JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Beberapa tahun lalu, tren kecantikan berkiblat pada rutinitas ala Korea yang bisa mencapai 10 hingga 12 langkah setiap malam. Mulai dari double cleansing, toner, essence, ampul, serum berlapis, hingga krim mata. Namun, di tahun 2025, pendulum bergeser ke arah kesederhanaan atau Skinimalism (Skin Minimalism). Dermatolog atau dokter kulit sebenarnya sudah lama menyuarakan hal ini. Menggunakan terlalu banyak produk aktif secara bersamaan justru berisiko merusak penghalang kulit (skin barrier). Kulit menjadi "bingung", iritasi, dan rentan berjerawat karena pori-pori tersumbat atau reaksi kimia antarproduk yang tidak cocok. Filosofi Skinimalism adalah less is more. Rutinitas perawatan dipangkas menjadi tiga pilar utama yang esensial: Sabun pembersih yang lembut (Cleanser), Pelembap yang sesuai jenis kulit (Moisturizer), dan Tabir surya di pagi hari (Sunscreen). Produk tambahan seperti serum atau obat jerawat hanya digunakan jika benar-benar ada masalah spesifik, bukan sebagai menu wajib harian. Tren ini juga merayakan tekstur kulit asli. Alih-alih mengejar kulit "kaca" yang mulus tanpa pori-pori (yang sering kali tidak realistis), Skinimalism mendorong penerimaan terhadap pori-pori, bintik hitam, dan tekstur alami wajah. Tujuannya adalah kulit yang sehat dan kuat, bukan kulit yang sempurna bak porselen. Selain menyehatkan kulit, gaya hidup ini jelas menyehatkan dompet. Pengeluaran bulanan untuk produk kecantikan bisa ditekan drastis. Waktu di depan cermin pun berkurang, memberikan lebih banyak ruang untuk istirahat atau aktivitas lain yang lebih bermakna.