PANDEGLANG, NETRALNEWS.COM – Tiga pekan bukan waktu yang panjang. Namun, bagi enam mahasiswa peserta BSI Explore 2026, 21 hari di Desa Ujungjaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten, meninggalkan cerita dan pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Program pengabdian yang dimulai pada 6 Agustus 2026 tersebut resmi berakhir pada 25 Agustus 2026. Selama berada di Ujungjaya, keenam mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga berinteraksi langsung dengan siswa, guru, perangkat desa, dan masyarakat. Mereka adalah Muthia Shabira Ramadhani, Nalen Indra Kusuma, Syahria Rahma Diena, Suci Ayuningtiyas, Nabila Belva Zerlina, dan Ryno Eko Nugroho. Rangkaian pengabdian diawali dengan keberangkatan dari Kampus Kramat 98 menuju Desa Ujungjaya. Setibanya di lokasi, kelompok melakukan koordinasi dengan perangkat desa, menyiapkan posko, sekaligus melakukan observasi untuk mengetahui kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Memasuki hari-hari berikutnya, aktivitas mulai diarahkan pada lingkungan sekolah dan masyarakat. Di SDN Ujungjaya 2, mahasiswa melakukan observasi pembelajaran dan berinteraksi dengan para siswa melalui kegiatan belajar, permainan, hingga pendampingan berbagai aktivitas sekolah. Bidang pendidikan menjadi salah satu fokus utama program BSI Explore 2026. Para mahasiswa memberikan kelas tambahan bagi siswa yang masih membutuhkan pendampingan dalam kemampuan membaca, menulis, dan berhitung atau CALISTUNG. Selain membantu kegiatan akademik, mahasiswa juga memberikan edukasi mengenai Pendidikan Anti-Bullying. Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak mengenali berbagai bentuk perundungan, memahami dampaknya, serta mengetahui cara mencegah dan menyikapinya. Program pengabdian tidak berhenti di ruang kelas. Kepedulian terhadap lingkungan juga menjadi bagian dari kegiatan mahasiswa. Para siswa diajak memanfaatkan limbah galon plastik menjadi bak sampah. Mahasiswa juga mengumpulkan cangkang kerang dari Pantai Cilintang untuk diolah menjadi berbagai kerajinan, seperti gantungan, bingkai foto, dan papan nama kelas. Kegiatan tersebut sekaligus mengajarkan bahwa benda yang selama ini dianggap sebagai limbah masih dapat memiliki nilai guna apabila diolah secara kreatif. Selama 21 hari berada di Ujungjaya, keenam mahasiswa juga membaur dalam berbagai aktivitas masyarakat. Mereka mendampingi latihan gerak jalan siswa dan ibu-ibu, mengikuti kegiatan peringatan 17 Agustus, senam bersama, kegiatan Pramuka, hingga terlibat dalam berbagai aktivitas keseharian warga. Interaksi tersebut perlahan membuat jarak antara mahasiswa dan masyarakat semakin dekat. Bagi Muthia Shabira Ramadhani, pengalaman selama tiga pekan di Ujungjaya bukan sekadar tentang menjalankan program kerja. Lebih dari itu, ia belajar bagaimana membangun kedekatan dengan lingkungan dan masyarakat yang sebelumnya sama sekali belum dikenalnya. “Awalnya kami datang sebagai orang asing yang belum mengenal lingkungan, anak-anak, guru, dan masyarakat di sana. Tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai merasa diterima dan nyaman bersama mereka,” ujar Muthia. Banyak momen sederhana yang menurutnya justru menjadi kenangan berharga. “Banyak hal yang menjadi kenangan, mulai dari mengajar, bermain dengan anak-anak, belajar bahasa Sunda, menjalankan program kerja, mengikuti kegiatan masyarakat, sampai makan bersama sambil menikmati keindahan pantai,” lanjutnya. Bagi Muthia, pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar pencapaian program. “Saya banyak belajar tentang kesabaran, kebersamaan, dan menghargai hal-hal sederhana. Saya datang sebagai orang asing untuk mengabdi, tetapi saya pulang membawa lebih banyak pengalaman, pelajaran, dan kenangan yang akan selalu saya ingat,” tuturnya. Memasuki minggu ketiga, rangkaian kegiatan mulai memasuki tahap akhir. Program-program yang telah direncanakan diselesaikan, sementara mahasiswa mulai mempersiapkan agenda perpisahan bersama pihak sekolah dan masyarakat. Salah satu momen perpisahan berlangsung di SDN Ujungjaya 2. Kegiatan tersebut diisi dengan upacara adat, penampilan tari Jaipongan, pembagian hadiah lomba 17 Agustus, serta penyerahan alat tulis kantor (ATK). Suasana semakin hangat ketika mahasiswa, siswa, dan guru mengikuti ramah tamah sebelum akhirnya berpisah. Perpisahan juga dilakukan bersama perangkat Desa Ujungjaya di Balai Desa. Pertemuan tersebut sekaligus menjadi penanda berakhirnya masa pengabdian enam mahasiswa BSI Explore 2026 di desa tersebut. Selama tiga pekan, berbagai agenda yang dijalankan tidak hanya menjadi bagian dari program kerja. Setiap kegiatan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar memahami kehidupan masyarakat, membangun komunikasi, bekerja bersama, sekaligus melihat langsung berbagai potensi yang ada di lingkungan desa. Dari ruang kelas, kegiatan lingkungan, hingga aktivitas bersama warga, seluruh pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengabdian yang tidak akan berhenti ketika mereka meninggalkan Ujungjaya. Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan pada 25 Agustus 2026, enam mahasiswa BSI Explore 2026 resmi menyelesaikan masa pengabdian mereka di Desa Ujungjaya. Tiga minggu berlalu, program telah selesai. Namun, 21 hari di Ujungjaya meninggalkan pengalaman, pelajaran, dan kenangan yang akan mereka bawa pulang.