SURAKARTA – Aku berusaha jalani hidup mengalir saja. Cita-citaku dari dulu hanya ingin mandiri. Aku lahir di KIA kecil di kota Solo Jawa Tengah. Di sebuah kampung di kota ini, teman mainku, juga teman sekolahku. Biasa anak anak kampung, sekolah tak jauh dari rumah supaya mudah terjangkau dan murah, tak perlu berkendara, cukup jalan kaki bersama teman, pulang pergi dari sekolah ke rumah. Lulus sekolah dasar, aku langsung melanjutkan ke bangku SMP. Itu juga tak jauh dari rumah dan cukup jalan kaki saja. Bisa dikatakan, aku tergolong bukan anak pandai, tapi juga bukan anak yang bodoh. Jadi, biasa-biasa saja. Hanya saja, aku memang suka berhitung. Ibuku suka beri aku latihan-latihan soal matematika untuk dipelajari di rumah. Sehingga, ketika aku lulus SMP, aku disarankan ntuk untuk masuk SMEA, sekolah kejuruan ekonomi jurusan tata buku. Aku jalani semuanya dengan cukup lancar. Setelah lulus SMEA, aku kuliah di Akademi Akuntansi Solo. Tiga tahun lamanya. Selama kuliah pun aku lancar sampai lulus. Setelah lulus, aku mulai melamar pekerjaan. Awalnya merasa kurang percaya diri, tapi lama-kelamaan tumbuh percaya diri. Mulanya aku melamar bekerja di pabrik bagian administrasi keuangan. Kala itu gajinya sangat kecil, namun aku jalani untuk cari pengalaman. Aku kemudian melamar kerja di kantor gereja dan diterima. Aku menangani bagian administrasi keuangan sesuai bidang yang aku pelajari di bangku kuliah. Ketika aku kerja di gereja, aku juga mengirim lamaran pekerjaan di perusahaan-perusahaan di Jakarta. Kemudian mulai ada panggilan dan seleksi karyawan. Aku berangkat ke Bekasi. Kala itu, kuberanikan diri ikut seleksi meskipun di hati aku merasa kurang percaya diri. Aku tetapkan hatiku untuk ikut dan hasil tak usah dipikirkan terlalu dalam, yang penting tes aja dulu. Puji syukur, teryata selama ikut dua kali tes, aku berhasil diterima bekerja sebagai staf accounting perusahaan minuman kemasan di Bekasi. Selama bekerja di perusahaan itu, aku belajar tentang praktik-praktik kerja accounting perusahaan secara lebih mendalam. Tiga tahun aku bekerja di situ, lalu aku mendapat tawaran di kantor lain, yaitu sebuah kantor Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Waktu itu kantornya ada di Pejompongan, Jakarta. Setelah kirim lamaran, aku menjalani tes. Saat itu, aku belum tahu banyak mengenai dunia LSM. Namun soal kerja-kerja accounting aku yakin paham. Aku jalani tes dua kali dan aku merasa cukup lancar. Dan benar, aku diterima. Senang sekali rasanya kala itu karena karena gajiku cukup baik di banding bekerja di tempat sebelumnya. Hanya saja, 3 bulan pertama, aku belum terima gaji secara penuh. Setelah melewati masa percobaan 3 bulan, baru penuh. Aku mantap dan terus bekerja di tempat ini. Selama bekerja di LSM ini, aku selalu berangkat pagi pukul 06.00 menuju ke Pejompongan. Kadang, aku nebeng kendaraan Bu Lekku yang kerja searah denganku. (Bersambung)