JAKARTA - Edgar Allan Poe, penyair romantik Amerika, pernah mengatakan, kebanyakan penyair lebih suka dinggap berkarya oleh sekelompok penggemar fanatik saja dan takut jika masyarakat luas mengintip ke balik layar. Lain lagi pelukis Pablo Picasso, siapa pun yang bergaul dengannya, akan tersedot energinya, lalu pulang dengan grogi dan lelah, sementara Picasso sendiri sanggup melukis semalam suntuk dengan energi yang disedotnya itu. Benarkah demikian? Benar untuk zamannya. Tapi, di era teknologi informasi (digital) seperti sekarang, siapa pun bisa menghasilkan karya hebat yang diapresiasi banyak orang. Karya hebat bukan monopoli para maestro, tapi bisa lahir dari tangan siapa pun yang kreatif, mau berbagi, dan siap berkomunikasi kapan pun dengan siapa pun. Inilah yang menjadi pembahasan buku ini. Edgar Allan Poe dan Pablo Picasso memang orang-orang genius. Namun, di era digital, untuk melahirkan karya, tidak perlu sosok genius, melainkan scenius. Jika genius diartikan sebagai manusia dengan bakat luar biasa, tanpa pendahulu, dan langsung terhubung dengan Tuhan Sang Pemberi Ilham dalam menghasilkan karya besar, scenius menyadari kreativitas selalu berupa kolaborasi hasil pemikiran yang terkait dengan pemikiran lainnya. Scenius tidak menuntut cerdas atau berbakatnya seseorang, melainkan apa gagasan yang dibagikan, kualitas hubungan yang dijalin, dan percakapan yang diciptakan. Ketiga hal ini sangat mudah dilakukan di era internet kini. Era internet memungkinkan setiap amatir untuk berkarya. Berbeda dengan profesional, amatir bersedia mencoba apa saja dan berbagi hasilnya. Mereka mengambil setiap kesempatan, bereksperimen, dan mengikuti naluri, bahkan untuk karya yang dianggap konyol sekalipun. Bagi amatir, penilaian sebuah karya tidak didasarkan pada ukuran-ukuran yang sempit dan absolut. Tidak ada perbedaan antara karya yang bagus dan jelek. Yang membedakan adalah berkarya dan tidak berkarya. Berlawanan dengan para maestro di atas, mempublikasikan proses berkarya setiap saat akan membawa seseorang menjadi kreator hebat. Banyak pilihan media publikasi, tergantung jenis karya yang dikerjakan. Selain memiliki web sendiri, kreator film bisa memilih YouTube atau Vimeo, penulis dapat memilih Twitter, seniman visual menyenangi Tumblr, Instagram, atau Facebook. Tidak perlu kecil hati karena merasa karya kita jelek. Hukum sturgeon yang dicetuskan penulis fiksi ilmiah Theodore Sturgeon mengatakan, 90% dari segala hal sebenarnya jelek. Kita perlu mempublikasikan karya untuk memancing respons khalayak dan mengetahui mana yang bagus dan mana yang jelek. Paul Bloom, seorang profesor psikologi, menyatakan, kalau kesenangan penikmat lukisan tergantung warna, bentuk, dan polanya, mestinya tak jadi soal apakah sebuah lukisan asli atau palsu. Sayangnya, otak manusia tidak bekerja seperti itu. Ketika melihat suatu benda, penilaiannya terhadap benda itu sangat dipengaruhi pendapat orang lain tentang benda tersebut. Karena itu, mempublikasikan karya untuk menjaring pendapat orang lain sangat dianjurkan. Internet bukan hanya sebagai alat promosi diri, melainkan juga untuk penemuan diri dengan menghasilkan karya terbaik. Jika sudah melakukan yang terbaik dan terhubung dengan banyak orang, maka uang akan menyusul. Batas antara profesional dan amatir pun menjadi kabur. Berkarya untuk menghasilkan uang bukan hal tabu. Uang tidak merusak kreativitas, malah menyuburkannya. Mario Puzo menulis The Godfather untuk mendapatkan uang. Paul McCartney mengakui dirinya dan John Lennon sering duduk sebelum sesi menulis lagu Beatles, lalu berkata, “Ayo, kita tulis pohon uang.” Dan, yang terpenting, ketika orang bersedia merogoh kocek untuk karya kita, kita jadi tahu nilai penghargaan mereka. Buku dengan tebal 224 halaman yang diterbitkan Workman Publishing Company, New York, Amerika Serikat ini bisa membuka mata kita yang bekerja di dunia kreatif untuk memanfaatkan peluang yang terbuka lebar di era teknologi informasi sekarang. Pada beberapa bagian, buku yang terbagi menjadi 10 bab yang terbit pada 2014 ini, uraiannya sangat praktikal sehingga dapat menjadi panduan untuk diikuti. Nama besar penulisnya, Austin Kleon, sebagai pakar kreativitas yang diakui dunia, menjadi daya tarik buku ini. Sebelumnya, Austin Kleon telah menulis buku Steal Like an Artist yang best seller dan diterjemahkan ke banyak bahasa di dunia. Tulisan-tulisan lainnya dari Austin Kleon di antaranya tersebar di The New York Times dan The Wall Street Journal.