JAKARTA, NETRALNEWS.COM — Nama Ibnu Sina atau Avicenna dikenal luas sebagai ilmuwan muslim paling berpengaruh pada Zaman Keemasan Islam. Sosok kelahiran Afsyanah, dekat Bukhara, sekitar tahun 980 Masehi ini disebut-sebut sebagai “Bapak Kedokteran Modern”. Ibnu Sina menulis lebih dari 450 karya, dengan 240 judul yang masih bertahan hingga kini. Bidang yang digelutinya meliputi filsafat, kedokteran, astronomi, hingga sastra. Karya monumentalnya Al-Qanun fi al-Thibb atau The Canon of Medicine menjadi buku rujukan medis utama di universitas-universitas Eropa hingga abad ke-17. Sejak kecil, Ibnu Sina tumbuh dalam lingkungan intelektual. Pada usia 10 tahun ia sudah hafal Al-Qur’an dan literatur Arab. Ia kemudian mempelajari filsafat, logika Aristoteles, matematika, hingga ilmu kedokteran secara otodidak. Pada usia 18 tahun, ia sudah menguasai hampir semua cabang ilmu pengetahuan yang dikenal saat itu. Kariernya menanjak saat berhasil menyembuhkan penguasa Samaniyah, Nuh bin Mansyur, dari penyakit yang tak mampu ditangani tabib istana. Sebagai imbalannya, Ibnu Sina diberi akses ke perpustakaan kerajaan yang memperkaya pengetahuannya. Kehidupan politik yang bergejolak membuatnya kerap berpindah kota, dari Bukhara, Gurgan, Ray, hingga Isfahan. Meski demikian, ia tetap produktif menulis karya filsafat dan kedokteran. Dua karyanya yang paling berpengaruh adalah Kitab al-Syifa (Buku Penyembuhan) dan Al-Qanun fi al-Thibb. Ibnu Sina wafat di Hamadan, Persia (kini Iran), pada Juni 1037 Masehi di usia 58 tahun. Pemikirannya mengenai filsafat, logika, dan teologi Islam berpengaruh besar hingga berabad-abad kemudian, baik di dunia Islam maupun Eropa.