penggunaan kantong plastik saat berbelanja di area kampus. “Kami ingin mulai dari hal kecil. Kalau semua mahasiswa melakukan, dampaknya bisa besar,” kata Lulu dengan semangat. Pilihan Kecil, Dampak Besar Ahli lingkungan menilai perubahan signifikan bisa dimulai dari pilihan individu. Membawa tas kain, menggunakan ulang botol minum, dan menolak sedotan plastik mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan secara konsisten oleh jutaan orang, dampaknya akan sangat besar terhadap penurunan volume sampah plastik nasional. Pemerintah pun terus menggalakkan gerakan “Reduce, Reuse, Recycle (Kurangi, Gunakan Kembali, Daur Ulang)” di berbagai lini masyarakat. “Bumi tidak butuh satu orang yang sempurna mengelola sampah, tapi jutaan orang yang mau berusaha setiap hari,” ujar Lulu menutup pembicaraan. Sampah plastik bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga besar, tetapi juga hasil dari pilihan kita setiap hari dari minuman yang kita beli hingga kantong belanja yang kita pilih. Perubahan besar sering kali dimulai dari hal kecil. Dan di tengah krisis lingkungan yang semakin nyata, barangkali saatnya kita bertanya: Apakah pilihan kita hari ini sudah cukup berpihak pada bumi?