JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Judi online menjadi persoalan yang semakin perlu mendapat perhatian karena aksesnya dapat ditemukan melalui ruang digital yang setiap hari digunakan masyarakat. Anak muda yang awalnya hanya memiliki rasa penasaran dapat terdorong untuk mencoba setelah melihat berbagai promosi atau ajakan yang menawarkan keuntungan secara cepat. Dari sekadar mencoba, aktivitas tersebut dapat berkembang menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan. Besarnya Penggunaan Internet Besarnya penggunaan internet di Indonesia membuat persoalan ini semakin relevan untuk dibicarakan. Survei APJII pada 2023 mencatat bahwa 79,5 persen penduduk Indonesia telah menggunakan internet. Pada kelompok Generasi Z, angka penetrasinya bahkan mencapai 87,02 persen. Sementara itu, kelompok post-Z yang lahir setelah 2013 memiliki penetrasi internet sebesar 48,10 persen. Angka tersebut memperlihatkan betapa dekatnya generasi muda dengan dunia digital. Kondisi ini sebenarnya merupakan peluang yang baik apabila internet digunakan untuk kegiatan produktif. Namun, tingginya intensitas penggunaan internet juga berarti semakin besar kemungkinan anak muda menemukan berbagai jenis konten yang tidak sesuai dengan usia mereka, termasuk perjudian. Persoalan menjadi semakin serius karena tidak semua platform perjudian memiliki pengawasan usia yang kuat. Akibatnya, anak-anak dapat menemukan akses menuju judi online tanpa memiliki pemahaman yang cukup mengenai risiko yang mungkin mereka hadapi. Bukan Sekadar Persoalan Orang Dewasa Anggapan bahwa perjudian hanya menjadi masalah bagi orang dewasa perlu mulai ditinggalkan. Data yang disampaikan PPATK pada 2024 menunjukkan adanya pemain judi online dari kelompok usia yang masih sangat muda. Dari sekitar 4 juta pemain judi online yang tercatat, sekitar 80.000 orang atau 2 persen berada pada kelompok usia di bawah 10 tahun. Sementara itu, sekitar 440.000 pemain atau 11 persen berada pada rentang usia 10–20 tahun. Data tersebut menjadi tanda bahwa anak-anak dan remaja juga telah masuk dalam lingkaran persoalan judi online. Bagi kelompok usia yang masih berada dalam tahap perkembangan, keterlibatan dalam perjudian dapat membawa konsekuensi yang lebih panjang karena kebiasaan dan pola pikir mereka masih terus terbentuk. Mengapa Judi Online Menarik Perhatian? Salah satu daya tarik judi online terletak pada gambaran keuntungan yang dapat diperoleh dalam waktu singkat. Bagi sebagian anak muda yang belum memahami cara kerja perjudian, hal tersebut mungkin terlihat seperti kesempatan mendapatkan uang dengan mudah. Rasa penasaran juga dapat menjadi awal seseorang mencoba. Ketika percobaan pertama menghasilkan kemenangan, muncul kemungkinan keinginan untuk mengulanginya. Sebaliknya, ketika mengalami kekalahan, seseorang dapat terdorong untuk bermain kembali dengan harapan mendapatkan uang yang sebelumnya hilang. Siklus tersebut dapat membuat seseorang semakin sulit berhenti. Terlebih, penggunaan perangkat pribadi memungkinkan aktivitas perjudian dilakukan secara diam-diam dan berulang kali tanpa mudah diketahui orang lain. Dampaknya Tidak Berhenti pada Kehilangan Uang Kerugian finansial memang menjadi salah satu dampak yang paling mudah terlihat. Namun, persoalan judi online sebenarnya jauh lebih luas. Tekanan psikologis Kebiasaan berjudi dapat mengganggu kondisi psikologis seseorang. Kekalahan, rasa takut kehilangan uang, dan keinginan untuk terus bermain dapat memicu tekanan, kecemasan, bahkan depresi. Gangguan terhadap pendidikan Kehidupan pendidikan juga dapat ikut terganggu. Waktu dan perhatian yang seharusnya digunakan untuk belajar dapat beralih kepada aktivitas perjudian. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat menyebabkan konsentrasi dan prestasi akademik menurun. Masalah hubungan sosial Seseorang yang mulai mengalami masalah akibat judi online mungkin menjadi lebih tertutup, mudah terlibat konflik, atau berusaha menyembunyikan kebiasaannya dari keluarga dan teman. Ketika kebutuhan untuk berjudi semakin besar, persoalan keuangan juga dapat mendorong seseorang meminjam uang atau menjual barang miliknya. Mencegah Sebelum Menjadi Kebiasaan Menghadapi persoalan judi online membutuhkan lebih dari sekadar larangan. Anak muda perlu mendapatkan pemahaman mengenai bagaimana perjudian bekerja dan mengapa aktivitas tersebut dapat menimbulkan ketergantungan. Peran keluarga Keluarga memiliki peran penting dalam proses pencegahan. Orang tua perlu menciptakan komunikasi yang terbuka agar anak tidak merasa takut bercerita mengenai apa yang mereka temui di internet. Penggunaan perangkat digital juga perlu mendapatkan pengawasan yang sesuai dengan usia dan kebutuhan anak. Edukasi di sekolah dan kampus Di lingkungan sekolah dan kampus, edukasi mengenai literasi digital dapat menjadi salah satu langkah pencegahan. Anak muda perlu memahami bahwa kemudahan memperoleh sesuatu di internet tidak berarti sesuatu tersebut aman atau layak untuk dicoba. Tanggung jawab terhadap diri sendiri Anak muda juga perlu memiliki kemampuan melindungi diri. Mengatakan tidak terhadap ajakan berjudi, menghindari situs dan promosi perjudian, serta memilih kegiatan yang lebih positif merupakan bentuk perlindungan diri di tengah perkembangan dunia digital. Menjaga Generasi Muda di Era Digital Teknologi seharusnya menjadi sarana untuk membuka kesempatan, bukan jalan menuju kebiasaan yang merugikan. Maraknya judi online di kalangan anak muda menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi harus diiringi kemampuan menggunakannya secara bertanggung jawab. Data mengenai keterlibatan anak dan remaja menunjukkan bahwa persoalan ini telah menyentuh kelompok usia yang seharusnya mendapatkan perlindungan dan pendampingan. Karena itu, pencegahan perlu dilakukan bersama melalui keluarga, lembaga pendidikan, masyarakat, dan pemerintah. Melindungi anak muda dari judi online bukan berarti menjauhkan mereka dari teknologi. Justru, yang dibutuhkan adalah membekali mereka dengan pengetahuan, literasi digital, dan kemampuan mengambil keputusan agar dapat memanfaatkan teknologi tanpa mudah terjebak dalam aktivitas yang berpotensi merusak masa depan.