JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kalimat "maaf salah pencet" adalah salah satu kebohongan putih paling sering dipakai di era digital. Salah kirim foto? Maaf salah pencet. Ngintip story orang yang diam-diam dirindukan? Maaf, kepencet. Padahal jempol tahu persis apa yang dia lakukan. Frasa ini sudah seperti perisai sosial. Bukan karena kita benar-benar tidak sengaja, tapi karena kita tidak siap kalau ketahuan sengaja. Jadi daripada ribet menjelaskan, kita bungkus saja dengan kata maaf. Padahal hati kecil tahu: itu bukan salah pencet, itu niat tersembunyi yang akhirnya kebablasan. Lucunya, orang yang menerima alasan itu juga tahu. Tapi mereka pura-pura percaya, karena diam-diam mereka juga pernah melakukan hal yang sama. Seperti perjanjian tidak tertulis antar manusia, kita pura-pura tidak tahu, agar tidak perlu ribut tentang perasaan yang tidak terucap. Dalam dunia yang serba cepat, "salah pencet" jadi cara aman untuk mendekat tanpa terlihat terlalu ingin. Mencari perhatian, tapi bisa mundur cepat kalau responnya dingin. Seperti mengetuk pintu, lalu pura-pura lari kalau tidak ada yang buka. Akhirnya, mungkin kita semua cuma butuh satu hal, ruang untuk mendekat, tanpa takut dipermalukan. Dan ya, kadang alasannya cuma satu "Maaf, salah pencet" padahal hati sudah lama ingin bilang, “Aku kangen.”