JAKARTA - Pernah suatu ketika peristiwa gempa bumi, liquefaksi, dan gelombang tsunami di Palu Sulawesi Tengah tahun 2018, terjadi fenomena yang mengagetkan penulis pribadi. Setelah gempa bumi orang-orang berlarian, entah mencari tempat tinggi, panik, dan lain sebagainya. Liquefaksi menyusul di beberapa titik yang menggerakkan rumah, jalan, manusia, serta apapun yang berada di atasnya. Beberapa saat kemudian, gelombang tsunami datang menghantam dari Pantai ke daratan, yang tentu saja kejadian berturut-turut tersebut menimbulkan banyak korban jiwa, trauma mendalam, dan duka bagi para korban. Gelombang bencana, duka, kesedihan, yang datang tiba-tiba tidak dipedulikan oleh sekelompok orang. Sekelompok orang yang kemudian pantas disematkan dengan julukan bramacorah. Bramacorah yang sudah membawa berbagai macam perlengkapan untuk menjarah toko-toko kendaraan, toko gawai, dan peralatan elektronik lainnya. Tak peduli musibah dan duka, mungkin juga hilang empati dan simpati pada kondisi sekitar, hanya memedulikan urusan keuntungan bagi dirinya, para bramacorah ini beraksi merampok dan menjarah di lokasi bencana. Begitu pula pada aksi-aksi yang merupakan rangkaian dari gelombang aksi dan tragedi Affan Kurniawan, seorang ojek online yang dilindas oleh mobil polisi, mobil yang mungkin didanai dari pajak rakyat Indonesia. Oleh karena kejadian ini, para bramacorah pun beraksi, entah direncanakan atau memang ada kesempatan, peristiwa kebakaran di gedung DPRD Kota Makassar pun menjadi kesempatan emas bagi mereka. Mulailah para bramacorah ini merampok, meski belum diketahui pasti apakah mereka termasuk yang memprovokator atau tidak, yang jelas kebakaran ini menjadi kesempatan emas bagi bramacorah untuk merampok. Mungkin pakai dalih bahwa semua di gedung DPRD adalah milik rakyat, maka berhak untuk diambil, tentu ini logika yang fatal. Karena biar bagaimanapun peristiwa penjarahan termasuk dalam kategori mencuri atau merampok yang bukan hak milik kita. Karakter bangsa sedang dipertaruhkan dan wajib diperbaiki, mereka para bramacorah ini turut bertanggungjawab kelak. Setiap manusia bertanggungjawab atas apa yang diperbuatnya, maka penting untuk memperbaiki sifat, sikap, serta karakter. Karakter bangsa dipertaruhkan oleh para bramacorah yang tidak bertanggungjawab, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk melakukan penjarahan. Emosi sekelompok orang untuk menjarah rumah beberapa anggota DPR RI pun menjadi kesempatan emas bagi para bramacorah untuk ikut beraksi. Sekali lagi, entah diprovokasi, terencana, hanya iseng, atau memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, menjarah dan merampok hak milik orang lain adalah perbuatan yang tidak dibenarkan. Karakter bangsa mau tidak mau dipertaruhkan oleh karena ulah tidak bertanggungjawab para bramacorah ini. Maka, jika kita bertemu dengan mereka, mengenali ciri-ciri mereka, atau berada di dekat mereka, tegurlah mereka. Minimal itu yang bisa kita lakukan dalam upaya kecil memperbaiki karakter bangsa. Ingatkan mereka bahwa bertanggungjawab atas setiap perbuatan itu penting untuk menjadi manusia seutuhnya.