JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dulu, sekitar tahun 1996 hingga awal 2000-an, ada sebuah pertunjukan menarik yang selalu dinanti warga Ampana menjelang Idul Fitri. Beberapa hari terakhir Ramadan menjadi momen yang istimewa karena masyarakat dari berbagai kalangan, tua maupun muda, berkumpul di Terminal Ampana untuk menyaksikan sebuah tontonan yang tidak biasa.Pertunjukan itu bukan sekadar hiburan. Bagi warga Ampana pada masa itu, ia menjadi bagian dari suasana Ramadan yang selalu dinantikan. Kini, kenangan tersebut mungkin terasa semakin jauh, tetapi justru semakin indah untuk dikenang. Ketika malam tiba dan warga telah melaksanakan salat Tarawih, langit gelap di sekitar Terminal Ampana tiba-tiba berubah warna menjadi jingga kemerah-merahan. Pemandangan itu membuat sebagian warga penasaran. Apakah terjadi kebakaran? Rasa penasaran pun membuat sebagian warga bergegas menuju Terminal Ampana yang diduga menjadi sumber cahaya yang membuat langit malam tampak kemerah-merahan. Semakin mendekati terminal, suasana justru semakin ramai. Terdengar suara riuh, sorak-sorai, siulan melengking, hingga teriakan penuh kegembiraan. Suasananya bahkan seperti sedang menyaksikan pertandingan olahraga yang menegangkan. Bagi pendatang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Kota Ampana pada masa itu, pemandangan tersebut tentu mengundang tanda tanya. "Kenapa orang-orang justru terlihat bergembira? Bukankah katanya ada kebakaran?" Rasa penasaran itu akhirnya terjawab setelah mereka bertanya kepada warga sekitar dan melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi di Terminal Ampana. Ternyata, bukan kebakaran. Warga sedang menyaksikan pertunjukan "Sepak Takraw Api". Ya, sepak takraw dengan bola yang menyala-nyala! Sepak takraw pada umumnya dimainkan menggunakan bola yang terbuat dari rotan dan sebuah net. Permainan ini memang dikenal dengan gerakan akrobatik para pemainnya yang mengandalkan kelincahan, keseimbangan, konsentrasi, dan keterampilan. Namun, yang berlangsung di Terminal Ampana menjelang Idul Fitri pada sekitar tahun 1996 hingga awal 2000-an itu jauh lebih ekstrem dan menegangkan. Bola takraw dimainkan dalam kondisi menyala, sehingga dikenal masyarakat sebagai sepak takraw api. Entah bagaimana persisnya teknik yang digunakan saat itu, bola takraw terlebih dahulu diberi minyak dan bahan tertentu sehingga api dapat berkobar di permukaannya dalam waktu yang cukup lama. Pemandangan tersebut tentu sangat luar biasa bagi siapa pun yang menyaksikannya secara langsung. Bola yang menyala-nyala itu berpindah dengan cepat dari satu kaki ke kaki pemain lainnya. Api berkobar di tengah permainan, tetapi para pemain tampak tenang dan tetap fokus memainkan bola. Para pemain biasanya membentuk lingkaran dan saling mengoper bola takraw menggunakan kaki, kepala, serta bagian tubuh lainnya, dengan satu tujuan: menjaga bola agar tidak jatuh ke tanah. Setiap gerakan menghadirkan ketegangan tersendiri. Satu kesalahan saja dapat membuat bola api terjatuh. Karena itu, permainan tersebut membutuhkan keberanian, kelincahan, konsentrasi, keseimbangan, serta keterampilan yang luar biasa dari setiap pemain. Bola takraw yang berkobar terang menjadi pusat perhatian. Dari permainan itu lahir berbagai macam ekspresi penonton: tawa, kegembiraan, rasa takjub, decak kagum, bahkan sedikit rasa ngeri. Semuanya bercampur menjadi satu dalam suasana malam Ramadan di Terminal Ampana. Sorak-sorai warga semakin membuat pertunjukan tersebut terasa seperti sebuah pertandingan besar. Anak-anak, remaja, orang tua, hingga para pendatang ikut larut dalam suasana. Kini, mungkin pertunjukan sepak takraw api tersebut tinggal cerita. Namun, bagi mereka yang pernah menyaksikannya, permainan itu bukan sekadar tontonan. Ia adalah potongan sejarah kecil dari kehidupan masyarakat Ampana. Ia adalah hiburan rakyat yang pernah menghidupkan malam-malam Ramadan. Dan yang paling penting, ia adalah memori masa lalu yang mungkin tidak akan pernah terulang dengan cara yang sama. Ada sebuah masa ketika sebuah bola api mampu mengumpulkan warga di satu tempat, menghadirkan kegembiraan, menciptakan rasa takjub, dan meninggalkan cerita yang terus dikenang hingga hari ini. Sepak Takraw Api di Terminal Ampana mungkin telah menjadi masa lalu, tetapi kenangannya tetap menyala—seperti bola api yang dahulu menerangi malam Ramadan.