LABUHANBATU UTARA - Lilin malam mulai mengalir dari ujung canting ketika para siswa kelas XII MAS Al Ridho mencoba membuat garis pertama di atas kain. Bagi mereka, aktivitas tersebut merupakan pengalaman baru. Tangan yang semula masih ragu perlahan mulai terbiasa mengikuti pola yang telah dibuat. Suasana itu menjadi bagian dari Workshop Batik Tulis yang diselenggarakan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Medan (UNIMED) di MAS Al Ridho, Desa Terang Bulan, Kecamatan Aek Natas, Kabupaten Labuhanbatu Utara. Kegiatan berlangsung pada 22, 23, dan 25 Juli 2026 silam diikuti oleh 19 siswa kelas XII dengan mengusung tema “Kreativitas Tanpa Batas, Melestarikan Identitas Bangsa”. Workshop tersebut tidak hanya memperkenalkan batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia. Siswa juga diberi kesempatan untuk mengenal alat dan bahan batik serta mengalami secara langsung proses pembuatan batik tulis, mulai dari membuat sketsa hingga tahap pelorodan. Kegiatan membatik menjadi salah satu cara untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berlangsung melalui penjelasan, tetapi juga melalui pengalaman langsung. Siswa diajak mengenal batik dengan cara mengamati, mencoba, dan menghasilkan karya sendiri. Dari Mengenal hingga Membuat Batik Kegiatan diawali dengan pengenalan batik. Siswa diperkenalkan pada batik tulis, alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembuatannya, serta fungsi masing-masing alat dan bahan tersebut. Pengenalan tersebut menjadi tahap awal sebelum siswa memasuki proses praktik. Setelah memahami dasar-dasar membatik, siswa mulai membuat sketsa motif flora pada kain. Motif tersebut menjadi pola yang nantinya akan diikuti ketika proses mencanting dilakukan. Tahap ini menjadi bagian penting karena ketepatan sketsa akan membantu siswa ketika menorehkan malam. Mereka perlu memperhatikan bentuk motif sekaligus mempertimbangkan garis yang akan dibuat agar pola dapat diterapkan pada kain dengan baik. Setelah sketsa selesai, siswa mulai mencanting. Dengan menggunakan canting yang telah diisi malam, mereka menorehkan lilin panas mengikuti garis-garis pada pola. Bagi siswa yang baru pertama kali mencanting, proses tersebut tidak selalu mudah. Malam harus ditorehkan dengan hati-hati agar alirannya dapat mengikuti pola. Siswa juga perlu menjaga tangan tetap stabil supaya garis yang dihasilkan tidak keluar dari sketsa. Di sinilah ketelitian dan kesabaran mulai teruji. Kesalahan kecil dalam mencanting dapat memengaruhi bentuk motif pada kain. Namun, proses tersebut justru menjadi pengalaman belajar bagi siswa untuk lebih berhati-hati sekaligus berani mencoba. Salah seorang peserta, Kesya Putria Ningsih Br Hasibuan, mengaku proses membatik terasa menyenangkan meskipun pada awalnya mengalami kesulitan. “Pertama-tama susah, tapi kalau sudah dicoba lama-lama bisa,” tutur Kesya sembari tersenyum. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keterampilan membatik tidak hanya diperoleh melalui penjelasan. Siswa membutuhkan kesempatan untuk mencoba secara langsung agar dapat memahami bagaimana malam ditorehkan pada kain. Setelah proses mencanting selesai, siswa melanjutkan karya ke tahap pewarnaan dan penguncian warna. Pada tahap ini, pola yang sebelumnya dibuat menggunakan malam mulai terlihat melalui perpaduan warna pada kain. Proses tersebut dilakukan secara bertahap hingga seluruh bagian yang diperlukan selesai. Setelah pewarnaan dan penguncian warna, karya kemudian memasuki tahap pelorodan pada 25 Juli 2026. Pelorodan menjadi tahap akhir dalam proses pembuatan batik pada kegiatan tersebut. Pada tahap ini, malam yang sebelumnya menempel pada kain dihilangkan sehingga pola dan warna batik dapat terlihat dengan lebih jelas. Kain yang pada awalnya masih kosong secara bertahap berubah menjadi karya batik melalui serangkaian proses yang mereka lakukan sendiri. Pengerjaan secara berkelompok juga memberikan pengalaman berbeda. Siswa perlu bekerja sama dalam menyelesaikan karya, mulai dari mempersiapkan bahan hingga menyelesaikan setiap tahapan. Proses tersebut membuat kegiatan membatik tidak hanya menjadi aktivitas keterampilan, tetapi juga menjadi ruang bagi siswa untuk belajar bekerja bersama. Sekolah Melihat Peluang untuk Melanjutkan Pelaksanaan workshop didampingi oleh tiga perwakilan mahasiswa KKN UNIMED, yakni Suci Rahmadani Br Padang, Ainaya Alfi Sihatin Siregar, dan Dea Santika Tri Wati. Ketiganya mendampingi siswa selama proses pembuatan batik berlangsung. Kegiatan tersebut mendapat tanggapan positif dari pihak sekolah. Siti Nurhaliza, salah seorang guru MAS Al Ridho, menilai workshop batik tulis memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan melalui kegiatan kreatif. “Menurut tanggapan saya, bagus karena kegiatan ini bisa mengembangkan pendidikan anak lebih lanjut. Harapan saya ke depannya kegiatan seperti ini bisa terus dilanjutkan dan dibuat lebih baik lagi,” ujar Siti Nurhaliza. Harapan untuk melanjutkan kegiatan membatik juga disampaikan Kepala MAS Al Ridho, Yuliana Roitona Hasibuan. Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh siswa melalui kegiatan tersebut dapat menjadi bekal untuk dikembangkan di lingkungan sekolah. “Adanya workshop ini alhamdulillah dapat menambah ilmu anak-anak. Mudah-mudahan ke depannya kita juga bisa menerapkan apa yang sudah diajarkan oleh kakak-kakak KKN. Tadi saya juga sudah meminta catatan kepada kakak-kakak KKN mengenai apa saja yang diperlukan, mudah-mudahan bisa kita terapkan ke depannya,” ujar Yuliana. Pernyataan tersebut menunjukkan adanya peluang agar kegiatan membatik tidak berhenti setelah program KKN selesai. Pengetahuan mengenai alat, bahan, dan proses yang telah diperkenalkan kepada siswa dapat menjadi dasar bagi sekolah untuk mengembangkan kegiatan serupa secara mandiri. Enam Karya Dibawa ke Ruang Publik Dari rangkaian workshop tersebut, dihasilkan enam karya batik siswa berukuran kurang lebih 50 x 50 cm. Karya dibuat secara berkelompok melalui tahapan yang telah dipelajari selama kegiatan. Karya-karya tersebut kemudian mendapat kesempatan untuk diperkenalkan kepada masyarakat melalui pameran di Lapangan Terang Bulan pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2026. Pameran menjadi bagian yang melengkapi pengalaman siswa dalam kegiatan tersebut. Jika sebelumnya mereka belajar membuat karya di lingkungan sekolah, karya yang telah selesai kemudian dapat dilihat oleh masyarakat dalam ruang yang lebih terbuka. Bagi siswa, pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa sebuah karya tidak berhenti ketika proses pembuatannya selesai. Karya dapat menjadi media untuk menunjukkan kreativitas sekaligus memperkenalkan pengetahuan tentang batik kepada orang lain.