TAWANGSARI — “Cuma bercanda” mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi sebagian anak, sebuah ejekan bisa menjadi sesuatu yang membekas. Hal tersebut terungkap dalam kegiatan AKSARA (Aksi Kreatif Siswa Raih Asa) yang dilaksanakan Kelompok 99 KKN MAS UMM di SDN 2 Tawangsari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, pada 3 Agustus 2026 silam. Mengangkat tema pendidikan karakter dan anti-bullying, kegiatan ini mengajak siswa untuk mengenali berbagai bentuk bullying sekaligus memahami dampak yang dapat ditimbulkannya. Para siswa diberikan pemahaman bahwa bullying tidak hanya berupa tindakan kekerasan secara fisik, tetapi juga dapat terjadi melalui perkataan, ejekan, maupun perlakuan yang merendahkan orang lain. Salah satu kegiatan yang menjadi bagian penting dalam edukasi tersebut adalah siswa diminta menuliskan hal-hal yang pernah membekas dalam diri mereka terkait pengalaman bullying. Tanpa harus menyebutkan identitas pelaku maupun korban, para siswa diberikan ruang untuk menuangkan pengalaman dan perasaan mereka melalui tulisan. Dari tulisan yang dikumpulkan, terlihat bahwa bullying terkait kondisi fisik menjadi salah satu pengalaman yang banyak dirasakan siswa. Ejekan mengenai bentuk tubuh maupun penampilan dapat membuat seseorang merasa tidak percaya diri dan tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Selain persoalan fisik, perbedaan kemampuan akademik juga menjadi salah satu hal yang muncul dalam cerita siswa. Beberapa siswa menuliskan pengalaman mendapatkan ejekan atau perlakuan kurang menyenangkan karena dianggap memiliki kemampuan akademik yang berbeda dari teman-temannya. Hal tersebut menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki kelebihan dan proses belajar yang berbeda. Kemampuan akademik seseorang tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan atau mengucilkannya. Begitu pula dengan kondisi fisik yang merupakan bagian dari keberagaman setiap individu. Melalui kegiatan ini, Kelompok 99 KKN MAS mengajak siswa untuk memahami bahwa candaan memiliki batas. Sesuatu yang dianggap lucu oleh satu orang belum tentu menyenangkan bagi orang lain. Bullying yang dilakukan secara berulang dapat berdampak pada kepercayaan diri, kondisi emosional, hubungan sosial, hingga semangat anak dalam mengikuti kegiatan di sekolah. Para siswa juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya empati, saling menghargai, dan berani mengambil sikap ketika melihat tindakan bullying. Dengan demikian, siswa tidak hanya diajak untuk menghindari perilaku bullying, tetapi juga menjadi bagian dari terciptanya lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Kegiatan AKSARA tersebut dikoordinasikan dan didampingi oleh Putri Aulia Maret Lestari, mahasiswa Program Studi Keperawatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta; Aliefya Ramadhani, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar; Nifah Nur Rohmah, mahasiswa Program Studi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya; serta Ma`rie Abdurrahman, mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Gombong. Melalui AKSARA, Kelompok 99 KKN MAS berharap pendidikan karakter dapat tumbuh melalui kebiasaan sederhana dalam keseharian siswa: tidak mengejek fisik, tidak merendahkan kemampuan teman, tidak mengucilkan, serta berani menghargai setiap perbedaan. Karena terkadang, yang bagi kita hanya sebuah candaan, bagi orang lain bisa menjadi luka yang sulit dilupakan.- (Monica Marchelina Iskandar)