JAKARTA, NETRALNEWS.COM –Dr. Gladys Kalema-Zikusoka baru berusia 26 tahun ketika menjadi dokter hewan satwa liar pertama di Uganda pada 1996. Sembilan bulan setelah memulai pekerjaannya, ia menghadapi kasus penyakit kulit misterius yang menyerang gorila gunung, satwa yang saat itu berstatus sangat terancam punah. Gorila-gorila tersebut mengalami kerontokan bulu, kulit bersisik, serta terus menggaruk tubuh mereka. Setelah melakukan penyelidikan, Kalema-Zikusoka dan timnya menemukan bahwa penyakit tersebut adalah kudis (scabies), infeksi akibat tungau yang sering berkaitan dengan buruknya kebersihan. Penyakit itu diketahui berasal dari pakaian kotor yang dipenuhi tungau dan digunakan pada orang-orangan sawah di sekitar batas taman nasional. Hal tersebut menunjukkan bahwa gorila tertular penyakit dari manusia secara tidak langsung. Bagi Kalema-Zikusoka, kejadian itu menjadi pelajaran penting bahwa perlindungan terhadap gorila tidak dapat dilakukan hanya dengan menjaga satwanya, tetapi juga harus memperhatikan kesehatan masyarakat yang hidup berdampingan dengan mereka. Pada 2003, ia mendirikan organisasi nirlaba Conservation Through Public Health yang berfokus pada hubungan antara kesehatan manusia, satwa liar, dan konservasi. Melalui berbagai program kesehatan serta pemberdayaan ekonomi, organisasi tersebut telah melibatkan lebih dari 50.000 masyarakat lokal. Upaya ini turut membantu meningkatkan populasi gorila gunung di Uganda hingga lebih dari 50 persen. Kecintaan terhadap Primata Ketertarikan Kalema-Zikusoka terhadap primata dimulai sejak kecil. Saat berusia 8 tahun, ia melihat monyet peliharaan tetangganya mengamati dirinya ketika sedang bermain piano. Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa primata memiliki kemiripan dengan manusia. Kecintaannya terhadap satwa liar kemudian membawanya belajar di Royal Veterinary College, London. Pada 1994, ia kembali ke Uganda dan bekerja di Taman Nasional Hutan Tak Tertembus Bwindi, kawasan yang menjadi rumah bagi hampir setengah populasi gorila gunung dunia. Pertemuan pertamanya dengan gorila memperkuat keinginannya untuk melindungi satwa tersebut. “Saya jatuh cinta dengan tempat itu dan merasa jika saya tidak kembali bekerja bersama mereka setelah lulus sekolah kedokteran hewan, jumlah mereka mungkin akan menghilang,” ujar Kalema-Zikusoka. Ancaman dari Aktivitas Manusia Gorila gunung di Uganda telah menghadapi berbagai ancaman selama puluhan tahun, terutama akibat aktivitas manusia. Hilangnya habitat menjadi ancaman terbesar karena hutan ditebang untuk kebutuhan kayu bakar, arang, dan lahan pertanian. Selain itu, gorila juga rentan terhadap penyakit manusia karena memiliki kemiripan DNA dengan manusia sebesar 98,4 persen. Mereka juga dapat terluka akibat jerat yang sebenarnya dipasang pemburu untuk menangkap hewan lain. Ketika Uganda mengalami masa pemerintahan Idi Amin pada 1970-an, kondisi politik yang tidak stabil turut berdampak pada kehidupan satwa liar. Banyak hewan diburu dan populasi satwa mengalami penurunan. Pengalaman tersebut juga memengaruhi kehidupan Kalema-Zikusoka. Ayahnya yang pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Perindustrian Uganda menjadi salah satu korban awal ketika Idi Amin berkuasa. Ia kemudian menjadikan kecintaannya terhadap satwa liar sebagai cara untuk meneruskan cita-cita ayahnya dalam membangun Uganda yang lebih baik. Membangun Hubungan antara Manusia dan Gorila Karena banyak desa berada di sekitar kawasan Bwindi, gorila terkadang memasuki wilayah masyarakat sehingga meningkatkan risiko terjadinya konflik maupun penyebaran penyakit. Sejak 2003, Conservation Through Public Health membantu masyarakat untuk hidup berdampingan dengan gorila melalui berbagai program edukasi kesehatan dan konservasi. Salah satunya adalah pelatihan kelompok sukarelawan masyarakat yang memberikan edukasi mengenai sanitasi, pencegahan penyakit, dan perencanaan keluarga. Program tersebut membantu menciptakan lingkungan yang lebih sehat sekaligus meningkatkan kesadaran warga mengenai dampak aktivitas manusia terhadap gorila. Organisasi tersebut juga memberikan pelatihan pengelolaan ternak untuk mengurangi ancaman terhadap satwa liar serta membentuk kelompok Gorilla Guardians yang bertugas membantu mengembalikan gorila yang keluar dari kawasan perlindungan ke habitatnya. Selain itu, mereka membantu mantan pemburu liar mendapatkan pekerjaan baru sebagai penjaga hutan, pemandu wisata, maupun petani. Memberikan Alternatif Mata Pencaharian Untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap aktivitas yang dapat mengancam satwa liar, Kalema-Zikusoka bersama suaminya mendirikan Gorilla Conservation Coffee pada 2015. Program ini membeli kopi dari petani lokal dengan harga lebih tinggi dari pasar. Sebagian keuntungan dari penjualan kopi kemudian disalurkan untuk mendukung program konservasi. Dari awalnya hanya melibatkan 75 petani, program tersebut kini berkembang menjadi lebih dari 630 petani, dengan lebih dari sepertiganya merupakan perempuan. Selain pertanian, pariwisata gorila juga menjadi sumber ekonomi penting bagi masyarakat sekitar Bwindi. Jumlah wisatawan meningkat dari sekitar 1.300 orang pada 1993 menjadi hampir 39.000 orang pada 2023. Perkembangan wisata tersebut menciptakan lapangan kerja dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. Sebagian pendapatan taman nasional juga digunakan untuk mendukung pembangunan fasilitas masyarakat seperti sekolah dan jalan. “Masyarakat sekarang melihat gorila sebagai masa depan mereka,” kata Kalema-Zikusoka. Harapan Baru bagi Gorila Gunung Berkat berbagai upaya konservasi tersebut, populasi gorila gunung di Bwindi meningkat dari sekitar 300 ekor pada 1990-an menjadi 459 ekor berdasarkan sensus 2018. Populasi gorila lainnya yang berada di Pegunungan Virunga, wilayah yang mencakup Rwanda, Uganda, dan Republik Demokratik Kongo, juga mengalami peningkatan. Saat ini, total populasi gorila gunung di dunia mencapai 1.049 ekor. Peningkatan tersebut membuat status gorila gunung berubah dari sangat terancam punah menjadi terancam punah. Perubahan ini menjadi salah satu keberhasilan besar dalam upaya konservasi satwa liar. “Perjalanan gorila selama 30 tahun terakhir menjadi harapan bagi dunia konservasi yang sering menghadapi banyak kisah menyedihkan,” ujar Kalema-Zikusoka. Bagi Kalema-Zikusoka, keberhasilan terbesar bukanlah penghargaan internasional yang ia terima, melainkan melihat gorila gunung terus berkembang. “Saya selalu merasa bersemangat ketika mendengar ada bayi gorila gunung yang lahir. Itu memberi saya harapan bahwa jumlah mereka terus bertambah dan kita berhasil membawa mereka kembali dari ambang kepunahan,” katanya. Sumber: edition.cnn.com